MUHAMMAD BIN TUGHLUQ


MUHAMMAD BIN TUGHLUQ

A.    PEMBAHASAN
1.      Keadaan Dinasti Tughluq  Menjelang Pemerintahan Muhammad bin Tughluq
Berdirinya Dinasti Tughluq dipentaskan dalam masa kekuasaan Ghazi Malik yang meduduki tahta Delhi dengan gelar Sultan Ghiyasuddin Tughluq di istana Siri, pada bulan September tahun 1320 M/720 H, ia sering dipanggil Tughluq Shah.[1]
. Naiknya Ghiyasuddin Tughluq membuka lembaran baru bagi Kesultanan Delhi. Ghiyasuddin Tughluq adalah penguasa baik hati, ia menginkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, raja bertenaga dan berjiwa besar. Ia seorang administrator “Administrasinya didasarkan atas dasar asas hukum Islam.”[2]
Pada masa pemerintahan Ghiyasuddin Tughluq selama 5 tahun (1320-1325). Ia mampu meredam konflik yang lahir dari kaum bangsawan, selain itu masalah politik yang dihadapi adalah perang saudara di Bangla antara putra Shamsuddin Firuz Shah, karena kekuasan dan jasanya maka ia menduduki tahta yang tinggi. Pada masa Alauddin Khalji, ia telah menonjolkan dirinya sebagai seorang wali propinsi perbatasan untuk menghadapi bangsa Mongol. Ghiyasuddin sebagai penguasa Delhi oleh bangsawan-bangsawan cukup dibenarkan “Ketika ia memperoleh kendali pemerintahan.” Kata Ishwari Prashad, “Imperium Delhi berada dalam suatu keadaan kacau balau dan berkat kebijaksanaan dan ketegasannya.
Bagian utara India, yakni Samana dan Bias pernah diinvasi oleh Mongol. Ghiyasuddin bergerak cepat dengan mengirimkan tentara baik Hindu maupun Muslim di bawah pimpinan Gubernur Samana, Gurshasp. Pasukan Mongol berhasil dikalahkan dan dipukul mundur, bahkan beberapa di antaranya ditahan.
Ghiyasudddin memulihkan dan memperbaiki prestise moral kesultanan itu. Beberapa wilayah yang dikuasai adalah Waranggal dan Bangla (Lakhnauti, Sonargaon, Tirhut). Ghiyasudddin mengirim anaknya, Ulugh Khan untuk menganeksasi Warangal dan Jajnagar dan berhasil. Berkat jasanya ia diberi gelar oleh Penguasa Mongol dengan gelar sultan. Setelah kembali dari Bangla tepatnya di Afghanpur (Siri), Ghiyasudddin meninggal pada bulan Juli 1325, karena tertimpa bangunan yang terbuat dari bambu yang dibuat anaknya.[3] Setelah kematian Ghiyasuddin Tughluq digantikan oleh anaknya, Malik Fakhruddin Juna Khan. Juna Khan atau Muhammad bin Tughluq merupakan sultan kedua Delhi pada (724-52/1324-51).
Menurut Ishwari Prashad Muhammad bin Tughluq adalah penguasa jenius dan tinggi pengetahuannya dari semua yang pernah memimpin Delhi sehak penaklukan Muslim, selain tu Tughluq merupakan kepribadian baik.[4] Dari kesemua Sultan Dinasti Tughluq, Muhammad bin Tughluq yang mampu memperluas Kesultanan Delhi sampai ke selatan.
Pada bulan Februari tahun 1325 M, ia mendeklarasikan diri dengan gelar Ghiyasuddin Muhammad Shah, lebih dikenal Muhammad bin Tughluq. Dalam pengangkatannya tidak ada perlawanan,[5] dalam pemerintahannya, sultan ingin melakukan konsolidasi dengan misi-misi penaklukan serta menetapkan sebuah sistem pertahanan Kesatuan Negara India.
Muhammad bin Tughluq adalah penguasa Muslim India yang pertama mengakui kekhalifahan Abbasiah di Kairo sebagai pimpinan umat Islam[6] sengan kebijakan sultan yaitu: menduduki jabatan militerm tugas-tugas administratif pemerintahan, juga berusaha mengintegrasikan sejumlah panglima dari orang Turki, mengangkat hakim-hakim agama, dan menerapkan pajak dan menghidupkan serta menciptakan abwab (biaya) tambahan kepada setiap warga non-Muslim.
Muhammad bin Tughluq dikenal sebagai oengusa Dinasti Tughluq yang melakukan gerakan puritan dan menerapkan Islam Ortodok. Ia menggantikan kebijakan Islam, untuk itu ia mensponsori pengkodifikasian hukum Islam dalam karya agungnya Fatawa-e-Jahandari.[7]
Ziauddin Barani menggambarkan beberapa kebijakan Muhammad bin Tughluq yaitu pemindahan ibukota ke Doeghir, pada tahun 1327 M untuk mengamankan wilayah selatan sultan mendirikan Doegir  atau Daulatabad menjadi ibukota kedua, serta mengadakan hubungan dengan penguasa-penguasa wilayah Dekkan. Kemudian kebijakan diarahkan pada ekspedisi ke Khurasan, dengan meninggalnya Termashirin, sehingga sultan mengarahkan pemerintahan ke masalah Dekkan dengan mengumpulkan angkatan perang yang besar, penaklukkan itu mendapatatkan dukungan dari orang Khurasan yang berlindung ke istana Muhammad bin Tughluq dan bekerja dengan Abu Sa’id dari Persia dan al Nasir dari Mesir, yang akhirnya mengalami kegagalan sehingga terjadi perubahan poitik di dalam negaranya.
Ekspedisi berikutnya diarahkan pada penaklukkan ke pegunungan Qarachil,[8] Menurut Badauni ekspedisi ini untuk mengontrol gunung Qarachil.
Langkah kontroversional adalah pengeluaran tanda mata uang (1329-1330). Edward Thomas menggambarkan ia sebagai “Pangeran Pencetak Uang”.[9] Muhammad bin Tughluq mengeluarkan peredaran tanda mata uang tembaga sebagai pengganti mata uang kertas yang sama nilainya dengan emas pada masa Muhammad bin Tughlaq.
Kebijakan Sultan Muhammad bin Tughlaq terakhir yaitu penambahan pajak di Doab (antara sungai Gangga dan Jumna), di dataran kaya dan subur meningkatkan produktivitas pertanian (Agricultural reform). Pada waktu itu kondisi India mengalami kelaparan yang berkepanjangan.
Muhammad bin Tughluq meninggal di Thatta di antara Sind dan Gujarat pada 21 Muharram 752/ 20 Maret 1351 M, disebabkan karena adanya pemberontakan. Demikian kahir dari kerajaan yang tidak beruntung ini. Dengan demikian, kata Badauni, “Raja terbebas dari rakyatnya dan rakyatnya terbebas dari raja mereka.”
2.         Kebijakan Muhammad bin Tughluq dalam pemimpin Dinasti Tughluq
1)   Pemindahan Ibu Kota
Muhammad bin Tughluq merupakan penguasa yang jenius dan tinggi tingkat pengetahuannya serta kepribadian yang baik. Ketika naik tahta, Muhammad bin Tughluq mengarah masalah Deccan dengan ekspedisi ke Warangal. Sultan menempati Delhi atau disebut Dar-Sara yang terdiri dari beberapa pintu.
Menurut Mr Moreland bahwa pada permulaannya kekuasaaannya, sultan Muhammad bin Thuglaq memutuskan untuk meninggikan penghasilan daerah-daerah lembah atau Delta Sungai, akhirnya tidak lama kemudian Sultan melakukan pemindahan Ibu Kota ke Deongir, pada tahun 1329 M, Delhi terjadi evakuasi dengan banyaknya populasi yang masuk.
Keputusan Muhammad bin Tughluq, yaitu pemindahan ibu kota kedua di selatan pada tahun 1327-1328 M,
a)      pemindahan tersebut terjadi adanya Pemberontakan di Selatan,[10]
b)       Sultan memindahkan Ibukota untuk memudahkan koordinasi sebagai pusat pemerintahan dari Delhi ke Devagiri kemudian diganti nama menjadi Daulatabad. Salah satu dari tindakan arbitrasi Sultan untuk memerintahkan pengungsian dari Ibukota Delhi – Daulatabad pada 1326-1327 M.
c)      Pemindahkan ibukota karena faktor ekonomi, karena pada waktu itu kelaparan hebat.  Karena pada waktu  mungkin daerah Delhi sedang mengalami cuaca yang buruk yang mengakibatkan ketersediaan pangan menurun.
d)     Pemindahkan ibukota ke daulatabad untuk mempertahankan daerah-daerah atau wilayah yang sudah menjadi kekuasaan Delhi dari penyerangan para pemberontak
e)      Pemindahan Ibukota ke Daulatabad itu untuk memudahkan koordinasi bagi seluruh provinsi di Delhi, karena letak kota ini yang Strategis karena secara geografis berada di Sentral
2)      Ekspedisi ke Khurasan
Pemberontakan terus berlanjut masa Abu Sa’id dan Tarmashirin, dalam Shajaral-ul-Atrak, dengan masuknya Tarmashirin ke Aliran Sunni Islam, sebuh akar permusuhan religius dan sebab politik.
            Pada 1325 M Abu Said seorang penguasa Ilhkan menyerang daerah jajahan Uzbeg Khan, di mana Tarmashirin raja Chaghtai dari Transoxiana, memimpin pasukan dekat Ghazni dan Qandar untuk menyerang Khurasan, dan akhirnya pada tahun 1326 M, Abu Said mengirim Hasan, putra tertua ke Kabul untuk menyerang Tarmashirin. Tarmashirin mengalami kekalahan dan ia pergi ke India dan meminta dukungan Sultan Muhammad bin Tughluq dalam ekspedisinya ke Khurasan. Awal kekuasaan Tamashirin, Sultan mengarahkan pada masalah Dekan, serta mengumpulkan tentara yang besar dalam proyek Sultan untuk melakukan ekspedisi ke Khurasan. Pada tahun 1328-1329 M, orang Mongol (Chaghtai), dikepalai Tamashirin Khan ingin membantu Amir Naoroz dan penguasa Mesir al-Nasir janji membantu Muhammad bin Thuglaq untuk menyerang Abu Sa’id merebut Khurasan, tetapi Tarmashirin kehilangan kekuasaan, koalisi yang telah terbentuk menjadi pecah. Sehingga Abu Sa’id bergabung dengan penguasa Persia. Akhirnya Sultan membatalkankan rencana invasi ke Khurasan.[11]Jumlah pasukan untuk ke Khurasan ini di persiapkan sebanyak 400.000 tentara, dan 100.000 tentara dipekerjakan dalam ekspedisi Qarachi, dan proyek penaklukan Persia.[12]
3)        Ekspedisi Qarachil
Ekspedisi Sultan Muhammad bin Tughluq diarahkan pada ekspedisi Qarachil, sebagai bagian dari ekspedisi Nagargot dengan Chronograsm Badr Chash tepat pada tahun 1338/738 H. Ekspedisi ini merupakan bagian dari proyek Ekspedisi khurasan, hal ini dilihat dari tentara yang sama dikumpulkan dengan jumlah yang lebih sedikit (100.000 orang) untuk ekspedisi Khurasan dan Transoxiana di wilayah Islam. Wilayah Qarachil terletak antara territorial Hind dan China (Sekarang terletak antara India Utara dengan Tibet China), ekspedisi ini diarahkan terhadap suku-suku yang keras kepala menentang Sultan di Wilayah Kumaun – Garwal.[13]
Pada awalnya ekpedisi ini berjalan sukses dengan direbutnya Jidya dan wilayah disekitar kaki gunung Himalaya, namun semua itu berbalik ketika hujan es yang menakuti dan para tentara yang terserang wabah yang mengganggu lalu musuh mengambil posisi atas dan melemparkan batu besar dari atas gunung agar mereka mundur ke lembah. Pos-pos militer dibuat. Dan akhirnya semua tentara kocar-kacir dan kalang kabut, selain itu dengan kegagalan tersebut mereka menderita penyakit karena geografis jauh dari Doab dan alam kurang mendukung untuk membobilisasi pasukan besar melalui Himalaya dan menyusun ketetapan di tanah yang jauh.[14] Sebab kegagalan di Kumachal yaitu setelah daerah-daerah yang itu di taklukan, ia membangun pos-pos sehingga banyak pasukan terbagi-bagi.
4)        Penerapan Mata Uang
Kebijakan Sultan Muhammad Tughluq yang ke empat adalah penerapan mata uang, sultan melihat penerapan mata uang itu dari Persia dan China. Dalam penerapan mata uang kertas di China mengalami keberhasilan, dan Sultan mencoba menggantikannya dengan tembaga dan perunggu yang nilainya sama dengan perak. Namun penerapan tersebut gagal karena terjadi jatuhnya nilai emas terhadap perak dan kas negara yang telah diisi besarnya kuantitas logam sebelumnya karena sebagai akibat penyerbuan. Selain itu juga semua transaksi pada tembaga harus melewati tender seperti koin emas dan perak.
Sebab kegagalan menurut Thomas, karena tidak ada mesin  khusus untuk menandai perbedaan  pabrik pencetak uang kerajaan dan pekerjaan tangan seorang seniman, tidak ada pengecekan tentang keaslian tanda tembaga, kurang dibatasi produk dalam jumlah besar, sehingga sejumlah koin palsu berputar di masyarakat. Muhammad bin Tughluq mengalami kerugian dengan jatuhnya nilai mata uang, sehingga pedagang asing menolak menggunakannya bahkan dalam negeri terjadi kemandegan.[15] Akhirnya, semua uang koin tersebut ditarik dari peredaran, baik yang asli maupun yang palsu.
5)      Penambahan Pajak
Kegagalan dari pemindahan ibukota Delhi ke Daulatabad-Delhi, ekspedisi Khurasan dan Ekspedisi Qarachil serta kegagalan tanda mata uang berdampak serius tentang keuangan negara, dan menurut sultan untuk menetapkan pajak di Doab. Sultan menaikkan angka pajak dan abwab (tambahan). Sultan menaikan pajak di daerah Doab karena memiliki alasan. Faktor pertama yaitu masa Alauddin Khalji telah 50% mengisi dari produksi bruto, sehingga Muhammad bin Tughluq menaikan pajak sama rata, kedua karena Doab adalah daratan yang subur dan kaya, ketiga meningkatkan pajak.[16] Namun pajak tersebut di perkenalkan pada saat mereka dilanda bencana kelaparan yang berkepanjangan dan  para petani dari provinsi mengalami nasib buruk dari penduduk Doab, sehingga mereka mencari perlindungan ke hutan.
Pada waktu itu negara tidak melonggarkan tuntutan itu, justru petugasnya menarik pajak tambahan untuk mereka sendiri dengan keras, dan tidak mengambil langkah-langkah cepat untuk mengurangi kekerasan kerja para petani.[17] Proyek sultan di Doab untuk memajukan produksi dan pemungutan pajak di wilayah yang subur dan makmur menyebabkan tulang punggung kerajaan menjadi rusak yang serius di bidang produktivitas. Pemberontakan petani dan berbagai masalah di Doab tersebar ke provinsi lain, sehingga membuat khawatir dan takut akan nasib mereka yang sama akan menimpa mereka.
Beberapa gambaran diatas menjadikan situasi menjadi tidak kondusif dan membuat banyak pemberontakan yang menandakan kehancuran kekuasaannya.
3.      Pengaruh Kebijakan Muhammad bin Tughluq di Dinasti Tughluq
Muhammad bin Tughluq terkenal dengan gagasan lima butir yang terpuji, namun kesemuanya gagal. Yaitu, proyek pemindahan ibu kota dari Delhi ke Deogir (1327), dengan alasan untuk mensejahterakan rakyat di daerah selatan dan mengislamkan daerah tersebut. Namun setelah pindah ke Doegir, ternyata Delhi dikuasai oleh para penjahat, oleh karena itu ia memutuskan untuk kembali. Yang kedua, ekspedisi ke Khurasan, sultan juga seorang yang ambisius, namun persiapan selama setahun dengan merekrut 400.000 orang dibatalkan. Sebab, semula ia bekerja sama dengan penguasa Mongol (Termasirin) dan al-Nasir (Penguasa Mesir) untuk mengalahkan pemerintahan Khurasan yang dipimpin oleh Abu Sa’id. Namun, usaha ini gagal karena Termasirin telah berganti kekuasaan, sedangakan al-Nasir membelot kepada Abu Sa’id. Yang ketiga adalah usaha penaklukan Qarachil, sebuah tempat di utara India (kaki gunung Himalaya). Orang Mewat seringkali mengacaukan dan mengganggu keamanan di daerah tersebut. Akhirnya, sultan mengirim 100.000  pasukan tentara, namun usaha ini pun gagal disebabkan tidak berhasil mendapat informasi kekuatan musuh yang benar. Di samping itu, cuaca buruk yaitu hujan es, maka hampir seluruh tentaranya mati. Yang keempat, mencetak mata uang (1330). Sulta terpengaruh dengan mata uang kertas dari China. Hal ini karena orang Hindu mencetak uang palsu di rumahnya. Sultan akhirnya menarik mata uang baik yang dipalsukan atau tidak. Yang kelima, penambahan pajak di Doab, daerah subur di Allahbad (Elahbad). Karena proyek-proyek gagal, maka ia menarik pajak untuk menutupi anggaran guna mengganti mata uang perunggu yang diganti dengan emas. Namun, proyek ini mengalami kegagalan, karena petani membakar sawah dan lari ke hutan. Karena, para petugas penarik pajak melipatgandakan pungutan pajak tidak sesuai dengan ketetapan sultan, Hal tersebut akhirnya diketahui oleh sultan. Ia mencari masyarakat ke hutan dan meminta maaf seraya mengharapkan warga untuk kembali ke daerahnya. Karena kondisi yang demikian, maka kemudian banyak bermunculan pemberontakan. Akibatnya, raja-raja dari Dekan, Malawa, Bangla[18], Gujarat, dan Oudh melepaskan diri, maka putus hubungan dengan kerajaan pusat di Delhi. Yang tersisa hanyalah Dowab dan Punjab saja. Muhammad Shah tidak dapat mempertahankan kebesarannya lagi hingga ia wafat. Ia digantikan oleh Firuz Shah. Muhammad bin Tughluq terserang demam ketika dengan mengejar pemberontak-pemerontak di Sind dan meninggal di dekat Tattah.
B.     PENUTUP
Kesimpulan
Kebijakan Muhammad, Muhammad memang orang yang pintar dan cerdas tetapi ia bisa gagal karena ia tidak cakap menjadi seorang birokrat. Ia cocok bekerja di bidang keilmuan. Ia digelari “The wisest fool” dan “intellectual fool”. Kebijakan yang tidak berhasil menyebabkan suburnya pemberontakan dan terlepasnya wilayah kekuasan sebagai akibat gagalnya memadamkan pemberontakan.
Muhammad bin Tughluq berusaha menyeimbangkan pengaruh politik dari beberapa keluarga besar Muslim dengan dukungan dari kalangan imigran tentara Turki. Dalam kebijakan keagamaan, Muhammad bin Tughluq memperlihatkan keterikatan secara formal terhadap syari’ah, dan berusaha menghapus adat kebiasaan sati daho yang telah lama populer di kalangan Hindu. Kebijakan dalam masalah sosial sultan mengangkat warga non-Muslim dalam tugas kemiliteran dan tugas administratif pemerintahan, juga terlibat dalam perayaan lokal dan mengizinkan pembangunan kuli-kuil Hindu, serta mengakui kekhalifahan Abbasiah di Kairo sebagai pemimpin umat Islam. Adanya efisiensi sistem persuratan.
Rezim Muhammad bin Tughluq merupakan rezim Muslim pertama yang mengintegrasikan sejumlah panglima perang Turki, kalangan feodal Hindu, dan ulama di dalam elit politik. Pemerintahan yang dipegang Muhammad bin tughluq tidak bisa bertahan lama karena  memiliki ide-ide yang jauh ke depan dari zamannya dan mengabaikan semua kebijkana yang telah ditata dengan baik, sehingga perekonomian negara tidak stabil, terjadi kelaparan berkepanjangan, dan pemberontakan yang beruntun. Demikian dikatakan untuk menjalankan roda pemerintahan penguasa tidak hanya berpendidikan tinggi tetapi harus ada kerjasama dengan aparatur negara dan semua pihak.
C.    DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah, T. (2003). Ensklopedi Tematis Dunia Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Ali, K. (1980). History of India, Pakistan, and Bangladesh. Dhaka: Ali Publication.
al-Umari, A. i. (1972). A Fourteenth Century Arab Account of India Under Sulta Muhammad bin Tughluq. Delhi: Siddiqi Publishing House.
Chandra, S. (2004). Medieval India: from Sultanant to the Mughals-Delhi Sultanant (1206-1526) Part One. Delhi: Har-Anand Publications.
Choiriyah, Laili. (2004) “Kebijakan Pemerintahan Sultan Muhammad bin Tughluq di India
(1325-1351 M)” Skripsi. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
Elliot, H. M. (1873). The History of India as Told by Its Own Historian Vol III. London: Trubner and Co.
Farooqui, S. A. (2011). A Comprehensive History of Medieval Inda from the Twelfth to Mid-Eighteenth Century. Delhi: Pearson Education India.
Hamka. (1949). Sejarah Umat Islam. Jakarta: Nusantara.
Karim, M. A. (2017). Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Bagaskara.
Lapidus, I. M. (2000). Sejarah Sosial Umat Islam. Jakarta: Grafindo.
Mahdi, H. A. (1938). The Rise and Fall of Muhammad bin Tughluq. London: Luzac and Co.
Mjumdar, R. C. (1948). An Advanced History of India. London: Mac Milan & Co.
Qureshi, I. H. (1942). The Administration of The Sultanate of Delhi. Lahore: SH. Muhammad Ashraf.
Schimmel, A. (1980). Islam in The Indian Subcontinent. Leiden: EJ Brill.
Smith, V. A. (1928). The Oxford History of India: from The Earliest Times to The End of 1911. Oxford: Clarendon.




[1]Ferishta mencatat bahwa ayahnya adalah seorang budak Turki milik Balban dan ibunya adalahwanita Jat dari Punjab, Tughluq Shah lahir di India. Vincent A Smith, The Oxxford Hsitory of India: From the Earliest Times to the End of 1911, (Oxford: Clarendon, 1928), hlm. 236. 
[2]K. Ali, History of India, Pakistan, and Bangladesh, (Dhaka: ali Publication, 1980), hlm. 90.
[3]Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai kematian Ghiyasuddin Tughluq. Menurut Ibnu Batuta, kematiannya adalalah konspirasi puteranya yang sengaja membangun panggung kayu yang rapuh agar ambruk ketika derapan langkah  gajah. Ziauddin Barani berpendapat bahwa sultan meninggal karena terkejut oleh petir. Menurut penelitian berikutnya ditemukan bahwa runtuhnya bangunan tersebut murni kecelakaan dan puteranya terbebas dari tuduhan kesengajaan. Ali, History, hlm, 89-90 dan M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Bagaskara, 2017), hlm. 268.
[4]R. C. Mjumdar, An Advanced History of India, (London: Mac Milan&Co., 1948), hlm. 317.
[5]Vincent A Smith, The Oxford History of India: from he Earliest Times to The End of 1911, (Oxford: Clarendon, 1928), hlm. 237.
[6]Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: Grafindo, 2000),  hlm. 676.
[7]Annemarie Schimmel, Islam in The Indian Subcontinent, (Leiden: EJ Brill, 1980), hlm. 20.
[8]Teks yang dicetak adalah “Farajal” tetapi yang lain sependapat dalam membaca Karajal. Penaklukkan gunung Qarachil di antara wilayah India dan negeri Cina. H. M. Elliot, The History of India as Told by Its Own Historian Vol III, (London: Trubner and Co., 1873), hlm. 241.
[9]R. C. Mjumdar, An Advanced History of India, (London: Mac Milan&Co., 1948), hlm. 321.
[10] S.M. Ikram, ,Musliu Civilization in India (New York: Columbia University Press, 1954), hlm. 70.
[11] K. Ali, History of India, Pakistan, and Bangladesh, (Dhaka: Ali Publication, 1980), hlm. 95.
[12] Aghda Mahdi Husain, The Rise and Fall of Muhammad bin Tughluq,(London: Luzac&Co., 1938), hlm. 125.
[13] Ibid., hlm. 134.
[14] R. C. Mjumdar, An Advanced History of India, (London: Mac Milan&Co., 1948), hlm 323.
[15] Elipstone (Mountstuart), The History of India ; The Mohammetan Peroids (London: Jhon Murray, 1857), hlm. 348.
[16] H.G. Rawlinson, A Concise History of the Indian People (London:Oxford  University Press, 1956), hlm. 131.
[17] R. C. Mjumdar, An Advanced History of India, (London: Mac Milan&Co., 1948), hlm. 320
[18]Ibnu Batutah lama tinggal di Kerajaan Bangla dan banyak mengisahkan kelaliman raja itu dalam kisah perjalanannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Lisan, Teka Teki di Indonesia dan contohnya

PEMBAHARUAN SHER SHAH SURI

Harmoni di Ufuk Timur Kediri