PERDAGANGAN DAN ISLAMISASI DI ASIA TENGGARA


A.    Perkembangan Perdagangan di Asia Tenggara

a.      Perdagangan Pra Islam
Perdagangan merupakan hal yang di anggap penting bagi Asia Tenggara. Karena Asia tenggara dapat dijangkau oleh lalu lintas laut dan menguasai jalur maritim antara China dan pusat-pusat permukiman penduduk seperti India, Timur Tengah dan Eropa. Produknya yang berupa Cengkeh, Pala, Kayu Cendana, Kayu Sapan, Kamfer dan Pernis mendapatkan Pasaran sejak Zaman Romawi dan Han, Asia Tenggara menjadi sangat penting bagi perdagangan jarak jauh. Karena pada saat itu terbentuknya kapitalisme Saudagar Lada, Cengkeh dan Pala yang berasal dari Asia Tenggara.[1]
Dari keseluruhan gambaran perdagangan Asia Tenggara, Rempah-rempah yang memikat para pedagang dari berbagai belahan dunia lain sebenarnya hanya mata dagangan dalam jumlah kecil, Rempah-rempah menjadi penting karena memperoleh keuntungan yang paling besar karena pada saat itu remah-rempah menjadi daya Tarik di Eropa sehingga para pedagang yang berlayar ke Lautan Asia Tenggara banyak mencari Rempah-rempah walaupun  masih dalam jumlah yang sedikit. Selain itu, cengkeh, pala hanya terdapat di Indonesia bagian Timur, sehingga banyaknya barang yang sampai ke Eropa semuanya melewati sepanjang jalur perdagangan yang panjang dari Maluku sampai ke laut tengah, menyebabkan Cengkeh menjadi barang ekspor utama untuk memenuhi kebutuhan yang selalu berubah.[2]
kota pelabuhan berfungsi sebagai tempat keluar masuk barang dagang untung perkembangan perniagaan, sosial dan politik. Kesulitan perdagangan dari darat ini menyebabkan Jalur air di utamakan dalam berniaga jika memungkinkan. Dapat dikataka bahwa Asia Tenggara sangat beruntung karena hasil alamnya memungkinkan untuk perdagangan maritim, Maka, perdagangan lautlah yang menciptakan Zaman perdagangan dan perdagangan Karavan pun ikut berkembang.[3]

b.      Perdagangan Asia Tenggara Masa Islam
Dalam perdagangan regional, maluku menjadi pusat produsen penghasil rempah-rempah, terutama lada dan cengkeh. Adapun jalur perdangan tersebut ialah Samudra Pasai, Malaka, Banda Aceh, Jambi, Palembang, Siak Indrapura, Minangkabau, Cirebon, Banten, Ternate-Tidore, Goa-Talo, Kutai, Banjar, dan wilayah pedalaman kepulauan Indonesia seperti Mataram, Wajo, Sopeng, dan Bone.
Pada masa masa kerajaan Islam terdapat beberapa tempat bandar besar. Seperti Samudra Pasai yang disebut Lamri , kemudian selat Malaka, Sumatra Barat seperti Pariaman, pesisir pantai barat seperti daerah Barus, Singkil, sampai Malaboh. Selain itu itu ada di kesultanan Jambi, Siak Indrapura, di pulau Kalimantan terdapat kesultanan Kutai di Tenggarong, di pulau Sulawesi Selatan yaitu Goa, Tallo, dan Luwuk. Kemudian seperti pada masa kerajaan Demak, yaitu Jepara, Tuban, Gresik, Jeratan Sedayu, Surabaya, dan bandar lain di daerah Madura. Selain itu ada Ternate, Tidore.[4]
Ada banyak kota bandar, tetapi yang berfungsi untuk ekspor dan impor komoditas umumnya ialah kota bandar besar yang juga berfungsi sebagai ibu kota pemerintahan kesultanan, Pada zaman pertumbuhan dan perkembangan Islam, istem perdagangan yang digunakan adalah barter.
c.       Pusat Pusat Perdagangan di Asia Tenggara
Zaman perdagangan telah memungkinkan Asia tenggara memainkan peranan penting dalam perdagangan dunia. Cengkih, pala, lada, dan kayu cendana yang dihasilkannya merupakan komoditas utama dalam perdagangan antar benua. Diantara faktor-faktor yang menjadikan kawasan ini menjadi sangat penting adalah.
a)      Letak geografisnya sangat mendukung perdagangan maritim.
b)      Sistem pemerintahannya yang sangat terbuka bagi dunia luar.
c)      Melonjaknya rempah-rempah dari Maluku.[5]
Diantara pusat-pusat perdagangan di Asia Tenggara pada masa Islam adalah:
1.      Aceh
Didirikan pada tahun 1520-1524 melalui operasi militer kerajaan Aceh Darussalam terhadap kerajaan-kerajaan pesisir dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah yang mengakhiri intervensi Portugis di pantai utara Sumatera.[6]
Sultan Ali juga menyatukan negara-negara pelabuhan yang merdeka seperti Barus, Daya, Lamri, Pidie, dan Pasai, perdagangan di semua pelabuhan itu dipusatkan di Banda Aceh yang menjadi pelabuhan Muslim yang utama di wilayah selat Malaka, dari mana lada dan rempah-rempah lainnya dari Asia tenggara diekspor ke timur tengah dan laut tengah
2.      Brunei Darussalam
masyarakat Brunei menjadikan sungai yang dikenal dengan sebutan Brunei tersebut sebagai wilayah perdagangan dengan China. Kemudian, seiring berjalannya waktu, aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh para pedagang Brunei meluas, sehingga aktivitas perdagangan tidak hanya terjalin dengan China, melainkan juga terjalin dengan pedagang muslim lainnya, serta para pedagang dari India.
3.      Malaka
Sejak abad ke I kawasan laut Asia Tenggara,khususnya Selat Malaka telah memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan internasional karena posisinya yang menghubungkan negeri-negeri di Asia Timur Jauh,Asia Tenggara,dan Asia Barat. Perkembangan pelayaran dan perdagangan internasional yang terbentang jauh mulai dari Teluk Persia sampai China melalui Selat Malaka itu terlihat sejalan dengan muncul dan berkembangnya kekuasan besar China dibawah Dinasti Tang,Kerajaan Sriwijaya,Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah.[7]
Selat Malaka sejak abad tersebut sudah mempunyai kedudukan yang penting. Oleh sebab itu boleh jadi para pedagang dan mubaligh Arab dan Persia, Malaka mempunyai letak yang strategis untuk perdagangan,tepat dititik tersempit dari selat dengan nama yang sama.

d.      Hubungan Perdagangan dan Penyebaran Islam di Asia Tenggara

Islam masuk di Asia Tenggara banyak di dibawa oleh pedagang dari Arab. Mereka selain berdagang juga berperan sebagai mubaligh. Mereka mengenalkan Islam kepada masyarakat yang berada di tempat mereka singgah. Sikap mereka yang santun , baik dalam tindakan maupun tutur kata menjadikan masyarakat setempat tertarik dengan para pedagang-pedang tersebut.
Masyarakat Asia Tenggara, sebelum kedatangan Islam, masih banyak yang menganut kepercayaan Hindu-Budha dan animisme-dinamisme. Para pedagang Islam masuk ke wilayah Asia tenggara untuk berdagang, dan kemudian mengenalkan Islam pada masyarakat setempat. Pada awalnya para pedagang-pedagang tersebut mengenalkan Islam secara individu-individu, akan tetapi setelah Islam sudah mulai diterima oleh masyarakat banyak, kemudian muncul banyak komunitas-komunitas muslim.[8]
Hal-hal yang mereka sampaikan ternyata mendapat pengaruh yang baik dari masyakat setempat. Kemudian banyak dari masyarakat setempat belajar tentang Islam kepada pedagang-pedagang tersebut dan akhirnya memeluk Islam. Dari sinilah dapat dikatakan bahwa pengaruh perdagangan sangatlah besar dalam penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara, karena memang dari perdagangan para mubaligh-mubaligh Islam dapat masuk dan berbaur dengan masyarakat setempat.







DAFTAR PUSTAKA

Anthony Reid, Dari Ekspansi Hingga Krisis jilid II (Jaringan perdaganga Global Asia Tenggara 1450-1680). (Jakarta: Yayasan Bogor Indonesia. 1999).
W. M, Abdul Hadi, dkk, Indonesia Dalam Arus Sejarah. (Jakarta ; Ichtiar Baru van Hoeve, 2012).
H.Abdullah Sani Usman, Krisis Legitimasi Politik dalam sejarah Pemerintahan di Aceh.

[1] D.G.E. Hall, Sejarah Asia Tenggara, ( Melaka dan Penyibaran Islam), terjemahan, (Kuala Lumpur ; Dewan Bahasa, 1987).
Abdul Karim, M. Sejarah peradaban dan Pemikiran Islam. (Yogyakarta ; Bagaskara, 2017).







[1] Anthony Reid, Dari Ekspansi Hingga Krisis jilid II (Jaringan perdaganga Global Asia Tenggara 1450-                  1680). (Jakarta: Yayasan Bogor Indonesia. 1999). Hlm, 1.
[2] Ibid,. Hlm, 4.
[3] Ibid,. Hlm, 81.
[4] W. M, Abdul Hadi, dkk, Indonesia Dalam Arus Sejarah. Jakarta, Ichtiar Baru van Hoeve, 2012, hlm. 263.
[5] Anthony Reid, Asia Tenggara Dalam Kurun NIaga 1450-1680, (Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Buku, 2011)  hlm, 17.
[6] H.Abdullah Sani Usman, Krisis Legitimasi Politik dalam sejarah Pemerintahan di Aceh, Hlm 88
[7] D.G.E. Hall, Sejarah Asia Tenggara, ( Melaka dan Penyibaran Islam), terjemahan, (Kuala Lumpur ; Dewan Bahasa, 1987), Hlm, 255.
[8] Abdul Karim, M. Sejarah peradaban dan Pemikiran Islam. Yogyakarta, Bagaskara, 2017, hlm. 327.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Lisan, Teka Teki di Indonesia dan contohnya

PEMBAHARUAN SHER SHAH SURI

Harmoni di Ufuk Timur Kediri