Tradisi Lisan, Teka Teki di Indonesia dan contohnya
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pertanyaan Tradisional
Pertanyaan
tradisional atau yang lebih dikenal dengan teka-teki adalah pertanyaan yang bersifat
tradisional dan memiliki jawaban yang tradisional pula. Pertanyaan dibuat
sedemikian rupa, sehingga jawabannya sukar, bahkan seringkali baru dapat
dijawab setelah mengetahui lebih dulu jawabannya.[1]
Teka-teki adalah kalimat atau ungkapan yang disampaikan lewat bahasa tertentu
dan menuntut orang lain untuk menebak sesuatu (objek) yang dipertanyakan.
Pertanyaan
Tradisional adalah jenis budaya rakyat kuno yang berisi berbagai macam informasi
dan nilai yang beragam dengan fokus pada berpikir, meditasi dan kemampuan untuk
membedakan antara kata-kata yang bertentangan, baik bertentangan karakter dalam
sebuah kalimat atau teka-teki tunggal. Teka-teki dapat berupa wacana dialog,
puisi, tembang, gambar, atau simbol-simbol tertentu.
Menurut
Mooreis Bloomfield, Teka-teki muncul sejak zaman dulu saat akal manusia mulai
berinteraksi dengan yang ada disekitarnya. Ketika mereka menyadari dan menemui
fenomena-fenomena dan hukum-hukum alam sekitarnya. Dalam budaya Arab,
teka-teki telah dikenal sejak zaman kuno, ditemukan dalam puisi-puisi kuno,
serta terukir dalam patung-patung dan tulisan-tulisan kuno. Dan orang-orang
Arab menggunakan seni teka-teki untuk dipraktikkan pada berbagai waktu dengan
tujuan untuk ajang pamer kemampuan, untuk bersaing antara mereka sendiri dan
untuk memperhatikan jawaban dengan menunjukkan keterampilan mental dan kualitas
dari budaya mereka.[2]
Menurut
Robert A. Georges dan Alan Dundes teka-teki adalah “Ungkapan lisan tradisional
yang mengandung satu atau lebih unsur pelukisan (descriptive), sepasang
daripadanya dapat saling bertentangan dan jawabannya (referent) harus diterka.[3]
B. Pembagian Pertanyaan Tradisional
Menurut
Georges dan Dundes , teka-teki dapat digolongkan ke dalam dua kategori umum
yakni teka teki yang bertentangan dan teka teki yang tidak bertentangan,
pembagian itu ada atau tidaknya pertentangan antara unsur unsur pelukisan, teka
teki yang tidak bertentanagan unsur unsur pelukisannya dapat bersifat harfiah,
yakni apa seperti apa yang tertulis (literal) atau kiasan. Pada teka teki yang
tidak bertentangan, yang bersifat harfiah, jawab (referent) dan pertanyaannya
(topiknya) adalah identik.[4]
Berikut contoh teka teki
bertentangan dan yang tidak bertentangan:
1. Teka-teki
yang tidak bertentangan (nonppositional riddles).
·
Apa yang hidup di sungai? yang merupakan
pertanyaan, jawabannya adalah ikan. Dalam jenis teka-teki tesebut, keeduanya
secara harfiah memiliki kesamaan, yaitu ikan.
·
Apa itu dua baris kuda putih di atas
bukit merah? Yang merupakan pertanyaan, jawabanya adalah gigi
2. Teka-teki
yang bertentangan (oppositional riddles).
Teka-teki
bertentangan memiliki ciri adanya pertentangan antara paling sedikit sepasang unsur
yang pelukisannya (descriptive clements). Menurut George dan Dundes, ada 3
macam pertentangan yang berbeda pada teka-teki bertentangan dari tradisi lisan
oleh orang Inggris, yakni ;
(1)
Kontradiksi yang berlawanan (antiherical contradictive)
(2)
Kontradiksi yang mengurangi (privational contradictive opposition)
(3)
Kontradiksi yang menyebabkan (contradictive opposition).[5]
·
Saya kasar, Saya licin; saya basah,saya
kering; kedudukan saya rendah, gelar saya tinggi; raja saya adalah tuan saya
yang sah; saya dipakai setiap orang, walaupun hanya merupakan kepunyaannya,”
Jawabannya adalah highway: atau jalan raya modern seperti yang terdapat di
Amerika Serikat. Jadi fungsi dari kata “basah” dan “kering” digunakan untuk memperkuat,bukan
untuk menyangkal (antiherical contradictive)
·
Teka-teki yang berasal dari A.S ; Ia
mempunyai tangan, tetapi tidak dapat memegang.” Jawabannya adalah Jari-jari
lonceng (bersifat privational contradictive opposition) [6]
·
Suatu teka-teki juga dapat digolongkan
ke dalam teka-teki yang bersifat causal contradictive opposition, apabila
bagian pasangan unsur pelukisannya secara ekplisit mengingkari buatan yang
dilakukan oleh kepada benda yang terkandung di dalam unsur yang pelukisan
pertama yang diharapkan atau wajar. Contohnya dari foklor mahasiswa Jakarta;
·
“Apa yang menuju ke Monas setiap hari,
tetapi tidak meninggalkan jejak?” Jawabnya adalah jalan Monas (contradictive
opposition)
Sedangkan
menurut Archer Taylor di dalam bukunya yang berjudul English Riddle
tradition (1951), telah membedakan teka-teki dalam 2 golongan yakni
;
A. Teka-teki
yang sesungguhnya adalah perbandingan, diantara : (a) Jawab yang tidak
diberitahukan, dan (b) Sesuatu yang dilukiskan dalam pertanyaan. Pelukisan ini
biasanya mempunyai dua bagian yang agak umum dan yang lebih nyata tetapi
bersifat bertentangan. Contohnya dari AS. Adalah: “Nancy Eddicote, berpakaian
putih dan berhidung merah,” dilanjutkan dengan pelukisan yang lebih nyata,
tetapi bersifat bertentangan: “makin lama ia berdiri, makin pendek ia menjadi.”
Jawabnya adalah “lilin”
Taylor menyebut bagian yang agak umum dari pelukisan
sebagai description, sedangkan bagian yang lebih terang tetapi bertentangan
sebagai block (pembatas). Contoh lain teka-teki sesungguhnya adalah: “Perampok
memasuki rumah kami dan kami berada didalam” merupakan description. Lalu
dilanjutkan dengan: “Rumah kamu melompatkan jendela-jendelanya dan kami semua
terperangkap,” merupakan block. Jawabnya adalah: “ikan dalan jarring.” Dalam
teka-teki ini “rumah” mengibaratkan air, sedangkan “jendela” mata-mata jala
B. Teka-teki
yang tergolong bentuk-bentuk lainnya. Teka-teki yang termasuk dalam golongan
ini ada lima jenis, yakni: (1) Pertanyaan yang bersifat teka-teki (riddling
questions), atau disebut juga pertanyaan yang cerdik (clever questions),(2)
Pertanyaan yang bersifat permainan kata-kata (pinning), didalam bahasa inggris
jenis teka-teki ini seringkali disebut conundrum,(3) Pertanyaan yang bersifat
permasalahan (problem atau puzzle),(4) Pertanyaan perangkap (catch question)
dan (5) Pertanyaan yang bernada lelucon (riddle joke).
1) Pertanyaan
yang bersifat teka-teki (riddling questions), adalah teka-teki yang jawabannya
tidak dapat diramalkan sebelumnya. Contohnya “Garam apa yang tidak asin?”
Jawabnya: “Garam Inggris (magnesium sulfate Epsom salt).”
2) Pertanyaan
yang bersifat permainan kata-kata (pinning),adalah teka-teki yang berbentuk
dari permainan kata-kata dengan lucu. Kata yang dipergunakan sama, namun
mempunyai arti yang berbeda. Contohnya teka-teki mahasiswa Jakarta yang
berbunyi: “Apa yang dipegang terbang, diikat terbang, diinjak terbang, disimpan
dalam laci juga terbang?” Jawabannya adalah “Terbang!”. Terbang dalam teka-teki
ini bukan berarti “melayang di udara”
melainkan “alat musik yang berupa gendang pipih, yang hanya diberi kulit pada
sebelah bagiannya saja.”
3) Pertanyaan
yang bersifat permasalahan (problem atau puzzle) adalah teka-teki yang
berhubungan dengan kitab injil, ilmu hitung, silsilah, atau pertanyaan praktis.
Sifat pertanyaan dapat bersungguh-sungguh, atau hanya untuk mengganggu orang
lain saja. Contoh teka-teki jenis ini yang bersifat ilmu hitung, adalah sebagai
berikut: “jika untuk membuat satu lubang sebesar empat sentimeter seekor burung
pelatuk memerlukan waktu sepuluh menit, maka berapa jamkah yang diperlukan
seekor belalang untuk memindahkan sebukit biji-bijian?” jawabnya: “Tidak ada
jawabnya, tolol!”.
4) Pertanyaan
perangkap (catch question) adalah teka-teki bentuk lain yang dipergunakan untuk
memebuat orang yang kurang waspada malu karena terpedaya. Contohnya adalah
pernyataan yang sering diajukan para remaja pria A.S. pada suatu pesta kepada
kawan-kawannya yang masih gadis, yang berbunyi demikia: “Tahukah engkau apa
yang dimakan untuk sarapan pagi seorang perawan?” jika si gadis kurang waspada
maka ia akan menjawab sambil membalas bertanya dengan lugu: “Tidak tahu! Apa
ya?”. Akibatnya ia akan ditertawakan kawan-kawannya yang nakal yang mengetahui
teka-teki itu, karena dengan jawaban “Tidak tahu” berarti ia sudah tidak
perawan, menurut logika anak-anak bandel itu, seorang perawan harus tau apa
yang menjadi sarapan pagi seorang perawan.
Pertanyaan
yang bernada lelucon (riddle joke). Di A.S. teka-teki yang termasuk jenis ini
adalah yang disebut moron jokes, yakni lelucon mengenai orang idiot. Contohnya:
“mengapa anak idiot itu melubangi permadani?” Jawabnya untuk menonton
pertunjukan dibawah panggung (floor show)!” teka-teki ini menjadi kocah,
apabila kita mengetahui bahwa si bego mengira dengan jalan melubangi permadani
ia akan mencapai lantai, sehingga dapat langsung menyaksikan pertunjukan, yang
langsung diadakan di lantai dan bukan di atas panggung
C. Manfaat Pertanyaan Tradisional
Beberapa
fungsi teka-teki menurut Alan Dundes diantaranya;[7]
1) Untuk
menguji kepandaian seseorang
Fungsi
Pertama untuk menguji “ kepandaian” seseorang . kami menyebutkan
kepandaian seseorang dan bukan kecerdasan seseorang karena dalam kenyataan
banyak teka-teki tidak dapat dijawab dengan daya berpikir saja, melainkan
jawabannya harus diketahui dahulu. Memang untuk menguasai pengetahuan suatu
koleksi teka-teki, kita bukan saja harus mengetahui pertanyaannya, melainkan
juga harus sekaligus mengetahui jawabannya. Hal ini disebabkan kebanyakan yang
dilukiskan didalam pertanyaan bersifat metaforik (kiasan). Akibatnya hampir
tidak mungkin bagi seorang untuk dapat menjawab suatu teka-teki tanpa pernah
mengetahui terlebih dahulu jawabannya yang tepat. Oleh karena itu orang yang
paling banyak mengetahui teka-teki akan mendapatkan kepuasan, karena akan
terkenal sebagai seorang yang berpengeetahuan luas mengenai folklor. Hal ini
menjadi akan lebih penting lagi apabila ia berdiam didalam masyarakat
tradisional.
2) Untuk
meramal
Fungsi
kedua untuk meramal (divination). Di beberapa negara teka-teki juga berfungsi
untuk meramalkan suatu hal. Seperti di Spanyol dan Cina. Di Indonesia sendiri
sebagai contoh misalnya ramalan Jayabaya yang pada hakikatnya merupakan
teka-teki yang harus di terka.
3) Sebagai
bagian dari upacara perkawinan
Fungsi
ketiga teka-teki merupakan bagian upacara perkawinan. Di Rusia teka-teki tertentu
di ajukan oleh pihak wanita kepada pihak pria. Mempelai pria baru boleh
mengambil calon istrinya bila ia dapat menjawab pertanyaan tersebut.
4) Untuk
mengisi waktu pada saat begadang menjaga jenazah
Fungsi
keempat teka-teki untuk mengisi waktu pada saat bergadang menjaga jenazah yang
belum dimakamkan.
5) Untuk
dapat melebihi orang lain
Fungsi
kelima adalah untuk melebihi orang lain (one ompmanship). Menurut Alan Dundes
fungsi ini merupakan fungsi utama teka-teki, hal ini juga berlaku di Indonesia.
D. Bentuk Teka teki Indonesia
Teka-teki diindonesia sendiri sudah berkembang dari zaman
dahulu di tiap-tiap wilayah nusantara. Teka-teki di Nusantara juga hadir dalam
berbagai bentuk. Dijawa, teka-teki bernama Cangriman, Wangsalan, dan Tembang.
Cangkriman adalah pertanyaan tradisional yang membutuhkan terkaan. Cangkriman cukup menggelitik dan
membuka wawasan pikiran.[8]
Contoh teka teki di jawa:
·
Abang-abang
dudu kidang, pesegi dudu pipisan (merah bukan kijang, pesegi bukan
alat penggiling jamu). Jawaban: batu bata.
·
Hewan,
hewan apa seng hurupe siji tok (hewan, hewan apa yang hurufnya
cuman satu). Jawabanya: en tok (N doang)
·
Anak
e di pidak, mamak e di elus (anaknya di pinjak ibunya di elus)
jawabannya adalah tangga.
Istilah
bahasa Sunda untuk teka-teki adalah tatarucingan. Contohnya:
·
Siduru
bari luluncatan, heunteu siduru hees. (Jika menghadapi api melonjak-lonjak, jika tidak ia
tidur). Jawabannya adalah Kipas Sate.
Contoh
teka teki jawa cirebonan:
·
Bapane
lagi ngudud, emboke lagi njait, anake nangis ( ayahnya ngerokok, ibunya
menjahit, anaknya menangis) jawabannya: kereta api
·
Jaroe
neraka, jabae surge (dalamnya neraka, luarnya surga) jawabannya: kedondong
Contoh
teka teki bahasa bima(NTB):
·
Ndai lampa na batu, ndai peko sia
rau peko
jawabannya Ninu (kita berjalan di
ikut, kita membelok dia juga membelok) jawabannya: Bayagan
Istilah
bahasa Aceh/Gayo untuk teka teki adalah etek
eteken. Contohnya:
·
Tulu Genap Opat Ganyil Hana bene e jawabanya keliliken
(tiga cukup empat ganjil apa bendanya) jawabannya tempat masak butunya tiga
·
I rongok lagu anak nagka jawabannya
wah kuldi (di leher
anak anagka) jawabannya: buah kuldi
·
I was e busa iarape meja Jawabannya
Kersi
(didalamnya busa didepannya meja) jwabannya Kursi
·
I was e serge, I deret e rui
jawabnnya doren
(didalamnya surge di luarnya duri) jawabannya Durian
·
I toyoh e umah , I atase pondasi
jawabnnya kuburen
(dibawah rumah, diatas pondasi) jawabannya Kuburan
Istilah bahasa Bali untuk teka-teki adalah cicempedan,
cecangkriman, dan bladbadan. Contohnya :
·
Naon
ke ulung nyaputin ibana? (Apa yang menutupi dirinya dengan selimut ketika jatuh?
Durian.
Di
dalam khasanah tradisi lisan Madura teka-teki ini disebut “bhak-tebbhaghan”.Teka-teki
Madura merupakan bagian dari sastra Madura, dan termasuk dalam bentuk lalongĕt. Keberadaan
teka-teki Madura saat ini sudah mengalami pergeseran. Menurunnya minat
masyarakat terhadap aset budaya (tradisi) diantaranya disebabkan oleh masuknya
budaya asing yang lebih menarik minat, dan tidak ada rasa bangga terhadap
budaya daerah yang dimiliki.[9] Contoh teka teki Madura:
·
Ngalakonih apah seekabecih allah ben
seekabejih satan
(pekerjaan apa yang di benci allah dan setan) jawabannya ngezina istri setan
·
Embu’un takok ka kelap ana’an Bengal
ka kelap jawabannya ubih
( ibunya takut ke petir, anaknya berani ke petir) jawabannya ubi
[1]James Danandjaja, Folklor Indonesia (Jakarta: PT. Pustaka
Utama Grafiti, 1984), hlm. 33.
[3]James Danandjaja, Folklor Indonesia, hlm. 33.
[8]Wawancara dengan Rafiq Aji
Prayogo di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 3 Maret 2019. Jam 11.00
Komentar
Posting Komentar