PEMBAHARUAN SHER SHAH SURI
Pembahasan
A.
Kondisi
India Sebelum Dinasti Sur
Saat
reformasi pemerintahan Sher Shah Shuri merupakan sebuah hasil pemikiran atas
kondisi realitas anak benua India dan mempunyai kecenderungan budaya yang
assimilatif. Dalam pemerintahan dan masyaraka India ada 3 kondisi sejak datangnya Islam hingga
masa sebelum Sher Shah Shuri memerintah.
1.
Politik dan Pemerintahan
Saat
kondisi India menyebabkan terpecah-pecah menjadi sejumlah pemerintahan lokal
yang berdaulat. Oleh karena itu menjelang invasi muslim secara politik
perpecahan ini menjadi alasan utama ternajdinya konflik sepanjang sejarah
India, diantara dua kecenderungan sistem pemerintahan, yaitu : sistem
sentralistik atau desentralistik. Dengan kondisi seperti ini sebagian besar
penguasa muslim gagal membentuk kesatuan politik yang kokoh. Dalam sejarah
Islam di anak benua ini bermula ketika Muhammad bin Qasim, yang berhasil
menaklukan Sind di wilayah Barat Daya India pada tahun 711 M. Dalam waktu 4
tahun ia mampu meletakkan
tatanan masyarakat yang baik dan harmonis. Pada tiga abad kemudian ada kejadian
yang dilakukan oleh Rezim Militer Turki yang dianggap sebagai penaklukan paling
menentukan bagi penyebaran peradaban Islam di India. Dinasti Ghazni di bawa
pimpinan Sultan Mahmud yang berhasil mengembangkan kedudukan Islam di Punjab,
wilayah Utara India 1020-1026 M. Sikap yang di lakukan Sultan Mahmud lebih
terlihat sebagai kepentingan politik di banding menyebarkan Islam secara damai.
Pada akhir abad XII M, kedudukan Dinasti Ghazni diganti oleh kelompok
kesukuan di wilayah Barat Daya
pegunungan setempat, dengan mendirikan Dinasti Ghazni sejak 1186 M. Muhammad
Ghuri membangun pemerintahan yang lebih kokoh, karena India dijadikan sebagai
daerah yang di taklukkan, tidak seperti yang di lakukan oleh Mahmud Ghaznawi.
Pada masa pemerintahan terlihat adanya perekrutan orang pribumi dan mantan
pejabat dari Dinasti Ghazni sebagai pegawai pemerintahan.
Muhammad
Ghuri meninggal pada 1206 M. Panglima jendralnya yang bernama Quthbuddin Aibak
(1206-1210), yang melanjutkan sebagai kekuasaan di India. Dia adalah Sultan
pertama yang membangun awal Kekuasaan Turki, dengan Dinasti Mamluk. Quwwat
al-Islam adalah satu masid yang mengingatkan kita terhadap pemerintahnya, dan Qutub Minar dibangun atas
nama guru agamanya, yaitu Shekh Quthubuddin Bakhtiar. Ia mampu memimpin India
hanya dalam waktu 4 tahun dan meninggal pada tahun 1210 M.
Awal
kekuasaan Turki yang dibentuk oleh Kuthbuddin Aibak ini telah dilanjutkan oleh
menantunya Ithumish pada tahun 1211-1236. Dia menyempurnakan Kutb Minar, dengan
menambah air mancur yang tingginya mencapai 238 kaki.. dia melanjutkan
perluasan kekuasaan Islam ke sebelah Utara (Malwa) dan menyelamatkan Negerinya
dari serangan Mongol secara diplomatis. Keberaniannya menghadapi invasi Mongol
dengan jumlah besar, dilakukan untuk menjaga kondisi India dari perpecahan. Ia
sering di sebut sebagai pendiri Kesultanan Delhi yang sesungguhnya. Sultan
Iltutmish mengambil langkah luar biasanya dengan menunjukan anak perempuannya,
Raziyahuddin sebagai penerusnya. Ia merupakan ratusan perempuan pertama dalam
sejarah Kesultanan Delhi, akan tetapi kepemimpinannya tidak mendapat dukungan
dari para bangsawan istana yang memnyebabkan pemerintahan ini yang tidak dapat
bertahan lama.
Setelah
Raziyaddin jatuh, kondisi Politik India semakin memburuk, hingga bebrapa
kepemimpinan berganti. Pemimpin terakhir dari dinasti ini adalah Balban. Balban
melanjutkan pemerintahan dengan mengkokoh militer dan pemerintahan yang
didasarkan pada Kultur Persia. Ia membentuk sistem peradilan dan pemerintahan
pembangunan administrasi militer yang efektif. Akan tetapi ia tidak melakukan
ekspansi, karena selain banyak terjadi pemberontakan di dalam Negara, ia lebih
memusatkan kekuasaannya ke dalam sistem pemerintahannya. Setelah Balban
meninggal, ternyata tidak ada pemenerus pemerintahannya yang pintar untuk
memerintah India.
Kemudian
Jalaudin Khalji 1290 M, naik tahta mendirikan Dinasti Khalji. Akan tetapi ia
terbunuh ketika sejak dalam perjalanan. Dinasti Khalji di gantikan oleh Dinasti
Tuglaq yang berkuasa hampir seratus tahun (1320-1414M). Dalam penguasa pertama
adalah Ghiyatsuddin Tughlaq yang hanya memerintah selama lima tahun. Ia memulai
karirnya sebagai seorang budak Turki yang memberontak kemudian naik menjadi
gubernur Punjab. Pada tahun 1320-1325 menunjukan ia memindahkanibukota provinsi dari Dekkan
kesebuah tempat kira-kira empat mil jauhnya ke timur yang disebut Tughlakabad.
Ghiyatsuddin
telah digantikan anaknya yang bernama Muhammad Tughlaq sejak tahun 1325-1351.
Ia adalah raja yang cerdas, jendral yang berbakat, dan orang yang pantang
menyerah. Dan ia adalah Sultan yang pertama mengangkat warga non muslim dalam
tugas kemiliteran, administrasi pemerintahan, dan mengijinkan pembangunan
kuil-kuil. Dia menambahkan pajak sewa tanah antara Sungai Gangga dan Sungai
Jamunan, yang berada di beberapa distrik. Ia adalah Sultan yang jenius dan
paling tinggi tingkat pengetahuannya dari pemimpin Delhi sejak invasi musli.
Pada tahun 1351 M, ia meninggal ketika negara di landa pemberontakan di wilayah
Bangla, Gujarat, Sind, dan Deccan.
Muhammad
ibn Tughlaq telah digantikan penerunya yang bernama Firuz Shah Tughlaq. Ia
adalah penguasa yang bermurah hati, halus, dan teguh hati. Semasa
kepemimpinannya ia telah menyatakan kedaulatannya sebgai Bangla dan Deccan. Dia
membangun banyak fasilitas umum bagi rakyatnya, seperti bendungan, irigasi,
tanks, penginapan, masjid, seklah, rumah sakit, dan jembatan. Firuz Shah juga memberlakukan
jizya, bagi orang-orang non muslim.
Pada masa pemerintahannya banyak orang Hindu yang masuk Islam akan tetapi kaum
Brahmanan yang dibebaskan tidak membayar
Jizya. Setelah kematian Firuz Shah
tahun 1388 M, penggatinya tidak mampu menggantikan posisinya sehingga Khizr
Khan menguasai politik di Delhi pada tahun 1414 M.
Khizr
Khan adalah pendiri Dinasti Sayyid yang pertama. Ia meninggal pada tahun 1421
M. Digantikan oleh Sultan Mubarak Shah, dan ia meninggal terbunuh pada tahun
1434 M, dan di gantikan oleh keponakannya Muhammad Shah selama 12 tahun.
Muhammad Shah di gantikan oleh anaknya yang bernama Allaudin Alam Shah,
merupakan raja terakhir dan terlemah dalam dinastinya. Dengan secra suka rela
ia menyerahkan tahtanya ke Bahlul Lodi, pendiri Dinasti Lodi.
Bahlul
Lodi I naik tahta pada tahun 1451 M, dengan mereputasikan Muslim di India. Ia
bertahan selama 38 tahun dan meninggal pada tahun 1489 M. Nizam Khan putra
kedua Bahlul Lodi I yang di gelar sebagai Sikandar Lodi. Ia adalah seorang
administator ulung.
Pada
saat Babur mengadakan invasi, Ibrahim Lodi II Adalah Sultan terakhir dari
Kesultanan Delhi. Ia merupakan pemerintah yang emah dan tidak pintar. Rezim ini
berakhir dengan meninggalnya Ibrahim Lodi II oleh Babur, pada tahun 1526 M
dalam perang Panipati I. Kondisi pemerintahan India bertambah kacau dan labil.
Dalam masa transisi seperti inilah Sher Shah muncul dengan reformasinya untuk
memperbaiki pemerintahan India.
2.
Sosial dan Budaya
Sebelum
Islam datang, suku bangsa Rajput memegang peran yang dominan terhadap perubahan
kehidupan sosial. Dena gambaran sosial budaya pra Islam di India akan lebih di
warnai dengan kehidupan pemimpin suku, bangsawan dan para brahmana ang memegang
kendali terhadap hukum yang berlaku di
dalam kehidupan bermasyarakat.
India
telah menjadi sebuah peradaba di mana kekuatan dan kekayaan terpusat di tangan
bagsawan dan status sosial yang didasarkan oleh leluhur mereka secara turun
temurun. Budaya ini di terima oleh masyarakat dan berlansung tanpa adanya
campur tangan pihak luara.
Sejumlah
penaklukan muslim, menyebabkan ulama penulis, sufi, intelektual muslim
berhamburan menuju India, Khanqah. Di India Khanqah merupakan pusat bagi
kelahiran bangsa Urdu sebagai Iingua
franca, yang antara muslim dan non muslim. Pada abad VIII nama Urdu di
bentuk dan diperoleh dari bahasa Turki lama ”Ordu” yang secara langsung
merupakan bahasa Changtay Turki atau dalam bahasa Mongol “Ordo” yang dalam
bahasa Inggris Modern disebut “Horde”. Bahasa ini dipengaruh oleh Khizr Khan
pada awal abad XIV, dan pada awal abad XVII. Islam yang memasuki kultur
masyarakat India pada umumnya melalui asimilasi mereka yang telah memeluk Islam
menjadi identitas komunal dan keyakinan keagamaan melalui bentu-bentuk tertentu
yang diasimilasikan menjadi kultur pribumi.
3.
Kondisi Ekonomi
Secara
geografis letak India sangat strategis, karena di lalui dua jalur perdagangan
Internasional. Yaitu wilayah utara terdapat jalur sutra yang menghubungkan Cina
sampai Asia Barat. Sedangkan disebelah Selatan jalur perdaganga rempah-rempah
antara Asia Tenggara samapai dengan Timur Jauh dan negara sekitar Laut Tengah.
Perdagangan Internal terpusat berada di wilayah Barat Daya yaitu pelabuhan
Debal (Sind), Gujarat, dan Chittagong (Bangla). Deccan sudah mempunyai tempat
perjualan sendiri di wilayah Barat dan Timur pantai. Jauh sebelum Islam datang,
India sudah dikenal oleh para pedagang sebagai tempat persinggahan. Mereka
membawa barang dagangan dari India berupa hasil bumi, hasil idustri tekstil,
yang seperti pakaian, kain, dan sebagainya. India terdiri atas tiga unit
perdagangan, setiap unit memiliki barang dagngan utama yang berbeda. Export
utama dari pelabuhan Gujarat dan Bangla adalah tekstil, katun, gula, sutra,
benang nila, benang sutra dan sebagainya. Sedangkan dari wilayah Selatan India
adalah rempah-rempah dan mutara.
Islam
pertamakali mendapatkan kedudukannya di Barat Daya pantai Malabar terutama
Keras (Kadangalur), Chitor, Calicut melaluit laut, dengan utuk menjalanin
hubungan dagang antara India dan negara-negara asing Eropa. Setelah itu perdagang
Islam menyebar ke seluruh tepi pantai di Mahasutra, kemudian mereka membangun
perkampungan Arab dan menikah dengan wanita India dan menutup kasta mereka.
Penaklukan
muslim memperkenlakan sebuah perekonomian baru yang telah berkembang dan
diwarnai dengan budaya pertanian (agrikultural), urbanisasi, yang terorganisir
secara mapan . yang artinya perkembangan arus ekonomi yang di dominasi oleh
perdagangan dalam masyarakat India, beralih menjadi pertanian dan pengolahan
lahan sebagai alternatif pendapatan negara. Rakyat hanya berhak mengelolah
tanah dan menghasilkan pertanian yang diserahkan kepada raja sebagai pajak sewa
tanah. Sistem pungut pajak seperti ini berlangsung terus menerus berlaku dari
penguasa satu ke penguasa yang lain. Kaum buruh tani harus bekerja keras untuk
mendapatkan makanan, sementara rakyat kelas bagsawan dan rakyat kelas menengah
bergelimang harta dan kemewahan.
B.
Pembaharuan
Sher Shah Suri
Kebijakan Sher Shah Suri merupakan
suatu pembaharuan yang dilakukan untuk mengadakan perbaikan secara
besar-besaran ke dalam sistem pemerintahan dengan ide-ide baru. Secara umum
kebijakan Sher Shah ini sangat mengacu kepada keperluan rakyat dan kesejateraan
rakyat, ini terlihat dari beberapa kebijakanya sebagai berikut[1] :
1.
Kebijakan administrasi pemerintahan
Pemerintahan Sher Shah adalah
pemerintahan yang tidak menolak unsur-unsur dari penguasa sebelumnya, bedanya
pemerintahan Sher Shah mengalami sedikit kemajuan, terutama dalam membentuk
pemerintahan yang mengkombinasikan unsur-unsur India dan luar India atau lebih
tepatnya ” sistem budaya Arab-Persia dengan latar belakang India.” Di wilayah
distrik seluruh kerajaan terbagi menjadi 47 sarkatau distrik yang masing-masing
dikepalai oleh dua orang pegawai yang disebut Shiqdar dan kepala Munshif,
bedanya kepala Munshif mengurusi masalah-masalah yang berhubungan dengan hukum,
dan sekaligus mengawasi Shiqdar. Selanjutnya di wilayah provinsi (pargana) di
kepalai oleh bhupati. Berbagai macam departmen pusat ditiru sesuai dengan
kebutuhan wilayah tersebut. Ada 113.000
pargana yang berada dalam kekuasaan Sher Shah. Disetiap pargana ada seorang
patwaris(bendahara), dan dua orang karkun (juru tulis), seorang pencatat dalam
bahasa Hindi (karkun Hindwinawis), dan yang lainnya mencatat dalam bahasa Persi
(Karkun Farsinawis).Disamping pegawai tersebut, ada Chaudury, yang berperan
sebagai penengah antara rakyat dengan penguasa. Dan yang terakhir pemerintahan
desa yang merupakan miniatur birokrasi pemerintahan yang mempunyai peran ang
signifikan untuk memajukan negara. Sistem Administrasi dipimpin oleh suatu
dewan yang disebut Panchayat. Panchayat ini dipilih langsung oleh rakyat
berdasarkan senioritasnya.
2.
Kebijakan militer
Dalam bidang militer, ia menerapkan
sistem sentralisasi dalam mengatur pasukan militernya. Tentara harus mengadakan
komunikasi langsung dengan raja, dimana sistem ini tidak dapat kita temukan
dalam sistem militer Akbar Agung. Sher Shah memusatkan organisasi militer
dengan komando tertinggi langsung di tangannya. Satu divisi dalam tentara
dinamakan Fauji yang dipimpin oleh Faudjar dan mereka langsung diberi gaji
ketika mereka selesai menjalankan tugasnya. Dalam kebijakan kuda militer Sher
Shah membedakan antara kuda militer dan pertanian , kuda militer diberi cap
atau tanda pengenal sesuai dengan nama tentaranya, sedangkan untuk kuda
pertanian, Sher Shah memberikan tanda melingkar pada tubuh kuda, dan nama
jagirdar (pengurus kuda) di satu parganas. Selanjutnya ada pembaharuan polisi
yang dipimpin oleh kotwal atau kepala polisi, yang dibantu oleh muhtasib.
Muhtasib adalah petugas yang memeriksa moral masyrakat, menghentikan
pelanggaran asuisla, atau mencegah, menghukum aksi serupa yang menganggu serta
meresahkan masyarakat. Ia juga bertugas memeriksa dan mengendalikan harga
barang di pasar.
4.
Kebijakan hukum dan peradilan
Sher Shah mempunyai perhatian besar
terhadap keadilan. Dia bersemboyan bahwasanya keadilan adalah ritual keagaman
yang paling utama. Dia sendiri berperan
sebagai pemegang kekuasaan pengadilan tertinggi dan kasus-kasus yang
melibatkan para bangsawan ataupun pegawai pemerintah selalu ditangani langsung
olehnya. Dia memutuskan perkara secara adil, tidak terkecuali kepada sanak
framili dan para bagsawan, jika mereka melakukan tindak kejahatan
5.
Kebijakan perdagangan
Sher Shah lebih banyak memajukan
perdagangan. Ia menugaskan duta yang dikirim untuk melakukan transaksi
perdagangan dan perniagaan dengan negara luar. Ada dua duta yang bertuigas
mengurusi perdaganagan tersebut. Satu orang mengurusi barang dagangan yang
masuk ke negara (importir), sedang satunya bertugas menjual barang dagangan
komoditi ke luar negara (Eksportir). Pada masa-masa tertentu, Sher Shah
menggelar bazaar yang dimaksudkan untuk memberikan peluang kepada penduduk
pribumi menjual dagangannya.Untuk mengendalikan harga barang di pasar, Sher
Shah bekerjasama dengan muhtasib, agar tidak terjadi pelonjakan harga yang
tidak semestinya.
3.
Dampak
Pembaharuan
1.
Bidang Sosial
Pada masa sher khan Diskrimainasi berlatar
agama mengalami penurunan, hal ini ditandai dengan diangkatnya orang-orang
Hindu sebagai pejabat pemerintahan sejajar dengan orang islam. Ia juga sering
mengangkat orang dari golongan rakyat biasa naik ke posisi tinggi dalam pemerintahan.
2.
Politik dan pemerintahan
Pada
masa pemerintahannya, Sher Shah melakukan perubahan sistem pelimpahan wewenang,
dan sebagian kekuasaan, kepada pemerintahan daerah bahkan sampai ke pemerintah
desa. Pegawai pada departement pusat bertanggung jawab terhadap masalah
administrasi, keuangan, hukum, peradilan dan kemiliteran serta keamanan daerah
puasat. Sedangkan pemerintahan daerah yang dipimpin oleh wali atau gubernur
bertugas mengatur administrasi sipil, militer, keuangan dipropinsinya.
Tanggung
jawab keamanan lokal sepenuhnya berada dalam kekuasaannya. Begitu juga unit
terkecil desa, pejabat-pejabat desa, yang biasanya di serahkan kepada kepala,
suku atau pemuka agama Hindu, harus dapat mengatasi pemasalahan yang ada di
wilayahnya. Kemudian wilayah desa ini memberikan pertanggung jawaban kepada
wilayah, departemen, propinsi, begitu selanjutnya departemen propinsi
memberikan pertanggung jawaban kepada pemerintah pusat. Sistem tanggung jawab
ini menghasilkan komunikasi yang efisien dan efektif antara rakyat dengan
negara.
3.
Bab
III
Penutup
A.
Kesimpulan
Kondisi masyarakat India pada awal masa kerajaan Mughal, mengalami
banyak permasalahan diantaranya ialah konflik yang berlatar belakang ras dan
agama. Masyarakat Hindu sering mendapat deskriminasi oleh para penguasa Islam
yang menyebabkan terjadi banyak pemberontakan. Pemberontakan tersebur
diantaranya dilakukan oleh seorang dari suku Afghan yang bernama Sher Shah
Suri.
Setelah berjasil mengalahkan Humayun, ia mendirikan Dinasti Sur,
yang kemudian banyak memberikan pembaharuan pada sseluruh bidang kehidupan.
Sher Shah Khan menghapuskan deskriminasi kepada umat non-Muslim, diantara
kebijaknnya ialah dengan mengangkat tokoh-tokoh Hindu umtuk memegang
pemerintahan atau di berikan amanah. Selain itu ia juga sering mengangkat orang
dari golongan biasa untuk menduduki kursi pemerintahan.
Masa singkat kekuasaannya ini berhasil mengubah India menjadi
negara yang yang lebih baik bahkan kebijkannya ini berlanjut kepada
pemerintahan Mughal periode dua yaitu
pada masa Akbar.
Daftar
Pustaka
Sudarwati, Pengaruh Kebijakan Sher Shah Suri terhadap Pemerintahan
Idia (1540-1545), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga: Sejarah Kebudayaan
Islam, 2004
https:// seowaps.wordpress.com/pengaruh reformasi Sher shah Suri
terhadap pemerintahan India
[1] Diakses dari http://web.unmetered.co.id/pengaruh-reformasi-sher-shan-terhadap/ pada 1 Desember 2017
Komentar
Posting Komentar