Awal Kekuasaan Turki di India


PEMBAHASAN
A.    Kesultana Delhi:  Awal Kekuasaan Turki di India
Setelah Muhammad Ghuri Meninggal Dunia, karena tidak mempunyai anak laki-laki dan sebelumnya ia telah memberi Letter of Manumission (Merdeka dari Perbudakan) kepada bekas Budak dan Panglima Perangnya, Quthubuddi Aybek. Disamping itu tidak ada yang menguasai wilayah tersebut. Dengan itu maka naiklah Aybek menjadi pengganti Ghuri dengan Gelar Sultan pada tahun 1206 M. Sejak saat itu berdirilah Dinasti Mamluk (1206-1290 M).[1]
1.      Quthubuddin Aybek
Dinasti Mamluk disebut sebagai awal kekuasaan Turki di India yang didirikan oleh Quthubuddin Aybek pada tahun 1206. Di awal abad ke-13 M dinasti ini sudah menguasai Wilayah Utara India dari Khyber Pass hingga Bengal.[2] Setelah Quthubuddin naik tahta, didirikan Masjid Raya bernama Quat al-Islam di Delhi. Ia juga mendirikan Quthub Minar[3]. Ia mendirikan Quthub Minar di atas Runtuhan sebuah Kuil Hindu yang besar yang hingga saat ini masih tetap berdiri tegak dan menjadi daya Tarik di Delhi.[4] Tingginya 257 kaki yang bukan hanya digunakan sebagai tempat Adzan tetapi juga sebagai Tugu kemenangan dan Mamluk juga memperluas tembok kota Hindu dan dikenal dengan kota Kila’ Ray Pithora[5]. Di Ajmir didirikan pula sebuah Masjid Raya yang memakai namanya. Ia dikenal sangat Dermawan.
Dinasti ini dinamakan Mamluk karena dibentuk oleh para budak atau hamba sahaya. Mereka terdiri dari 2 kelompok, yaitu Mamluk Bahri dan Mamluk Burji. Mamluk Bahri berasal dari Caucasus, di daerah sekitar Rusia dan Turki. Mereka dibawa oleh penguasa Dinasti Ayubiyah (Abbasiyah). Sedangkan Mamluk Burji berasal dari Syirkasiah (Turki), dibawa oleh pemerintah Mamluk ketika itu, yakni Sultan Qalawun (1279 – 1290). Kemudian mereka dididik di tempat khusus dan dijadikan tentara.
Dinasti Mamluk sebenarnya ada 2, yaitu di India (1206 – 1290) yang dibentuk oleh Qutbuddin Aybek dan di Mesir (1250 – 1517). Pada awalnya, Quthubuddin ini seorang jenderal dari Dinasti Ghuri yang berhasil memperluas wilayah ke India pada akhir abad ke-12.
2.      Altamasy
Setelah Quthubuddin Aybek, kepeimpinan digantikkan oleh anaknya, Aram Shah. Tetapi dalam pemerintahannya tidak efisien dan populer, maka pembesar Istana mengangkat menantu Aibek yang juga seorang Mamluk yang telah dimerdekakan, yaitu Altamasy (1211-1236 M). Dia pun seorang Raja Islam yang besar, Pandai mengatur Negeri dan berjasa melanjutkan kekuasaan Islam kesebelah Utara dengan menaklukkan Negeri Malawa. Jasa Altamasy yang paling besar adalah kekuatan pribadinya, penuh persiapan dan mempunyai pertahanan Negara yang Kuat. Ketika tentara Mongol memasuki Punjab, dengan kekuatan tentara dan pertahanan yang baik, tentara Mongol dapat di usir dari Wilayah Kekuasaannya.[6] Setelah Altamasy meninggal dunia, ia digantikan oleh anak perempuannya bernama Raziya.
3.      Raziya
Sultan Altamasy sebelum menunjuk Raziya sebagai penggantinya pernah menunjuk anak laki-lakinya, tetapi tidak ada satupun yang mampu menjalankan kepemimpinan dengan baik. Akhirnya naiklah Raziya sebagai pemimpin menggantikan Ayahnya. Namun, para pembesar Istana yang keberatan dengan diangkatnya Sultan Perempuan mengangkat Saudaranya, yaitu Rukunuddin Firuz. Ternyata ia juga tidak mampu, maka Raziya diangkat kembali. Dalam sejarah Islam, Sultana Raziya adalah perempuan pertama yang berkuasa.[7] Dia memimpin dari Delhi Timur hingga ke Barat Peshawar dandari Kashmir Utara hinggake Selatan Multan.[8] Pada tahun 1240 M terjadi pemberontakan untuk menolak Sultan perempuan yang menjatuhkan Raziya oleh Bahram Shah, putra dari Iltutmish. Sama halnya seperti Rukunuddin, ia pun tidak mampu memimpin. Kemudian pamannya, Nasiruddin Mahmud, naik pada tahun 1246 M. Nasiruddin adalah sultan yang saleh.
4.      Ghiyasuddin Balban
Setelah berakhirnya masa pemerintahan Nasirudin, Balban diangkat menjadi Sultan. Pada masa kepemimpinannya, Balban mampu menahan serangan bangsa Mongol yang kedua ke India dan mengusir mereka. Berkat jasanya itu dia diakui sebagai penguasa dengan memakai gelar Sultan (1266-1287 M). Setelah Balban tidak ada lagi orang yang kuat mempertahankan kekuasaannya. Sehingga, kemudian munculah dinasti-dinasti kecil Islam yang memerintah Negeri India.

B.     Kemunduran Dinasti Mamluk di India
Setelah terbunuhnya Ghiyasuddin Balban, dia adalah raja terkhir dari kerajaan yang di bangun oleh budak-budak yang berasal dari Turki di Delhi (India), maka berakhirlah juga kerajaannya.[9]
Satu pendapat mengatakan bahwa pada pertangahan hingga akhir abad ke-14 terjadi musibah besar berupa “Wabah Pes” (Black Death) yang melanda eropa dan memakan lebih dari puluhan juta jiwa yang berdampak pada kegiatan ekonomi, seperti mengurangi hasil panen dan populasi secara drastis. Dari kejadian tersebut diduga juga berdampak pada sekitaran India.[10] Namun, belum ada kepastian mengenai bagaimana pengaruh wabah tersebut terhadap India.
Namun secara umum, bisa dikatakan awal kekuasan Turki di India runtuh akibat dari ketidakstabilan di dalam pemerintahan  dan ketidakcakapan sultan-sultannya. disamping itu juga banyaknya  pemberontakan di dalam negeri. dari hal-hal tersebutlah menyebabkan kekuataan pemerintah semakin lama semakin melemah. seperti runtuhnya Dinasti Mamluk yaitu terdapat sultan yang tidak mampu menjalankan sistem pemerintahan dengan baik dan ini bisa dilihat pada masa sultan Kaikobad. Ketidakbecusan tersebut membuat pihak-pihak tertentu menggulingkan kekuasaannya, namun malah membuat kesalahan besar lainnya dengan mengangkat sultan yang masih berusia tiga tahun.[11]

C.     Warisan Dinasti Mamluk
1.      Quthub Minar (gambar a.1)
2.      Quat al-Islam (gambar a.2)
3.      Peta (gambar a.3)
4.      Jalur Penaklukkan (gambar a.4)






Description: C:\Users\Irmha Melani\Pictures\qutub-minar-2 india.jpg
Text Box: Gambar a.2
Description: C:\Users\Irmha Melani\Pictures\image013 masjid india.jpg
Text Box: Gambar a.1
Description: C:\Users\Irmha Melani\Pictures\slave-dynasty-map.jpg
Text Box: Gambar a.4
 
























Description: C:\Users\Irmha Melani\Pictures\EdwardICrusadeMap.jpg
Text Box: Gambar a.3
 







BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sepeninggalan Muhammad Ghuri dan tanpa ada keturunan darinya membuat Quthubuddin Aybek yang merupakan budak sekaligus panglima perang naik menjadi seorang sultan. Kemudian ia mendirikan Dinasti Mamluk di India (1206-1920 M). Setelah Aybek wafat  kepemimpinan dilanjutkan oleh keturunan-keturunanya, yaitu Altamsyi, Rajiya dan Ghiyasuddin Balban. Namun pada masa Rajiya mendapatkan pertentangan karena pada masa itu tidak ada perempuan yang menjadi pemimpin dalam pemerintahan. Pada masa-masa selanjutnya Dinasti Mamluk mulai mengalami kegoyahan-kegoyahan, disamping karena pemimppin yang tidak cakap tetapi juga ketika di akhir-akhir pemerintahan dinasti mamluk malah memilih seorang balita menjadi seorang pemimpin. Akhirnya banyak yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Dinasti Mamluk. Maka dari itu runtuhlah dinasti mamluk pada 1290 M.

B.     Saran
Semoga dengan adanya makalah ini dapat mempermudah pembaca dalam mengkaji tentangSejarah Dinasti Mamluk di India. Kritik dan saran sangat kami perlukan dalam mengembangkan makalah ini dikarenakan masih banyak kekurangan baik itu dari segi wawasan ilmu penulis dan terbatasnya sumber yang diperoleh.













DAFTAR PUSTAKA
Syaefudin, Machfud, dkk. DinamikaPeradaban Islam. Yogyakarta: PustakaIlmu. 2013
Ruslan, Heru, dkk. Menyusuri Kota Jejak Kejayaan Islam. Jakarta: Harian Republika. 2014
Suparman, Sulasman. Sejarah Islam di Asia dan Eropa. Bandung: Pustka Setia. 2013
Maryam, Siti, dkk. SejarahPeradaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern. Yogyakarta :LESFI. 2012.
Rahim, Yunus dan Abu Abddan Haif. Sejarah Islam Pertengahan. Yogyakarta: Ombak. 2013
Hamka. Sejarah Umat Islam Jilid III. Jakarta: Bulan Bintang. 1975.
Karim, M. Abdul. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet ke-7. Yogyakarta: Bagaskara, 2017.
“http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/12/06/ohq5xd313-kondisi-sulit-di-akhir-langkah-ibnu-battuta”  23Oktober 2017.




[1] Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Modern, (Yogyakarta: LESFI.2012), hlm. 169
[2] Heri Ruslan dkk, Menyusuri Kota Jejak Kejayaan Islam, (Jakarta: Harian Republika, 2014), hlm. 175.
[3] Minhaju Siraj, Tabakate Nasiri Dalam Babur, Babur Nama, hlm. 194-195.
[4] Hamka, Sejarah Umat Islam .Jilid III.(Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hlm. 130.
[5] Abd. Rahim Yunus dan Abu Haif, Sejarah Islam Pertengahan, (Yogyakarta: Ombak, 2013), hlm. 340.
[6]Ibid., hlm. 281-282
[7] Yang kedua adalah Sajarah a Durr 1249 M, pendiri dinasti Mamluk di Mesir (1249-1517)
[8]Ibid., hlm. 175
[9] Ibid., hlm. 282.
[10] Diakses dari“http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/12/06/ohq5xd313-kondisi-sulit-di-akhir-langkah-ibnu-battuta” Diakses pada 23 Oktober 2017
[11] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Cet ke-7,  (Yogyakarta: Bagaskara, 2017), hlm. 264-265

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Lisan, Teka Teki di Indonesia dan contohnya

PEMBAHARUAN SHER SHAH SURI

Harmoni di Ufuk Timur Kediri