INVASI DINASTI GHAZNI DAN GHURI
Dinasti Ghaznawiah
A.
Sejarah
berdirinya Dinasti Ghaznawiah
Kata Ghaznawi diambil dari nama salah
satu kota di Kabul dalam wilayah Afghanistan Timur, yaitu kota kecil yang
bernama Ghazna. Disanalah pusat pemerintahan Dinasti Ghaznawi. Lahirnya dinasti
ini dilatar belakangi oleh peran seorang keturunan budak Turki bernama Alptigin
yang begitu setia dan diberi kepercayaan oleh Abdul al-Malik bin Nuh selaku
penguasa Dinasti Samaniyah pada waktu itu.
Abdul al-Malik bin Nuh memberikan kepercayaan kepada Alptigin
sebagai pengawal kerajaan, setelah itu karirnya meningkat jadi komandan
pengawal dan akhirnya dia diangkat oleh Abdul al-Malik menjadi menjadi gubernur
di Huriah, Khurasan. Setelah Abdul al-Malik bin Nuh meninggal dunia, Dinasti Samaniyah
dipimpin oleh Mansyur bin Muhammad. Ketika itu terjadi perselisihan Alptigin
dengan penguasa Samaniyah, Mansyur bin Muhammad, maka karena ketidaksenangan Alptigin
ia pergi ke sebelah timur perbatasan kerajaan dan kemudian ia menyerang kota Ghazna
pada tahun 962 M dan berhasil merebutnya.
Setelah Alptigin wafat, kekuasaan
beralih kepada menantunya yang bernama Sebuktigin yang diangkat menjadi oleh
tentara Turki menjadi penguasa di Ghazna pada tahun 977 M. Kendatipun
Sebuktigin menjadi penguasa di Ghazna tetapi ia masih merasa berada dibawah kekuasaan
Dinasti Samaniyyah, ini terbukti dari mata uang yang dibuat atas namanya
sendiri dan nama Mansyur ibn Muhammad.
Sebuktigin dikenal sebagai seorang
penguasa yang arif dan bijaksana, administrator ulung yang sangat di senangi
oleh para pembantunya dan disegani oleh para koleganya. Setelah Samaniyyah
runtuh, Ghaznawi secara resmi mendapat restu (legitimasi) dari khilafah
Abbasiyah di Baghdad dan justru diberi gelar kehormatan Nashir ad-Dawlah
(penolong pemerintah). Dengan demikian dialah penguasa resmi yang mendapat
legitimasi Dinasti Ghaznawi.
Ketika kembali mempelajari sejarah bahwa
munculnya Dinasti Ghaznawi saling terkait dinasti-dinasti sebelumnya mulai dari
Dinasti Buwaihi yang penganut-penganut papan atas pengikut Mukta’zilah
menduduki posisi penting di kesultanan sehingga hampir otomatis
aktifitas-aktifitas penganut Asy’ariah tertekan hingga Dinasti Buwaihi digulingkan
oleh Tughril dari Dinasti Saljuk pada 1055 M, bahkan Abu Nasr Muhammad bin
Mansyur Al Kunduri (Wafat 456 H).[1]
Kebangkitan Dinasti Ghaznawi
mempresentasikan kemenangan pertama Turki dalam persaingan dengan Iran untuk
mencapai kekuasaan dalam Islam. Ghaznawi tidak ditopang dengan angkatan
bersenjata, maka semuanya segera menemui kehancuran. Wilayah kekuasaan
disebelah timur berangsur-angsur memisahkan diri dan muncullah dinasti-dinasti
muslim independen, di utara dan barat seperti Dinasti Khan dari Thurkistan dan
Saljuk dari Persia.
Ghaznawi adalah nama sebuah dinasti yang
berpusat di kota Gazna dan berkuasa di wilayah Afghanistan dan India Utara.
Dinasti itu didirikan oleh Subektegin, yang berasal dari Turki menjadi panglima
dan gubernur Bani Saman. Dinasti itu berusia lebih dari 200 tahun (366 H/977
M-582 H/1186 M) di Iran Timur dan di wilayah yang sekarang menjadi Afghanistan
sehingga waktu yang lama, amir Gaznawi menyandang gelar amir, sekalipun
sejarawan menyebut mereka sultan.[2]
Alibtakin adalah seorang dari mantan
budak orang-orang Turki yang memiliki posisi terhormat di kalangan Samaniyun.
Dia diangkat sebagai penguasa di kota Herat dan Ghaznah. Mulailah pamornya
mencorong dan mendirikan pemerintahan. Wilayah pemerintahannya meluas ke
Afghanistan, Punjab dan Pakistan. Pada tahun 366-387 H/976-997 M, yang berkuasa
adalah seorang Mamluk dikenal dengan sebutan Sabaktakin, seorang panglima
perang Alibtakin yang kemudian dinikahkan dengan putrinya. Dia sebenarnya
dianggap mendirikan pemerintahan ini dalam bentuk yang sebenarnya. Pengaruhnya
meluas hingga ke Timur dan menjadikan Peshawar sebagai ibu kota negaranya.
Sultan Mahmud al-Ghaznawi digantikan oleh anak-anaknya, Ismail kemudian Mahmud,
Mahmudlah yang dianggap sebagai sultan paling terkemuka dalam pemerintahan
Ghaznawiyah. Dia menyerang Samaniyun dan mengalahkan mereka sehingga menguasai
Khurasan.
Oleh karena itu, pemerintahannya menjadi
besar di kawasan dunia Islam bagian Timur. Setelah itu, melakukan penyerbuan ke
India dan berhasil menaklukkan beberapa kota dan menjadikan penduduknya memeluk
Islam. Sultan Mahmud berhasil menghancurkan berhala-berhala. Dia adalah
penguasa muslim pertama yang berhasil menguasai sebagian besar wilayah India,
kemudian menguasai Kashmir dan sebagian besar kawasan Asia Tengah, Asfahan dan
sebagian besar Iran.[3]
Mahmud al-Ghaznawi dikenal sebagai
penguasa yang adil, sangat cinta, menghormati ilmu dan ulama. Sultan Mahmud
memiliki dua anak, Mas’ud dan Muhammad. Sultan memberikan wasiat bahwa yang
berkuasa setelah dirinya adalah anaknya yang bungsu (Muhammad). Kebijakan ini
menimbulkan peperangan sengit antara dua orang bersaudara. Kemudian,
pemerintahan ini menjadi lemah hingga akhirnya berhasil dihancurkan oleh
orang-orang Saljuk dan orang Ghauri.
Kondisi itulah yang mendorong penguasa
di daerah maju selangkah membentuk pemerintahan otonom yang secara duniawi
telah merdeka, tetapi dari aspek agama masih mengakui kekhalifahan ‘Abbâsiyah
di Baghdad. Penguasa daerah yang muncul sebagai pemerintah otonom adalah Dinasti
Samaniyah di Transoxania dan Dinasti Ghaznawi di Afghanistan.
Cikal bakal berdirinya Dinasti Ghaznawi
diawali oleh Alpatigin (seorang keturunan Turki yang menjadi perwira militer
pada Dinasti Samaniyah di Transoxania Asia Tengah). Ia diangkat sebagai
gubernur di Khurasan Asia Tengah pada tahun 955 M. Pada tahun 962 M Alpatigin
melakukan ekspansi ke arah timur, tepatnya ke Afghanistan bagian timur. Wilayah
ini Alpatigin berhasil menaklukkan dan menguasai kota Ghazna beserta
daerah-daerah di sekelilingnya.
Pada tahun 963 M Alpatigin meninggal
dunia dan digantikan oleh anaknya yang bernama Ishâq. Ishâq yang kurang cakap
dalam memerintah akhirnya harus merelakan tahta kekuasaanya jatuh ke tangan
keturunan Turki yang lain, yaitu Baltigin yang kemudian digantikan pula oleh
Piri. Tahun 977 M Piri diserang oleh seorang perwira yang bernama Sabuktigin,
tidak lain adalah menantu dari Alpatigin. Sabuktigin selanjutnya berkuasa
sampai tahun 997 M.
Sabuktigin memiliki power dan kekuasaan,
dia masih menganggap kekuasaannya berada di bawah Dinasti Samaniyah. Buktinya
pada tahun 933 M dia masih mau memberikan bantuan militer kepada Dinasti
Samaniyah dalam menghadapi pemberontakan. Anaknya yang bernama Mahmud
dibiarkannya menjadi gubernur Khurasan di bawah Dinasti Samaniyah. Sehingga,
sejak dari Alpatigin sampai Sabuktigin dan para penggantinya tetap dianggap
sebagai gubernur. Walaupun ada juga perwira yang melakukan desersi terhadap
dinasti tersebut, tetapi secara umum dianggap bahwa Ghazna adalah bagian dari
wilayah Dinasti Samaniyah.
Para sejarawan berbeda pendapat dalam
menentukan siapa sebenarnya yang mendirikan Dinasti Ghaznawi. Jurji Zaidan
menganggap Alpatigin sebagai pendiri Dinasti Ghaznawi, sedangkan Philip K.
Hitti berpendapat bahwa Sabuktigin adalah the real founding Dinasti Ghaznawi. Kedua
pendapat tersebut dapat dibenarkan, paling tidak Alpatigin adalah sebagai
perintis berdirinya dinasti Ghaznawi, sementara Sabuktigin mampu membentuk
kekuatan dinasti yang mapan dan wilayah yang luas sehingga kemudian diakui
keberadaannya oleh Baghdad.
Masa pemerintahannya, Sabuktigin mampu
memperluas daerah kekuasaannya sampai daerah perbatasan India. Bahkan dia dapat
mengalahkan Raja Jaipal dari Dinasti Rajput di Punjab dalam dua kali
penyerangan, kemudian menguasai daerah perbatasan Kabul. Pada tahun 997 M,
Mahmud melanjutkan penaklukan Samaniyah yang telah dilakukan ayahnya. Kerajaan
Ismaili, Sindh, dan Buwayhid bisa dikatakan, pada masa pemerintahan Mahmud,
dinasti ini mencapai puncak kejayaannya. Mahmud mengadakan ekspedisi ke Utara India
selama 17 tahun dan mendirikan kotanya di sana.
Dari perbatasan Kurdistan ke Samarkand,
dari Laut Kaspia ke Vamuna, Ia menciptakan wilayah kekuasaan baru. Kekayaan
yang ia bawa dari ekspedisi India ini sangatlah berlimpah. Namun, setelah
dirinya wafat, tidak ada satu sultan pun yang dapat menjadikan dinasti ini
mencapai kejayaannya seperti yang dilakukan Mahmud. Di bawah kepemimpinan anak
Mahmud. Masud I, dinasti ini kehilangan kepercayaan dirinya. Pada masa Masud,
sebagian teritorial di bagian barat direbut oleh dinasti Saljuk pada
pertempuran yang menyebabkan pembatasan kekuasaan.
Setelah Sabuktigin wafat pada tahun 977
M/387 H, pemerintahan dipegang oleh putranya Ismail Ibn Sabuktigin. Ismail
hanya memerintah hanya tujuh bulan, dia dinilai lemah dan kemudian digantikan
oleh saudaranya Mahmud ibn Sabuktigin yang sebelumnya adalah gubernur Khurasan.
Mahmud Ibn Sabuktigin adalah tokoh terbesar dalam sejarah perkembangan Dinasti
Ghaznawi, dia terkenal dengan gelar Sultan Mahmud al-Ghaznawi (387-421 H /997–1030
M). Pada masa 30 tahun pemerintahan Sultan Mahmud al-Ghaznawi, banyak membawa
perubahan kemajuan di berbagai aspek. Seperti bidang politik, ekonomi, ilmu
pengetahuan dan sastra.
Dinasti Ghaznawi dipimpin oleh 19
orang. Sultan yang bergelar Nashir ad-dawlah yaitu :
1. Nashir
ad-Dawlah Sebuktigin (gubernur atas nama Dinasti Samaniyah) (366-977)
2. Isma’il
(387-997)
3. Yamin
ad-Dawlah Mahmud (388-998)
4. Jalal
ad-Dawlah Muhammad (memerintah pertama kali (421-1030)
5. Syihab
ad-Dawlah Mawdud (432-1041)
6. Muhammad,
memerintah ke dua kali (432-1041)
7. Syihab
ad-Dawwlah Mawdud (432-1041)
8. Mas’ud
2 (441-1050)
9. Baha’
ad-Dawlah Ali (441-1050)
10. ‘Izz ad-Dawlah Abdur Rasyid (441-1053)
11. Qiwan ad-Dawlah Toghril, pengambil alih
kekuasaan (444-1053)
12. Jamal ad-Dawlah Farrukhzad (444-1053)
13. Zhahir ad-Dawlah Ibrahim (451-1059)
14. ‘A’la ad-Dawlah Mas’ud 3 (492-1099)
15. Kamal ad-Dawlah Syirzad (508-1115)
16. Sulthan ad-Dawlah Arslan Syah (509-1115)
17. Yamin ad-Dawlah Barham Syah (512-1118)
18. Mu’iz ad-Dawlah Khusraw Syah (547-1152)
19. Taj ad-Dawlah Khusraw Malik penakluk Ghuriyah
(555-582/1160-1186)
B.
Kemajuan
Dinasti Ghaznawiah
Masa
pemerintahan Dinasti Ghaznawi dimulai tahun 366-582 H/ 977-1186 M di
Afghanistan dan India Utara. Dalam rentang waktu yang cukup panjang itu, lebih
kurang selama 200 tahun, Dinasti Ghaznawi dipimpin oleh 19 orang sultan yang
diawali oleh Sebukgtigin sampai pada Khusran bin Malik Sultan yang terkahir.
1. Aspek
Politik
Kemajuan
yang dicapai dinasti Ghaznawi, terutama di bawah pemerintahan Sultan Mahmûd
al-Ghaznawi dapat dilihat dalam beberapa aspek. Pada masa Sabuktigin, wilayah Dinasti
Ghaznawi diperluas dengan ditaklukannya beberapa wilayah di Sijistan dan
Kusdar. Disamping itu ia mampu mempertahankan Transoxania dan Iran bagian barat
dari serbuan Bani Saljuk.[4]
Dalam
pemerintahan Sultan Mahmûd al-Ghaznawi, kemajuan bidang politik mencapai
puncaknya. Ghazna yang semula adalah kerajaan kecil, yang di sana-sini terdapat
reruntuhan bangunan akibat perang, ia bangun kembali menjadi kota yang megah
yang kelak menjadi pusat kebudayaan dan,
perkembangan ilmu pengetahuan. Kerajaan
tersebut menjadi luas, dari pinggir laut Kaspia di utara hingga Sungai Gangga
di India, dari sungai Ozus di Amudarya (Asia Tengah) sampai sungai Indus
(pesisir selatan India).[5]
Sultan
Mahmûd al-Ghaznawi adalah panglima perang perkasa, dia lebih banyak berada di
medan perang daripada duduk di istana kebesarannya. Sejarah mencatat, lewat
peperangan yang dilakukan, dia mampu menaklukan wilayah Khurasan (1012 M),
dataran tinggi Pamir (1000 M), Peshawar, Khasmir dan Bathinda (1004 M), Punjab
(1006 M), Kangra (1009), Delhi (1015), Mathura, Kanauj (1019), dan Gujarat
(1026).[6]
Sejak
tahun 1009 M Sultan Mahmûd memusatkan perhatian untuk menaklukkan anak benua
India, yaitu Somnat, tempat pujaan umat Hindu dalam wilayah Gujarat
(Khatiawar). Di Somnat Sultan Mahmûd membinasakan kerajaan Gurajat dan
menghancurkan Pagoda yang amat terkenal dengan keindahannya, sehingga Sultan
Mahmûd sang penakluk digelari “The Idol Brooker” (penghancur berhala). Begitu
besar dan bernilainya kuil suci itu bagi umat Hindu, sampai 2000 orang Brahmin
dibutuhkan untuk merawatnya. Selanjutnya Sultan Mahmûd mengganti agama Brahmana
dengan Islam.[7]
Boleh
dikatakan pada masa itu dibuat pertama kalinya Islam mampu menguasai anak benua
India. Diperkirakan selama pemerintahan Sultan Mahmûd telah melakukan 17 kali
ekspedisi untuk memperluas daerah kekuasaannya. Keberhasilan Sultan Mahmûd
dalam melakukan perluasan wilayah kekuasaan dan membangun kekuatan militer dan
politik, membuat khalifah ‘Abbâsiyah di Baghdad Al-Qadîr Billâh memberikan
penghargaan kepadanya dengan gelar Yamîn ad-Dawlah.[8]
Prestasi
Sultan Mahmûd yang gemilang tersebut di samping buah dari kecakapannya
memerintah, juga ditunjang oleh beberapa faktor, antara lain adalah:
1) Faktor
geografis, Ghazna sebagai ibukota terletak di dataran tinggi yang amat srategis
untuk mengamati dan mengontrol lalu lintas ke India;
2) Pertentangan
antara raja-raja di India, sehingga mereka tidak mempunyai kesatuan dalam
menghadapi serangan Sultan Mahmûd, seperti yang terjadi pada masa pemerintahan
Sabuktigin ketika ia menaklukan Punjab dari dinasti Rajput;
3) Faktor
ideologis tentara Mahmûd yang didorong oleh semangat jihad dan kefanatikan
terhadap pemimpin yang kharismatik. Di samping itu mereka juga mengharapkan
ghanîmah, harta rampasan perang yang tidak sedikit.
2. Aspek
Ekonomi
Penaklukan
terhadap daerah-daerah yang kaya dan subur memberikan dampak yang sangat besar
terhadap kemajuan Dinasti Ghaznawi di bidang ekonomi. Harta rampasan yang melimpah
dan restribusi pajak yang dikumpulkan dari seluruh daerah taklukan, mampu
menghidupkan berbagai aktivitas perekonomian, sehingga tidak berlebihan bila
dikatakan dinasti ini menjadi kerajaan yang makmur. Kemajuan bidang ekonomi
sudah barang tentu memberi dampak yang tidak kecil terhadap perkembangan
peradaban, kebudayaan, ilmu pengetahuan, termasuk di bidang militer.
3. Aspek Ilmu Pengetahuan dan Sastra
Kemajuan
di bidang pengetahuan yang dicapai Dinasti Ghaznawi salah satunya merupakan
buah dari kebijakan Sultan Mahmûd yang memaksa para sarjana kenamaan untuk
tinggal dan berkarya dalam wilayah pemerintahannya. Bahkan banyak yang di
tempatkan di istananya. Hebatnya kebijakan itu diiringi dengan pemberian
fasilitas yang cukup bagi mereka untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan
sastra.[9]
Untuk itu Sultan Mahmûd menyediakan anggaran yang tidak kecil. Tidak kurang
dari 400.000,- ringgit emas setiap tahun disediakan untuk keperluan pendidikan,
termasuk di antaranya untuk para penyair dan kaum terpelajar. Dan pada masa itu
juga sering mengadakan seminar tentang ilmu pengetahuan dengan mengundang
pakar, ilmuwan. Sarjana dan para cendekiawan untuk berpartisipasi dalam seminar
tersebut, dan seluruh pembiayaan di tanggung kerajaan.
Sultan
Mahmûd juga membangun perguruan tiggi yang diberi nama Unsuri, yang kemudian
ternyata mampu mencetak banyak sarjana dalam berbagai disiplin ilmu
pengetahuan. Keberhasilan ini membuat nama Sultan Mahmûd menjadi harum dalam
sejarah perkembangan ilmu pengetahuan pada abad ke-11 Masehi. Penyair-penyair
yang lahir pada masa pemerintahan Sultan Mahmûd yang terkenal di antaranya
adalah As’adi Thûsiy, guru dari al-Firdawsi, sastrawan yang dikenal lewat
karyanya Syah–mana dan al-Farukhi,[10]
keduanya menetap dan berkarya di Ghazna. Ilmuwan lain yang terkenal di
antaranya adalah Rayhân Muhammad al-Birûni (973-1048 M), yang telah menulis
berbagai kitab dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan, seperti Ilmu Alam, Matematika, Astronomi, Sejarah,
dan lain lain. Karyanya yang termasyur adalah Tahqîq fî al-Hind (penelitian di
India).[11]
Abu
al-rayhan muhammad bin ahmad al-bairuni (973) M. Lahir di kota kath, ibu kota
khwarizm daerah amu darya sebelah selatan pantai laut aral. Ia adalah keturunan
iran, pernah belajar kepada abu nasr mansur bin irak jilani seorang pakar
matematika. Dialah seorang sarjana yang pertama berhasil menemukan berbagai
ilmu pengetahuan dan mengarang beberapa kitab antara lain :
·
Bumi berputar pada
porosnya yang mengelilingi matahari 600 tahun sebelum galileo
·
Menetapkan bahwa ketiga
sudut segitiga besarnya 180 derajat
·
Menetapkan dasar
ilmu-ilmu sudut
·
Di bidang astronomi dia
menemukan arah kiblat sholat secara cepat
·
Menulis kitab tarikh
al-hind dalam ekspedisi militer ke india
·
Menulis kitab yang
merupakan karya utamanya al-qanun al-mas’udi fi al-haya wa an-nujum,
ensiklopedia astronomi terlengkap dibidang astronomi, geografi, astrologi dan
beberapa matematika bangsa greek, india, babilonia, dan persia
·
Mengarang kitab al
jamahir fi ma’rifat al-jawahir, risalah mengenai minerologi yang ditulis pada
masa sultan maudud bin mas’ud
·
Ahli dibidang
kedokteran farmasi, fisika, sejarah, geografi, kronologi, bahasa, pengamat
kebudayaan, dan seorang ulama besar pada masanya
·
Menulis kitab abstraksi
mengenai geometri, astronomi, aritmatika, dan astrologi pada kitab tafhim, li
awa’il sina’at at-tanjim.
Di bidang seni arsitektur,
kemajuannya dapat diketahui melalui kemegahan arsitektur istana Ghazna. Mesjid
dan menara di kota Ghazna, yang memiliki nilai seni tinggi. Kenyataan ini
menjadi indikator yang kuat bahwa perhatian pemerintah terhadap perkembangan
agama, ilmu pengetahuan, dan peradaban sangat tinggi. Sampai hari ini monumen
sejarah tersebut masih dapat dilihat. Sayangnya pada tahun 1842 M, Inggris
memindahkan pintu menara mesjid di kota Ghazna tersebut dan makam istana raja
di India, karena mereka mengira bahwa benda tersebut merupakan bagian dari
Candi/Pagoda di Somnat yang dulu dihancurkan oleh Sultan Mahmûd.[12]
Diantara hasil seni arsitektur pada
masa dinasti ghazni adalah didirikannya masjid yang bernama arus al-falaq,
membangun istana di afghan dan shal, serta membangun taman said hasan dan
istana fazuri tempat ia begitu megahdi kota ghazna pada masa pemerintahan
sultan mahmud
Demikianlah beberapa kemajuan yang
telah dicapai oleh dinasti Ghaznawi dalam berbagai aspek. Dinasti Ghaznawi
telah menjadi kekuatan besar dalam Sejarah Islam. Dinasti ini telah berjasa
dalam menyebarkan Islam ke India, termasuk dalam perkembangan peradaban dan
kebudayaan di wilayah taklukan tersebut.
C.
Kemunduran
Dinasti Ghaznawiah
Awal kemunduran dinasti Ghaznawi dimulai
sejak putranya Muhammad ibn Mahmûd diangkat menggantikan bapaknya
Sultan Mahmûd yang wafat pada tahun 1030 M. Muhammad ibn
Mahmûd tidak disenangi oleh kalangan tentara, sehingga terjadi perebutan
tahta dengan adiknya Mas’ûd ibn Mahmûd. Ternyata Mas’ûd ibn Mahmûd adalah
pemimpin yang lemah dan tidak mampu melanjutkan keberhasilan yang telah dicapai
oleh bapaknya. Penyerbuan Bani Saljuk ke beberapa propinsi dinasti Ghaznawi di
Persia memberikan dampak yang besar terhadap dinasti Ghaznawi dalam menuju
gerbang kehancurannya. Dalam kondisi ini terjadi pula perbedaan pendapat tajam
antara Sultan dengan Dewan Kesultanan. Para personil dewan menginginkan agar
perhatian pemerintah lebih difokuskan untuk merebut kembali wilayah-wilayah
yang dicaplok oleh Bani Saljuk dan wilayah-wilayah yang mencoba memisahkan
diri. Namun ia menghendaki dan memutuskan melanjutkan penaklukan ke India.
Sementara penyerbuan yang dilakukan Bani Saljuk telah menyebar dan sampai ke
Khurasan. Berita-berita penyerbuan Bani Saljuk ini pada akhirnya memaksa
Sultan Mas’ûd menarik kembali pasukannya dari India.
Pada tahun 1040 M
Sultan Mas’ûd mengalami kekalahan besar di Khurasan dalam menghadapi
serangan Bani Saljuk. Kekalahan ini merupakan titik klimaks kehancuran dinasti
Ghaznawi di Persia. Sultan Mas’ûd sendiri yang kehilangan semangat
sempat melarikan diri, yang akhirnya kembali ke istana. Namun dalam perjalanan
dia justru dibunuh oleh tentaranya sendiri yang merasa kecewa terhadap berbagai
kebijakan yang diputuskan oleh Sultan Mas’ûd.[13]
Sejak tahun 1040 sampai dengan 1050
M pertempuran terus berlangsung antara dinasti Ghaznawi dengan Bani Saljuk,
tetapi akhirnya terjadi gencatan senjata selama setengah abad. Sementara itu
Afganistan tetap diakui sebagai bagian dari wilayah Ghaznawi. Di samping
menghadapi menghadapi serangan Bani Saljuk, ancaman terbesar yang dihadapi
Ghaznawi saat itu juga datang dari suku-suku Ghuzz dan Ghûr. Sebagai suku
pengembara yang sebelumnya pernah jadi kekuatan inti dari tentara Bani Saljuk,
akhirnya mereka juga melawan kepada Bani Saljuk. Kekuatan dan mobilitas tentara
suku pengembara ini kemudian benar-benar melumpuhkan kekuatan Ghaznawi di
bagian utara. Kemudian munculnya suku Ghûr sebagai kekuatan baru yang juga
mengincar bagian wilayah kekuasaan Ghaznawi semakin melemahkan dinasti ini. Ini
mengakibatkan posisi Lahore sebagai ibukota kedua Ghaznawi semakin penting bagi
para penguasanya.
Pada tahun 1173 M kota Ghazna
direbut oleh tentara Ghûr, membuat seluruh penguasa Ghaznawi terpaksa pindah ke
Lahore dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan yang baru. Namun pada tahun
1187 M Lahore juga direbut oleh pasukan Ghûr di bawah pimpinan Ibn Syâm,
sehingga penguasa terakhir dinasti Ghaznawi yaitu Khasrav Malim ikut
terbunuh. Walaupun dinasti Ghaznawi telah dihancurkan oleh suku Ghûr, akan
tetapi sebagai penguasa di sebagian besar wilayah anak benua India, dinasti
Ghaznawi banyak menentukan masa depan Islam di Asia Selatan. Orang-orang
Ghaznawi mampu mendirikan pemerintahan yang populer dan relatif stabil selama
hampir dua abad. Yang lebih penting lagi upaya dinasti Ghaznawi ini kemudian
diikuti oleh orang-orang Ghûr dan dan budak-budak Turki. Mereka pada akhirnya
menjadi cikal-bakal bagi berdirinya dinasti-dinasti Muslim berikutnya di anak
benua India.
D.
Ekspedisi
Mahmud
1. Ekspedisi
Mahmud yang pertama yang dilakukan pada tahun 1000 M terhadap kota-kota garis
depan Khyber Pass merupakan ekspedisi yang penting. Selama ekspedisi ini ia
merebut beberapa benteng dan kota dari Khyber Pass.
2. Mahmud
memimpin ekspedisi keduanya (1001 M) melawan musuh ayahnya, Jaipal, raja
kerajaan Hindustan dengan membawa 100.000 tentara berkuda.
3. Ekspedisi
ketiga diarahkan melawan penguasa Bhira (Bhatiya) yang mengingkari janjinya
untuk membantu Mahmud.
4. Ekspedisi
keempat Mahmud diarahkan melawan pemimpin Muslim di Multan. Abu Fatah Daud, pemimpin Multan
telah menjalin hubungan persahabatan dengan Anandapal.
5. Ketika
Mahmud kembali ke Ghazni setelah merebut Multan dan menunjuk Sukhpal atau
Nawasa Shah sebagai gubernurnya, sang gubernur menyatakan kemerdekaannya dan
keluar dari agama Islam. Mahmud memimpin invasi (1007 M) terhadapnya dan
mengalahkannya.
6. Ekspedisi
keenam Mahmud digerakkan melawan Anandapal pada tahun 1008 M.
7. Selanjutnya
Mahmud bergerak melawan Nagarkot di perbukitan Kangra dan menyerang benteng
Nagarkot (1009 M).
8. Pada
tahun 1010 M, Mahmud memimpin suatu ekspedisi ke Multan dan mengalahkan
pemimpin pemberontak, Abul Falah Daud.
9. Meskipun
telah dikalahkan, Anandapal tidak kehilangan semangatnya. Pada kenyataannya,
perlawanan berkali-kali membuatnya lebih mantap untuk melawan musuh hingga
titik penghabisan.
10. Pada
tahun 1014 M, Mahmud bergerak melawan penguasa Thaneswar. Orang-orang Hindu
bertempur mati-matian tetapi mereka dikalahkan dan raja Thaneswar tertangkap.
11. Mahmud
melakukan dua percobaan antara tahun 1015 M dan 1021 M untuk menaklukkan
Kashmir tetapi dalam kedua usaha itu ia gagal.
12. Ekpedisi
Mahmud yang penting berikutnya diarahkan terhadap Qanauj, ibukota India pada
waktu itu.
13. Penyerahan
diri Rajjapal, pemimpin Qanauj, menimbulkan kemarahan di kalangan pemimpin suku
Rajput lainnya, khususnya Gonda, raja suku Chandela dari Kalinjar.
14. Pada
tahun 1021-1022 M, Mahmud mengepalai ekspedisi ke-14 ke wilayah Gwalior dan
memaksa raja Gwalior untuk menyerah.
15. Setelah
penyerahan diri raja Gwalior Mahmud melanjutkan ekspedisi ke Kalinjar, benteng
pertahanan Gonda yang besar dan terkenal, menggelar pasukan untuk menyerangnya.
16. Ekspedisi
Sultan Mahmud yang paling penting tentu saja adalah penguasaan Somnath di
Kathiawar.
17. Ekspedisi
terakhir (1027 M) dilakukan ke wilayah yang didiami suku Jat yang mengganggu
tentara Muslim dalam perjalanannya kembali dari Somnath.[14]
BAB
III
Dinasti
Ghuri
A.
Sejarah
Awal Dinasti Ghuri
Jatuhnya Ghaznawiyah oleh salah satu
kelompok penguasa pusat Abbasiyah, Dinasti Seljuk, telah memberi kesempatan
yang sangat berharga kepada salah seorang jenderal Ghaznawi untuk tampil ke
depan guna menyelamatkan wilayah-wilayah yang telah diwariskan kepadanya. Pada
akhir abad dua belas, kedudukan Ghaznawi digantikan oleh panglimanya yang
selanjutnya disebut Dinasti Ghuri. Dinasti Ghuri mengawali debutnya secara
sistematik ketika berhasil menaklukkan India. Dalam rentang waktu 1175-1192,
mereka berhasil merebut daerah Uch, Multan Peshawar, Lahore dan Delhi.
Penaklukan-penaklukan yang dilakukan
Muhammad Ghuri ke daerah utara tidak seperti tuannya, Muhammad Ghazna. Ia
menempatkan militer di sana (Delhi) sebagai bangunan politik. Periode
pemerintahan Ghuri ini dikenal dengan nama “kesultanan para budak”. Selama pemerintahan
ini, tujuh panglima budak (sultan-sultan lokal) memimpin daerah-daerah
kekuasaannya silih berganti, bahkan tidak jarang sering bertikai. Diantara
sultan-sultan itu adalah Alaudin Khalji (1296-1316 M) seorang keturunan
Turki-Afghan yang mengontrol secara luas daerah-daerah pusat dan selatan India;
Muhammad bin Tighluq (1325-1352 M) seorang Turki yang berhasil melanjutkan
penaklukan ke daerah bagian pedalaman di Selatan India dan bergerak terus ke Devagiir.
Muhammad Ghuri, kemudian digantikan oleh
sanak saudaranya yang sekaligus sebagai budak-budaknya. Ia membagi kekuasaannya
kepada tiga panglima yang dipercayainya yakni, Tajuddin yang menguasai daerah
Ghaznah; Nashiruddin Kubacha yang menguasai wilayah Sind; dan Quthubuddin Aybak
yang menguasai seluruh Hindustan. Tetapi tampaknya orang yang mampu
mengembangkan kekuatan ini adalah Quthbuddin Aybak. Ia memiliki kemampuan
manajemen politik dan keterampilan militer yang sangat hebat. Ini terlihat
jelas dari luasnya wilayah yang di kuasainya dan pengaruhnya yang sangat kuat
diwilayah-wilayah yang dipimpinnya.[15]
Kerajaan Ghuri terletak di daerah
perbukitan antara Ghazni dan Herat. Daerah ini ditaklukkan oleh Sultan Mahmud
tahun 1010 M. Sejak saat itu daerah ini menjadi sebuah propinsi yang menjadi
bagian dari Kesultanan Ghazni. Orang-orang Ghuri telah berjuang dan melayani
dengan setia di bawah bendera Sultan Mahmud. Tetapi selama kekuasaan para
penggantinya, mereka menunjukkan sikap kurang perhatian dalam hal loyalitas
terhadap Sultan Ghaznawi. Persoalan berubah menjadi serius ketika Qutbuddin,
salah satu pimpinan Ghur, dihukum mati oleh Bahram, seorang keturunan Sultan
Mahmud. Saifuddin, saudara dari pimpinan yang terbunuh menjadi marah saat itu.
Ia berperang melawan Bahram dan mengusirnya keluar dari Ghazni. Bahram segera
kembali, mengalahkan Saifuddin dan membunuhnya. Ketika Alauddin mendengar nasib
saudaranya, ia berikrar untuk menghukum Sultan Ghazni. Ia menyerang Bahram dan
membuatnya lari kocar-kacir. Ia menghancurkan kota dan selama 7 hari kerusuhan
massal berlangsung secara mengerikan. Gedung-gedung Ghazni yang indah banyak
yang dihancurkan dan sebagian besar penduduknya terbunuh. Aksi Alauddin ini
mendatangkan julukan baginya sebagai Jahansuz (world-burner, pembakar bumi).
Khusrau Shah, anak dan pengganti Bahram, tidak berhasil mengatasi keterpurukan
dinastinya. Ia digantikan oleh anaknya Khusrau Malik yang dikalahkan dan
terbunuh pada tahun 1191 M oleh Muhammad Ghuri.[16]
Setelah kematian Alauddin, anaknya
yang bernama Saifuddin Muhammad naik berkuasa, tetapi ia kemudian terbunuh
dalam peperangan melawan bangsa Turki dari suku Aghuz. Para bangsawan
mengangkat Ghiyasuddin, sepupu dari Alauddin ke tahta yang kosong. Ghiyasuddin
menduduki Ghazni yang telah jatuh ke tangan Turki selama kekuasaan Khusrau
Shah. Ia menunjuk adiknya Shihabuddin, yang dikenal juga dengan Muizzuddin
Muhammad Ghuri untuk mengendalikan pemerintahan propinsi baru tersebut. Dua
bersaudara itu menjalin hubungan politik dan pribadi yang baik. Hingga akhir
hayatnya, Ghiyasuddin mendapatkan kepatuhan dan kesetiaan yang besar dari
saudaranya, dan sebagai tanda niat baik bagi Shihabuddin, ia memberikan
kemerdekaan Ghuri lebih senang memakai gelar Muizuddin dari pada Shihabuddin.[17]
B.
India
pada Awal Penaklukkan Muhammad Ghuri
Kondisi politik anak benua pada waktu
invasi Muhammad Ghuri tidak lebih baik dari kondisi yang ditemukan Sultan
Mahmud pada awal invasinya. Seluruh negeri terbagi ke dalam sejumlah
negara-negara merdeka yang sedang mengalami peperangan saling merusak. Tidak
ada pusat kekuasaan yang mengendalikan dan ini menjadikan kondisi India yang
kacau menjadi lebih buruk. Di samping propinsi muslim, ada kerajaan Rajput di
bagian lain India. Negara-negara muslim antara lain Punjab, Multan, dan Sind.
Sedangkan kerajaan-kerajaan Rajput yang paling kuat di utara India pada masa
invasi Ghuri antara lain : Kerajaan Chauhan di Delhi dan Ajmer, Gualiwar atau
Rathor di Qanauj, kerajaan Chalukya di Gujarat dan Anhilwar, kerajaan Chandela
di Bundelkhand, kerajaan Pala di Bihar dan kerajaan Sena di Bangla.
C.
Kampanye
India Muhammad Ghuri
Muizuddin Muhammad bin Sam atau lebih
populer dengan nama Muhammad Ghuri menjadi penguasa Ghazni pada tahun 1173 M.
Ia adalah seorang raja yang ambisius dan terbakar oleh kecintaan terhadap
penaklukkan dan kekuasaan. Setelah memperkuat dirinya di Ghazni, ia mengalihkan
perhatiannya ke tanah-tanah subur di anak benua tersebut.[18]
Ada
beberapa faktor yang membawa Ghuri untuk mengarahkan tentaranya ke India.
1) Orang-orang
Ghuri menginginkan untuk mendirikan sebuah kerajaan tetapi kekalahan yang
berturut-turut di tangan Shah Khawarizm memaksa mereka menggagalkan ide
mendirikan kerajaan di Asia Tengah dan mereka mengalihkan perhatiannya ke
India.
2) Orang-orang
Ghazni yang dikalahkan dan meninggalkan Ghazni meminta perlindungan di Punjab.
3) India
terbagi ke dalam banyak negara yang saling bermusuhan dan tidak ada kesatuan
politik di negeri itu. Dalam kondisi keterpisahan tersebut, Muhammad Ghuri
mendapatkan suatu kesempatan emas bagi kekuasaannya.
Penyerangan
pertama Muhammad Ghuri diarahkan terhadap Multan yang pada saat itu dipimpin
oleh orang-orang suku Karamathi. Ia merebut kota itu dan menunjuk gubernurnya
sendiri di sana. Dari Multan ia meneruskan ke Uch di Sind yang direbut setelah
beberapa waktu lamanya. Pada tahun 1178 M, Muhammad Ghuri memimpin sebuah
ekspedisi ke Anhilwar, ibu Kota Gujarat tetapi ia dapat dikalahkan oleh Bhim
II, raja Vaghela di Anhilwar. Setelah berperang beberapa tahun lamanya, Khusrau
Malik ditangkap dan dipenjarakan di Ghur. Punjab kemudian masuk dalam wilayah
kekuasaannya dan sejak saat itu (menjelang 1186 M) berakhirlah masa kepemimpinan
Ghaznawi.
Setelah
jatuhnya Dinasti Ghazni, Muhammad Ghuri harus menghadapi perlawanan dari
orang-orang suku Rajput. Cepatnya keberhasilan Muhammad Ghuri mengancam
Prithviraj (Pritthiraj), pemimpin Chauhan di Delhi dan Ajmer. Ia mengumpulkan
suatu pasukan yang besar yang meliputi 200.000 tentara berkuda dan 300 pasukan
gajah dan bergerak melawan pimpinan Ghuri. Pada tahun 1191 M, kedua tentara ini
bertemu di daerah Tarain dekat Thaneswar dan sebuah peperangan terjadi dengan
hasil yang menyakitkan bagi pihak muslim. Tentara muslim kalah dan dipukul
mundur. Tetapi Muhammad Ghuri tidak patah semangat karena kegagalannya ini.
Setelah
mengorganisasikan suatu tentara yang kuat, Muhammad Ghuri menyerang India pada
tahun berikutnya 1192 M. Ia dengan kekuatan perang 120.000 kavaleri, mencapai
sebuah tempat dekat Tarain dan mendirikan tenda disana. Menurut V. A. Smith,
“perang kedua di Tarain tersebut pada tahun 1192 M dapat dianggap sebagai
kontes yang memastikan kesuksesan tertinggi penyerangan pasukan Islam terhadap
Hindustan.
Pada
tahun 1194 M, Muhammad Ghuri datang lagi ke India untuk menyerang Jai Chandra
di Qanauj, musuh utama Pritthraj. Qutbuddin bersama pasukannya bergabung dengan
tuannya. Jai Chandra menghadapi pasukan gabungan musuhnya dan dapat dikalahkan
dalam sebuah peperangan di Chandwar. Tentara yang menang ini kemudian
melanjutkan ke Banaras dan merebutnya. Jatuhnya Jai Chandra di Chandwar
menjadikan Muhammad Ghuri sebagai penguasa politik sekaligus pemimpin
pusat-pusat keagamaan di Hindustan termasuk Qanauj dan Beneras.
Setelah
kedatangan Muhammad Ghuri ke Ghazni, wakilnya yang pandai, Qutbuddin Aibak,
melanjutkan usaha penaklukan. Pada tahun 1196 M ia merebut Gwalior dan kemudian
berperang melawan Bhim Deva dari Anhilwar. Ia merebut Anhilwar di Gujarat (1198
M) yang dulunya pernah berhasil menahan pasukan muslim di bawah pimpinan
Muhammad Ghuri pada tahun 1178 M.
Pada
tahun 1202 M, Aibak menyerang Kalinjar yang merupakan pusat militer Parmadi
Deva, raja Chandela di Bundelkhand. Orang-orang Chandela memberikan perlawanan
yang kuat terhadap orang-orang muslim tetapi akhirnya mereka dapat dikalahkan
dan benteng Kalinjar jatuh ketangan orang-orang muslim. Mahoba dan Kalpi adalah
wilayah yang ditaklukkan berikutnya. Dengan demikian, semua tempat penting di
India Utara berada dalam kendali umat Islam oleh Aibak.
Setelah
kematian Ghiyasuddin pada tahun 1203 M, Muhammad Ghuri menjadi penguasa tunggal
di Ghazni, Ghur, dan Delhi. Tetapi posisinya kemudian terancam oleh beberapa
pemberontakan dan perlawanan. Pada tahun 1204 M, ia menyerang Khawarizm Shah di
Asia Tengah tetapi kalah telak. Sang sultan dengan kesulitan besar berhasil
lolos. Segera setelah berita bencana ini menyebar luas, kekuatan-kekuatan
pengacau mulai beraksi. Mayoritas gubernur di berbagai propinsi memberontak dna
menyatakan diri merdeka. Pintu gerbang Ghazni dan Multan ditutup untuk Sultan.
Tetapi pemberontakan yang paling berbahaya adalah dari orang-orang suku
Khokkhar yang membuat keributan di Punjab. Muhammad Ghuri bersama letnannya
yang pandai, Qutbuddin bergerak ke India, meredam pemberontakan dimana-mana,
meghancurkan kekuatan orang-orang Khokkhar dan mendapatkan kembali Multan dan
Ghazni. Tetapi ia tidak hidup lama untuk menikmati hasil anak buahnya. Ia
terbunuh secara licik pada tahun 1205 oleh seorang yang fanatik dari suku
Khokkhar ketika ia dalam perjalanan ke Ghazni dari Lahore dan menginap di Damik
(di distrik Jhelum).[19]
Berbagai
penelitian dilakukan orang tentang penyebab kekuasaan teguh seperti Ghazni
(Turki) dan Ghuri (Afghanistan), kerajaan Bani Taghlak, kerajaan keluarga kaum
Said, dan Kerajaan Mongol. Begitu banyak maharaja-maharaja Brahmana sendiri,
tetapi barulah kedatangan Inggris yang dapat melepaskan India dari pengaruh
kekuasaan Islam dan berganti dengan kekuasaan Anglo-Saxon. Penyebab utama ada
tiga perkara. Pertama, bangsa-bangsa penakluk itu sangatlah fanatik dalam
beragama. Kedua, disamping penyiaran agama secara fanatik, keinginan untuk kaya
juga tidak dilupakan. Ketiga, karena masyarakat India sendiri.[20]
D.
Perbandingan
antara Muhammad Ghuri dan Sultan Mahmud
Muahmmad Ghuri dan Sultan mahmud adalah dua tokoh penting anak benua
ini selama masa pertengahan. Muhammad Ghuri dan Mahmud keduanya adalah prajurit
yang penuh energi dan meyerang India berulang kali. Suatu penelitian yang
hati-hati dan mendalam terhadap pencapaian dan karakter mereka menunjukan bahwa
mereka menyerupai satu sama lain dalam lebih dari satu aspek dan berbeda dalam
banyak aspek.
1) Mahmud
adalah seorang jendral yang jauh lebih besar dari Muhammad Ghuri dan karir
militer Mahmud jauh lebih cemerlang dari Muhammad Ghuri. Mahmud memimpin tujuh
belas ekspedisi ke India dan tidak pernah menderita kekalahan. Tetapi Muhammad
Ghuri seorang tentara biasa dan mengalami beberapa kekalahan di India.
2) Sikap
mereka terhadap penyerangan-penyerangan negeri ini, Muhammad Ghuri lebih besar
daripada Mahmud. Muhammad Ghuri disebut sebagai pendiri kesultanan muslim di
India.
3) Mahmud
dan Muhammad Ghuri keduanya adalah negarawan besar dan mereka digerakkan oleh
alasan yang kuat serta situasi dan keadaan.
4) Mahmud
adalah panutan besar dalam bidang seni dan pendidikan, sedangkan Ghuri hanyalah
seorang prajurit dan politisi.[21]
BAB IV
Penutup
A.
Kesimpulan
Ghaznawi
diambil dari nama salah satu kota di Kabul dalam wilayah Afghanistan Timur,
yaitu kota kecil yang bernama Ghazna. Disanalah pusat pemerintahan Dinasti Ghaznawi.
Lahirnya dinasti ini dilatar belakangi oleh peran seorang keturunan budak Turki
bernama Alptigin yang begitu setia dan diberi kepercayaan oleh Abdul al-Malik
bin Nuh selaku penguasa Dinasti Samaniyah pada waktu itu.
Jatuhnya
Ghaznawiyah oleh salah satu kelompok penguasa pusat Abbasiyah, Dinasti Seljuk,
telah memberi kesempatan yang sangat berharga kepada salah seorang jenderal
Ghaznawi untuk tampil ke depan guna menyelamatkan wilayah-wilayah yang telah
diwariskan kepadanya. Pada akhir abad dua belas, kedudukan Ghaznawi digantikan
oleh panglimanya yang selanjutnya disebut Dinasti Ghuri. Dinasti Ghuri
mengawali debutnya secara sistematik ketika berhasil menaklukkan India. Dalam
rentang waktu 1175-1192.
Muahmmad Ghuri dan Sultan mahmud adalah dua tokoh penting anak benua
ini selama masa pertengahan. Muhammad Ghuri dan Mahmud keduanya adalah prajurit
yang penuh energi dan meyerang India berulang kali. Suatu penelitian yang
hati-hati dan mendalam terhadap pencapaian dan karakter mereka menunjukan bahwa
mereka menyerupai satu sama lain dalam lebih dari satu aspek dan berbeda dalam
banyak aspek.
1) Mahmud
adalah seorang jendral yang jauh lebih besar dari Muhammad Ghuri dan karir
militer Mahmud jauh lebih cemerlang dari Muhammad Ghuri. Mahmud memimpin tujuh
belas ekspedisi ke India dan tidak pernah menderita kekalahan. Tetapi Muhammad
Ghuri seorang tentara biasa dan mengalami beberapa kekalahan di India.
2) Sikap
mereka terhadap penyerangan-penyerangan negeri ini, Muhammad Ghuri lebih besar
daripada Mahmud. Muhammad Ghuri disebut sebagai pendiri kesultanan muslim di
India.
3) Mahmud
dan Muhammad Ghuri keduanya adalah negarawan besar dan mereka digerakkan oleh
alasan yang kuat serta situasi dan keadaan.
DAFTAR PUSTAKA
Hamka.2016.
Sejarah Umat Islam; Pra-kenabian hingga
Islam di Nusantara. Jakarta: Gema Insani.
Nasution,
Harun. 1992. Pembaharuan dalam Islam.
Jakarta: Bulan Bintang.
Abdullah,
Taufik. 2003. Ensiklopedi Tematis Dunia
Islam. Jakarta: PERPUSNAS RI.
Al-‘Usairy,
Ahmad. 2008. Al-Tarikh al-Islami.
Jakarta: Akbar Media Nusantara.
Brockelman,
Carl. History of The Islamic people.
London .
Amin,
Ahmad. 1966. Zuhr al-Islam. Kairo:
al-Maktab al-Mishriyyah.
[2] Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam (Cet. II; Jakarta: Perpustakaan
Nasional RI, 2003), hlm. 120.
[3] Ahmad al-‘Usairy, al-Tarikh al-Islami, terj. Samson Rahman, Sejarah Islam (Cet. VI;
Jakarta: Akbar Media Nusantara, 2008), hlm. 274.
[4] Carl Brockelman, History of The
Islamic Peoples, (London: Routledge and Kegan Paul, [t.t.]), hlm. 16.
[5] Ibid., hlm. 218.
[6] Ibid., hlm. 243.
[8] Ahmad Amin, Zuhr al-Islâm, (Kairo:
Al-Maktabat al-Mishriyyah, 1966), hlm. 278
[10] Umar Amir Husein, Kultur Islam, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1981), hlm. 514
[11] Syed Ameer Ali, A History of
Saracens, (New Delhi: Kitab Savan, 1981), hlm. 307
[13] W.Montgomery Watt, op.cit., hlm.
213.
[14] Abdul
Karim, Sejarah Islam di India,
(Yogyakarta: Bunga Grafies, 2003), hlm. 21
[15] Ajid Thohir, dkk, Islam di Asia Selatan: Melacak
Perkembangan Sosial, Politik Islam di India, Pakistan dan Bangladesh,
(Bandung:Humaniora, 2006), hlm. 86
[16] Ibid., hlm. 30
[17] Ibid., hlm. 31
[18] Ibid.,
[19] Ibid., hlm.38
[20] Hamka, Sejarah Umat Islam; Pra-kenabian hingga Islam di Nusantara,
(Jakarta: Gema Insani, 2016), hlm. 369.
[21] Ibid.
Komentar
Posting Komentar