MUHAMMAD BIN TUGHLUQ
MUHAMMAD BIN TUGHLUQ
A.
PEMBAHASAN
1.
Keadaan Dinasti Tughluq Menjelang
Pemerintahan Muhammad bin Tughluq
Berdirinya Dinasti
Tughluq dipentaskan dalam masa kekuasaan Ghazi Malik yang meduduki tahta Delhi
dengan gelar Sultan Ghiyasuddin Tughluq di istana Siri, pada bulan September
tahun 1320 M/720 H, ia sering dipanggil Tughluq Shah.[1]
. Naiknya Ghiyasuddin
Tughluq membuka lembaran baru bagi Kesultanan Delhi. Ghiyasuddin Tughluq adalah
penguasa baik hati, ia menginkan kesejahteraan rakyat. Selain itu, raja
bertenaga dan berjiwa besar. Ia seorang administrator “Administrasinya
didasarkan atas dasar asas hukum Islam.”[2]
Pada masa pemerintahan
Ghiyasuddin Tughluq selama 5 tahun (1320-1325). Ia mampu meredam konflik yang
lahir dari kaum bangsawan, selain itu masalah politik yang dihadapi adalah
perang saudara di Bangla antara putra Shamsuddin Firuz Shah, karena kekuasan
dan jasanya maka ia menduduki tahta yang tinggi. Pada masa Alauddin Khalji, ia
telah menonjolkan dirinya sebagai seorang wali propinsi perbatasan untuk
menghadapi bangsa Mongol. Ghiyasuddin sebagai penguasa Delhi oleh
bangsawan-bangsawan cukup dibenarkan “Ketika ia memperoleh kendali pemerintahan.”
Kata Ishwari Prashad, “Imperium Delhi berada dalam suatu keadaan kacau balau
dan berkat kebijaksanaan dan ketegasannya.
Bagian utara India,
yakni Samana dan Bias pernah diinvasi oleh Mongol. Ghiyasuddin bergerak cepat
dengan mengirimkan tentara baik Hindu maupun Muslim di bawah pimpinan Gubernur
Samana, Gurshasp. Pasukan Mongol berhasil dikalahkan dan dipukul mundur, bahkan
beberapa di antaranya ditahan.
Ghiyasudddin memulihkan
dan memperbaiki prestise moral kesultanan itu. Beberapa wilayah yang dikuasai
adalah Waranggal dan Bangla (Lakhnauti, Sonargaon, Tirhut). Ghiyasudddin
mengirim anaknya, Ulugh Khan untuk menganeksasi Warangal dan Jajnagar dan
berhasil. Berkat jasanya ia diberi gelar oleh Penguasa Mongol dengan gelar
sultan. Setelah kembali dari Bangla tepatnya di Afghanpur (Siri), Ghiyasudddin
meninggal pada bulan Juli 1325, karena tertimpa bangunan yang terbuat dari
bambu yang dibuat anaknya.[3] Setelah kematian Ghiyasuddin Tughluq
digantikan oleh anaknya, Malik Fakhruddin Juna Khan. Juna Khan atau Muhammad
bin Tughluq merupakan sultan kedua Delhi pada (724-52/1324-51).
Menurut Ishwari Prashad
Muhammad bin Tughluq adalah penguasa jenius dan tinggi pengetahuannya dari
semua yang pernah memimpin Delhi sehak penaklukan Muslim, selain tu Tughluq
merupakan kepribadian baik.[4] Dari kesemua Sultan Dinasti Tughluq, Muhammad
bin Tughluq yang mampu memperluas Kesultanan Delhi sampai ke selatan.
Pada bulan Februari
tahun 1325 M, ia mendeklarasikan diri dengan gelar Ghiyasuddin Muhammad Shah,
lebih dikenal Muhammad bin Tughluq. Dalam pengangkatannya tidak ada perlawanan,[5] dalam pemerintahannya, sultan ingin melakukan
konsolidasi dengan misi-misi penaklukan serta menetapkan sebuah sistem
pertahanan Kesatuan Negara India.
Muhammad bin Tughluq
adalah penguasa Muslim India yang pertama mengakui kekhalifahan Abbasiah di Kairo sebagai pimpinan umat Islam[6] sengan kebijakan sultan yaitu: menduduki
jabatan militerm tugas-tugas administratif pemerintahan, juga berusaha
mengintegrasikan sejumlah panglima dari orang Turki, mengangkat hakim-hakim
agama, dan menerapkan pajak dan menghidupkan serta menciptakan abwab (biaya)
tambahan kepada setiap warga non-Muslim.
Muhammad bin Tughluq
dikenal sebagai oengusa Dinasti Tughluq yang melakukan gerakan puritan dan
menerapkan Islam Ortodok. Ia menggantikan kebijakan Islam, untuk itu ia
mensponsori pengkodifikasian hukum Islam dalam karya agungnya Fatawa-e-Jahandari.[7]
Ziauddin Barani
menggambarkan beberapa kebijakan Muhammad bin Tughluq yaitu pemindahan ibukota
ke Doeghir, pada tahun 1327 M untuk mengamankan wilayah selatan sultan
mendirikan Doegir atau Daulatabad
menjadi ibukota kedua, serta mengadakan hubungan dengan penguasa-penguasa
wilayah Dekkan. Kemudian kebijakan diarahkan pada ekspedisi ke Khurasan, dengan
meninggalnya Termashirin, sehingga sultan mengarahkan pemerintahan ke masalah
Dekkan dengan mengumpulkan angkatan perang yang besar, penaklukkan itu mendapatatkan
dukungan dari orang Khurasan yang berlindung ke istana Muhammad bin Tughluq dan
bekerja dengan Abu Sa’id dari Persia dan al Nasir dari Mesir, yang akhirnya
mengalami kegagalan sehingga terjadi perubahan poitik di dalam negaranya.
Ekspedisi berikutnya
diarahkan pada penaklukkan ke pegunungan Qarachil,[8] Menurut Badauni ekspedisi ini untuk mengontrol
gunung Qarachil.
Langkah kontroversional
adalah pengeluaran tanda mata uang (1329-1330). Edward Thomas menggambarkan ia
sebagai “Pangeran Pencetak Uang”.[9] Muhammad bin Tughluq mengeluarkan peredaran
tanda mata uang tembaga sebagai pengganti mata uang kertas yang sama nilainya
dengan emas pada masa Muhammad bin Tughlaq.
Kebijakan Sultan
Muhammad bin Tughlaq terakhir yaitu penambahan pajak di Doab (antara sungai
Gangga dan Jumna), di dataran kaya dan subur meningkatkan produktivitas
pertanian (Agricultural reform). Pada waktu itu kondisi India mengalami
kelaparan yang berkepanjangan.
Muhammad bin Tughluq
meninggal di Thatta di antara Sind dan Gujarat pada 21 Muharram 752/ 20 Maret
1351 M, disebabkan karena adanya pemberontakan. Demikian kahir dari kerajaan
yang tidak beruntung ini. Dengan demikian, kata Badauni, “Raja terbebas dari
rakyatnya dan rakyatnya terbebas dari raja mereka.”
2.
Kebijakan Muhammad bin Tughluq dalam pemimpin Dinasti Tughluq
1) Pemindahan Ibu Kota
Muhammad bin Tughluq merupakan penguasa yang jenius dan tinggi tingkat
pengetahuannya serta kepribadian yang baik. Ketika naik tahta, Muhammad bin Tughluq
mengarah masalah Deccan dengan ekspedisi ke Warangal. Sultan menempati Delhi atau disebut Dar-Sara yang terdiri dari beberapa
pintu.
Menurut Mr Moreland bahwa pada permulaannya kekuasaaannya, sultan
Muhammad bin Thuglaq memutuskan untuk meninggikan penghasilan daerah-daerah
lembah atau Delta Sungai, akhirnya tidak lama kemudian Sultan melakukan
pemindahan Ibu Kota ke Deongir, pada tahun 1329 M, Delhi terjadi evakuasi
dengan banyaknya populasi yang masuk.
Keputusan Muhammad bin Tughluq, yaitu pemindahan ibu kota kedua di selatan
pada tahun 1327-1328 M,
b)
Sultan
memindahkan Ibukota untuk memudahkan koordinasi sebagai pusat pemerintahan dari
Delhi ke Devagiri kemudian diganti nama menjadi Daulatabad. Salah satu dari
tindakan arbitrasi Sultan untuk memerintahkan pengungsian dari Ibukota Delhi –
Daulatabad pada 1326-1327 M.
c)
Pemindahkan ibukota karena faktor ekonomi,
karena pada waktu itu kelaparan hebat.
Karena pada waktu mungkin daerah
Delhi sedang mengalami cuaca yang buruk yang mengakibatkan ketersediaan pangan
menurun.
d)
Pemindahkan ibukota ke daulatabad untuk
mempertahankan daerah-daerah atau wilayah yang sudah menjadi kekuasaan Delhi
dari penyerangan para pemberontak
e)
Pemindahan Ibukota ke Daulatabad itu untuk
memudahkan koordinasi bagi seluruh provinsi di Delhi, karena letak kota ini
yang Strategis karena secara geografis berada di Sentral
2)
Ekspedisi ke Khurasan
Pemberontakan terus berlanjut masa Abu Sa’id dan Tarmashirin, dalam Shajaral-ul-Atrak, dengan masuknya Tarmashirin ke Aliran Sunni Islam,
sebuh akar permusuhan religius dan sebab politik.
Pada
1325 M Abu Sa’id seorang penguasa Ilhkan menyerang daerah jajahan
Uzbeg Khan, di mana Tarmashirin raja Chaghtai dari Transoxiana, memimpin
pasukan dekat Ghazni dan Qandar untuk menyerang Khurasan, dan akhirnya pada
tahun 1326 M, Abu Said mengirim Hasan, putra tertua ke Kabul untuk menyerang Tarmashirin. Tarmashirin mengalami kekalahan
dan ia pergi ke India dan meminta dukungan Sultan Muhammad bin Tughluq dalam
ekspedisinya ke Khurasan. Awal kekuasaan Tamashirin, Sultan mengarahkan pada
masalah Dekan, serta mengumpulkan tentara yang besar dalam proyek Sultan untuk
melakukan ekspedisi ke Khurasan. Pada tahun 1328-1329 M, orang Mongol (Chaghtai), dikepalai Tamashirin Khan ingin membantu Amir
Naoroz dan penguasa Mesir al-Nasir janji membantu Muhammad bin Thuglaq untuk menyerang Abu Sa’id merebut Khurasan, tetapi Tarmashirin
kehilangan kekuasaan, koalisi yang telah terbentuk menjadi pecah. Sehingga Abu
Sa’id bergabung dengan penguasa Persia. Akhirnya Sultan membatalkankan rencana
invasi ke Khurasan.[11]Jumlah pasukan untuk ke Khurasan ini di persiapkan
sebanyak 400.000 tentara, dan 100.000 tentara dipekerjakan dalam ekspedisi Qarachi,
dan proyek penaklukan Persia.[12]
3)
Ekspedisi Qarachil
Ekspedisi Sultan Muhammad bin Tughluq diarahkan pada
ekspedisi Qarachil, sebagai bagian dari ekspedisi Nagargot dengan
Chronograsm Badr Chash tepat pada tahun 1338/738 H. Ekspedisi ini merupakan
bagian dari proyek Ekspedisi khurasan, hal ini dilihat dari tentara yang sama
dikumpulkan dengan jumlah yang lebih sedikit (100.000 orang) untuk ekspedisi
Khurasan dan Transoxiana di wilayah Islam. Wilayah Qarachil terletak antara
territorial Hind dan China (Sekarang terletak antara India Utara dengan Tibet
China), ekspedisi ini diarahkan terhadap suku-suku yang keras kepala menentang
Sultan di Wilayah Kumaun – Garwal.[13]
Pada awalnya ekpedisi ini berjalan sukses dengan
direbutnya Jidya dan wilayah disekitar kaki gunung Himalaya, namun semua itu
berbalik ketika hujan es yang menakuti dan para tentara yang terserang wabah
yang mengganggu lalu musuh mengambil posisi atas dan melemparkan batu besar
dari atas gunung agar mereka mundur ke lembah. Pos-pos militer dibuat. Dan akhirnya semua tentara
kocar-kacir dan kalang kabut, selain itu dengan kegagalan tersebut mereka
menderita penyakit karena geografis jauh dari Doab dan alam kurang mendukung
untuk membobilisasi pasukan besar melalui Himalaya dan menyusun ketetapan di
tanah yang jauh.[14] Sebab kegagalan di Kumachal yaitu setelah
daerah-daerah yang itu di taklukan, ia membangun pos-pos sehingga banyak
pasukan terbagi-bagi.
4)
Penerapan Mata Uang
Kebijakan Sultan Muhammad Tughluq yang ke empat adalah penerapan mata uang, sultan melihat penerapan mata uang itu dari Persia dan China. Dalam penerapan mata
uang kertas di China mengalami keberhasilan, dan Sultan mencoba menggantikannya
dengan tembaga dan perunggu yang nilainya sama dengan perak. Namun penerapan
tersebut gagal karena terjadi jatuhnya nilai emas terhadap perak dan kas negara yang telah diisi besarnya kuantitas logam
sebelumnya karena sebagai akibat penyerbuan. Selain itu juga semua transaksi
pada tembaga harus melewati tender seperti koin emas dan perak.
Sebab kegagalan menurut Thomas, karena tidak ada
mesin khusus untuk menandai
perbedaan pabrik pencetak uang kerajaan
dan pekerjaan tangan seorang seniman, tidak ada pengecekan tentang keaslian
tanda tembaga, kurang dibatasi produk dalam jumlah besar, sehingga sejumlah
koin palsu berputar di masyarakat. Muhammad bin Tughluq mengalami kerugian dengan jatuhnya nilai mata uang,
sehingga pedagang asing menolak menggunakannya bahkan dalam negeri terjadi
kemandegan.[15]
Akhirnya, semua uang koin tersebut ditarik dari peredaran, baik yang asli
maupun yang palsu.
5)
Penambahan Pajak
Kegagalan dari pemindahan ibukota Delhi ke Daulatabad-Delhi,
ekspedisi Khurasan dan Ekspedisi Qarachil serta kegagalan tanda mata uang berdampak
serius tentang keuangan negara, dan menurut sultan untuk menetapkan pajak di
Doab. Sultan menaikkan angka pajak dan abwab (tambahan). Sultan menaikan pajak di daerah Doab karena
memiliki alasan. Faktor pertama yaitu masa Alauddin Khalji telah 50% mengisi dari produksi
bruto, sehingga Muhammad bin Tughluq menaikan pajak sama rata, kedua karena
Doab adalah daratan yang subur dan kaya, ketiga meningkatkan pajak.[16] Namun pajak tersebut di perkenalkan pada saat
mereka dilanda bencana kelaparan yang berkepanjangan dan para petani dari provinsi mengalami nasib
buruk dari penduduk Doab, sehingga mereka mencari perlindungan ke hutan.
Pada waktu itu negara tidak melonggarkan tuntutan
itu, justru petugasnya menarik pajak tambahan untuk mereka sendiri dengan
keras, dan tidak mengambil langkah-langkah cepat untuk mengurangi kekerasan kerja
para petani.[17]
Proyek sultan di Doab untuk memajukan produksi dan pemungutan pajak di wilayah
yang subur dan makmur menyebabkan tulang punggung kerajaan menjadi rusak yang
serius di bidang produktivitas. Pemberontakan
petani dan berbagai masalah di Doab tersebar ke provinsi lain, sehingga membuat
khawatir dan takut akan nasib mereka yang sama akan menimpa mereka.
Beberapa gambaran diatas menjadikan situasi menjadi
tidak kondusif dan membuat banyak pemberontakan yang menandakan kehancuran
kekuasaannya.
3.
Pengaruh Kebijakan Muhammad bin Tughluq di Dinasti Tughluq
Muhammad bin Tughluq terkenal dengan gagasan lima butir yang terpuji,
namun kesemuanya gagal. Yaitu, proyek pemindahan ibu kota dari Delhi ke Deogir
(1327), dengan alasan untuk mensejahterakan rakyat di daerah selatan dan
mengislamkan daerah tersebut. Namun setelah pindah ke Doegir, ternyata Delhi
dikuasai oleh para penjahat, oleh karena itu ia memutuskan untuk kembali. Yang
kedua, ekspedisi ke Khurasan, sultan juga seorang yang ambisius, namun persiapan
selama setahun dengan merekrut 400.000 orang dibatalkan. Sebab, semula ia
bekerja sama dengan penguasa Mongol (Termasirin) dan al-Nasir (Penguasa Mesir)
untuk mengalahkan pemerintahan Khurasan yang dipimpin oleh Abu Sa’id. Namun,
usaha ini gagal karena Termasirin telah berganti kekuasaan, sedangakan al-Nasir
membelot kepada Abu Sa’id. Yang ketiga adalah usaha penaklukan Qarachil, sebuah
tempat di utara India (kaki gunung Himalaya). Orang Mewat seringkali
mengacaukan dan mengganggu keamanan di daerah tersebut. Akhirnya, sultan
mengirim 100.000 pasukan tentara, namun
usaha ini pun gagal disebabkan tidak berhasil mendapat informasi kekuatan musuh
yang benar. Di samping itu, cuaca buruk yaitu hujan es, maka hampir seluruh
tentaranya mati. Yang keempat, mencetak mata uang (1330). Sulta terpengaruh
dengan mata uang kertas dari China. Hal ini karena orang Hindu mencetak uang
palsu di rumahnya. Sultan akhirnya menarik mata uang baik yang dipalsukan atau
tidak. Yang kelima, penambahan pajak di Doab, daerah subur di Allahbad
(Elahbad). Karena proyek-proyek gagal, maka ia menarik pajak untuk menutupi
anggaran guna mengganti mata uang perunggu yang diganti dengan emas. Namun,
proyek ini mengalami kegagalan, karena petani membakar sawah dan lari ke hutan.
Karena, para petugas penarik pajak melipatgandakan pungutan pajak tidak sesuai
dengan ketetapan sultan, Hal tersebut akhirnya diketahui oleh sultan. Ia
mencari masyarakat ke hutan dan meminta maaf seraya mengharapkan warga untuk
kembali ke daerahnya. Karena kondisi yang demikian, maka kemudian banyak
bermunculan pemberontakan. Akibatnya, raja-raja dari Dekan, Malawa, Bangla[18], Gujarat, dan Oudh melepaskan diri, maka putus
hubungan dengan kerajaan pusat di Delhi. Yang tersisa hanyalah Dowab dan Punjab
saja. Muhammad Shah tidak dapat mempertahankan kebesarannya lagi hingga ia
wafat. Ia digantikan oleh Firuz Shah. Muhammad bin Tughluq terserang demam
ketika dengan mengejar pemberontak-pemerontak di Sind dan meninggal di dekat
Tattah.
B.
PENUTUP
Kesimpulan
Kebijakan
Muhammad, Muhammad memang orang yang pintar dan cerdas tetapi ia bisa gagal
karena ia tidak cakap menjadi seorang birokrat. Ia cocok bekerja di bidang
keilmuan. Ia digelari “The wisest fool”
dan “intellectual fool”. Kebijakan
yang tidak berhasil menyebabkan suburnya pemberontakan dan terlepasnya wilayah
kekuasan sebagai akibat gagalnya memadamkan pemberontakan.
Muhammad bin Tughluq berusaha menyeimbangkan pengaruh politik dari
beberapa keluarga besar Muslim dengan dukungan dari kalangan imigran tentara
Turki. Dalam kebijakan keagamaan, Muhammad bin Tughluq memperlihatkan
keterikatan secara formal terhadap syari’ah, dan berusaha menghapus adat
kebiasaan sati daho yang telah lama populer di kalangan Hindu. Kebijakan
dalam masalah sosial sultan mengangkat warga non-Muslim dalam tugas kemiliteran
dan tugas administratif pemerintahan, juga terlibat dalam perayaan lokal dan
mengizinkan pembangunan kuli-kuil Hindu, serta mengakui kekhalifahan Abbasiah
di Kairo sebagai pemimpin umat Islam. Adanya efisiensi sistem persuratan.
Rezim Muhammad bin Tughluq merupakan rezim Muslim pertama yang
mengintegrasikan sejumlah panglima perang Turki, kalangan feodal Hindu, dan
ulama di dalam elit politik. Pemerintahan yang dipegang Muhammad bin tughluq
tidak bisa bertahan lama karena memiliki
ide-ide yang jauh ke depan dari zamannya dan mengabaikan semua kebijkana yang
telah ditata dengan baik, sehingga perekonomian negara tidak stabil, terjadi
kelaparan berkepanjangan, dan pemberontakan yang beruntun. Demikian dikatakan
untuk menjalankan roda pemerintahan penguasa tidak hanya berpendidikan tinggi
tetapi harus ada kerjasama dengan aparatur negara dan semua pihak.
C.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, T. (2003). Ensklopedi
Tematis Dunia Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Ali, K. (1980). History of India,
Pakistan, and Bangladesh. Dhaka: Ali Publication.
al-Umari, A. i. (1972). A Fourteenth
Century Arab Account of India Under Sulta Muhammad bin Tughluq. Delhi:
Siddiqi Publishing House.
Chandra, S. (2004). Medieval India: from
Sultanant to the Mughals-Delhi Sultanant (1206-1526) Part One. Delhi:
Har-Anand Publications.
Choiriyah, Laili. (2004) “Kebijakan
Pemerintahan Sultan Muhammad bin Tughluq di India
(1325-1351 M)” Skripsi.
Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
Elliot, H. M. (1873). The History of
India as Told by Its Own Historian Vol III. London: Trubner and Co.
Farooqui, S. A. (2011). A Comprehensive
History of Medieval Inda from the Twelfth to Mid-Eighteenth Century.
Delhi: Pearson Education India.
Hamka. (1949). Sejarah Umat Islam.
Jakarta: Nusantara.
Karim, M. A. (2017). Sejarah Pemikiran
dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Bagaskara.
Lapidus, I. M. (2000). Sejarah Sosial
Umat Islam. Jakarta: Grafindo.
Mahdi, H. A. (1938). The Rise and Fall of
Muhammad bin Tughluq. London: Luzac and Co.
Mjumdar, R. C. (1948). An Advanced
History of India. London: Mac Milan & Co.
Qureshi, I. H. (1942). The Administration
of The Sultanate of Delhi. Lahore: SH. Muhammad Ashraf.
Schimmel, A. (1980). Islam in The Indian
Subcontinent. Leiden: EJ Brill.
Smith, V. A. (1928). The Oxford History
of India: from The Earliest Times to The End of 1911. Oxford: Clarendon.
[1]Ferishta mencatat bahwa ayahnya adalah seorang budak Turki milik Balban
dan ibunya adalahwanita Jat dari Punjab, Tughluq Shah lahir di India. Vincent A
Smith, The Oxxford Hsitory of India: From the Earliest Times to the End of
1911, (Oxford: Clarendon, 1928), hlm. 236.
[2]K. Ali, History of India, Pakistan, and Bangladesh, (Dhaka: ali
Publication, 1980), hlm. 90.
[3]Para ahli sejarah berbeda pendapat mengenai kematian Ghiyasuddin
Tughluq. Menurut Ibnu Batuta, kematiannya adalalah konspirasi puteranya yang sengaja
membangun panggung kayu yang rapuh agar ambruk ketika derapan langkah gajah. Ziauddin Barani berpendapat bahwa
sultan meninggal karena terkejut oleh petir. Menurut penelitian berikutnya
ditemukan bahwa runtuhnya bangunan tersebut murni kecelakaan dan puteranya
terbebas dari tuduhan kesengajaan. Ali, History, hlm, 89-90 dan M. Abdul
Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Bagaskara,
2017), hlm. 268.
[4]R. C. Mjumdar, An Advanced History of India, (London: Mac
Milan&Co., 1948), hlm. 317.
[5]Vincent A Smith, The Oxford History of India: from he Earliest Times
to The End of 1911, (Oxford: Clarendon, 1928), hlm. 237.
[6]Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: Grafindo,
2000), hlm. 676.
[7]Annemarie Schimmel, Islam in The Indian Subcontinent, (Leiden:
EJ Brill, 1980), hlm. 20.
[8]Teks yang dicetak adalah “Farajal” tetapi yang lain sependapat dalam
membaca Karajal. Penaklukkan gunung Qarachil di antara wilayah India dan negeri
Cina. H. M. Elliot, The History of India as Told by Its Own Historian Vol
III, (London: Trubner and Co., 1873), hlm. 241.
[9]R. C. Mjumdar, An Advanced History of India, (London: Mac
Milan&Co., 1948), hlm. 321.
[10] S.M. Ikram, ,Musliu Civilization in India (New York: Columbia
University Press, 1954), hlm. 70.
[12] Aghda Mahdi Husain,
The Rise and Fall
of Muhammad bin Tughluq,(London: Luzac&Co., 1938), hlm. 125.
[15] Elipstone
(Mountstuart), The History of India ; The
Mohammetan Peroids (London: Jhon Murray, 1857), hlm. 348.
[16] H.G. Rawlinson, A Concise History of the Indian People (London:Oxford University Press, 1956), hlm. 131.
[18]Ibnu Batutah lama tinggal di Kerajaan Bangla dan banyak mengisahkan
kelaliman raja itu dalam kisah perjalanannya.
Komentar
Posting Komentar