DINASTI KHALJI
Dinasti Khalji
PEMBAHASAN
A. Asal-Usul
Dinasti Khalji
Dinasti Khalji berasal dari nama
Khalj, daerah pegunungan di Afganistan, yang beberapa abad sebelumnya orang
berkebangsaan Turki tesebut sudah menetap disana. Mereka sangat berjasa dalam
Islamisasi di India. Sebelum berdirinya dinasti Khalji di India, Dinasti
Mamalik sudah berdiri lebih awal dan berkuasa.
Setelah Balban wafat
(1287 M) sultan dari dinasti Mamalik di India, Kaikobad diangkat untuk
menggantikan, tetapi ia tidak mampu memangku kedudukannya sehingga ia hanya
menjadi boneka pejabatnya, Nizamudin. Setelah Nizamudin wafat, muncul kekuatan
baru dari Afghanistan, kedudukannya diambil oleh Malik Firuz yang berhasil
menduduki Delhi dan merebut kekuasaan sultan tahun 1290 M, kerajaan Islam pasca
budak-budak Turki tersebut digantikan oleh orang-orang Turki Khilji, berdirilah
Dinasti Khalji dengan sultan pertamanya Malik Firuz, ia naik tahta dengan gelar
Jalal Ad-Din Firuz Khalji (1290-1296).[1]
B. Perkembangan Sosial-Politik
Selama enam tahun Jalaluddin Firuz
Khalji berkuasa, ia tidak pernah bertindak keras dan tegas sama sekali terhadap
rakyat. Dalam perkembangannya sultan memiliki dewan (council) penasihat tempat
ia menerima pertimbangan atas masalah-masalah penting yang berkaitan dengan
negara. Jalaluddin Firuz Khalji biasanya mengambil saran dari dewan sebelum
mengambil langkah penting diberbagai bidang.
Pada tahun 1294 M, Firuz mengirim
pasukan berkekuatan 8.000 tentara, dibawah komandan menantunya, yang bernama
Muhammad, ia menyerang Bielsa, Dakkan, Khandos, Berar, dan Dewagiri. Pasukan
ini berhasil menaklukan daerah-daerah tersebut bahkan berhasil pula menawan
raja Ramchandra dan kembali ke pangkalannya dengan membawa ghanimah yang cukup
besar berupa emas, permata, mutiara, perak dan lain-lain, yang sesungguhnya
tidak disetujui oleh Sultan
Muhammad diangkat wali
di Kara, yang kemudian ia manfaatkan kesempatan ini untuk berkuasa penuh. Pada
tahun 1296 M, ia mengundang sultan ke daerahnya dengan niatan yang licik.
Sultan datang untuk mengucapkan selamat, namun dalam pertemuan tersebut sultan
dibunuh oleh menantu sekaligus keponakannya sendiri.
Alauddin Khalji (1296-1316) naik
dengan dukungan para bangsawan, ia seorang penakluk India yang sejati, pada
masanya hampir seluruh India dapat dikuasai termasuk wilayah yang paling jauh
di selatan, Daar Samudra (Deccan). Meskipun sultan Alauddin Khalji sangat kuat,
menguasai seluruh India, namun tetap memperoleh pengakuan dari khalifah untuk
legitimasinya. Satu-satunya sultan yang memutus ikatan dengan pusat adalah
anaknya Alauddin Khalji, Mubarak Shah, yang mengumumkan sebgai khalifah yang
berdaulat penuh.[2]
Alauddin Khalji berhasil menertibkan
situasi politik, ia memperkuat pengawasan terhadap para pejabat dan para
pemimpin Hindu. Pasukan tentara ditingkatkan dan perekonomian dinasti diatur
secara menyeluruh, sultan mengangkat dua orang pejabat tinggi yaitu
Shahnama-e-Mandi (Kepala Bulog) dan Dewan-e-Riasat. Pengendalian harga
dilakukan secara ketat. Segala macam intrik, kebejatan moral, dan penyebaran
desas-desus secepatnya ditindak, kelak-kelik pejabat dibubarkan. Para pejabat
tidak boleh melakukan perkawinan tanpa izin dari kerajaan. Gaji-gaji para
pejabat dipotong bertujuan untuk mengurangi peredaran uang yang berlimpah di
Delhi akibat rampasan perang dari kerajaan Hindu. Pajak pertanian dinaikkan
untuk mendorong para petani memperluas lahan pertaniannya. Kebijakan yang
lainnya adalah dengan menjadikan daerah-daerah utara sebagai daerah aneksasi,
sedangkan di daerah selatan raja-raja Hindu tidak diganti, mereka hanya
diwajibkan untuk mengakui supremasi dinasti Khalji dan membayar pajak tahunan.[3]
Sewaktu Sultan wafat, pemerintahan
diserahkannya kepada panglimanya, Malik Kafur, yang menaklukan Deccan dan India
Selatan lainnya. Kemudian Malik Kafur melantik Sahab Ad-Din Umar menjadi sultan
yang hanya berlangsung 35 hari karena terjadi perebutan tahta dengan Quthb
Ad-Din, anak ketiga dari Alauddin- Khalji, Sahab Ad-Din Umar dibunuhnya dan
Quthb Ad-Din mengangkat dirinya menjadi Sultan. Quthb Ad-Din Mubarak Khalji
memerintah selama 2 tahun selaku raja yang ganas dan buas. Perbuatannya yang
sewenang-wenang itu diberantas oleh gubernurnya, Khusru, seorang Hindu dari
golongan Paria, yang kemudian ia mengangkat dirinya menjadi sultan dengan nama
Nasiruddin. Akan tetapi kenyataannya ia lebih buas lagi dari sultan yang
digantinya. Kemudian Khusru dibunuh oleh Ghazi Malik, dengan terbunuhnya Khusru
berakhirlah dinasti Khalji digantikan dengan dinasti Tughluq.
C. Perkembangan Sosial-Budaya
Ketergantungan wanita kepada
suaminya merupakan ciri khusus dalam kehidupan sosial diantara umat Hindu dan
muslim di India. Mereka menikmati posisi terhormat dalam masyarakat.
Adat-istiadat wanita beragam menurut kelasnya masing-masing. Beberapa wanita
kelas atas menunjukkan perhatian mendalam terhadap seni dan ilmu pengetahuan.
Wanita desa biasa waktunya terserap dalam tugas-tugas rumah tangga mereka.
Sistem purda telah umum baik dikalangan Hindu maupun muslim kecuali dibeberapa
kota pesisir pantai.
Beberapa sultan bersikap dermawan
dan alim, tetapi beberapa diantara mereka sombong dan tidak bermoral. Pemusik,
atlet dan pujangga sering dipanggil pentas dalam istana kerajaan. Selain itu
ulama memiliki kehormatan yang tinggi dan mempunyai pengaruh yang besar dalam
masyarakat. Kekuatan ulama dibatasi oleh Alauddin Khalji, tetapi setelahnya,
tidak ada usaha yang dilakukan untuk mengekang pengaruh ulama.
Hasil kebudayaan dinasti Khalji;
berupa bangunan masjid yang hingga saat ini masih dikunjungi oleh para
wisatawan, antara lain: Adina Masjid, Sat Gumus Masjid (terdiri dari 60 kubah)
di Bagerhad, Menara Hushang Shah yang semuanya dibangun dengan batu marmer
putih. Pada masa Alauddin Khalji juga diperbaiki kembali benteng-benteng yang
dibangun sultan Balban dan benteng-benteng yang baru didirikan untuk persiapan
jika mendapat serangan bangsa Mongol.[4]
D. Peranan Dinasti Khalji
Sebagai dinasti yang berkuasa
selama tiga puluh tahun, tentunya mempunyai peranan yang penting. Setelah Islam
masuk ke India mereka merasa tertolong dari kekejaman dan meninggikan martabat
wanita. Kontak antara Islam dan Hindu yang terjalin dengan baik mempengaruhi
arsitek muslim yang menampilkan detil sifat-sifat tertentu dari Hindu.
Peranan dinasti khalji
lainnya yang sangat nampak adalah meluasnya wilayah kekuasaan dinasti Islam,
dinasti ini dapat menaklukan daerah yang belum berhasil ditaklukan oleh dinasti
sebelumnya, dan mampu menangkis serangan bangsa Mongol yang terjadi pada tahun
(1297-1307), selain itu dinasti Khalji juga meningkatkan perekonomian rakyat.
[2] Ading
Kusdiana, Sejarah Kebudayaan Islam Periode Pertengahan, (Bandung,
Pustaka Setia: 2013), hlm. 214.
[3]
Ibid, Hlm, 215-217.
[4] Siti
Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern,
(Yogyakarta, LESFI:2003), hlm,170-173.
Komentar
Posting Komentar