Revolusi Islam Iran



REVOLUSI ISLAM IRAN


A.    Masa Pemerintahan Shah Pahlavi

1.      Pembangunan


Pada tahun 1953, Shah Pahlevi kembali dari pengasingannya sejak ia dikudeta oleh Perdana Mentri Musaddeq, ia memulai pemerintahannya dengan melakukan beberapa kebijakan modernisasi. Kebijakan itu disebut Revolusi Putih, yang dijalankan guna menata ulang struktur sosial dan ekonomi masyarakat Iran, yang sebelumnya dibawah kuasa kudeta Mussadeq kehidupan rakyat jauh dari kesejahteraan. [1]
Shah Pahlavi memerintah dengan gaya otoriter. Ia menempatkan tokoh-tokoh militer di hampir semua poros-poros pemerintahannya. Ia memberlakukan gaya kepemimpinan yang didasarkan pada kekuatan militer. Tidak hanya itu, Shah Pahlevi juga mengangkat dan menempatkan orang-orang kepercayaannya untuk menguasai lembaga majelis dan parlemen, sehingga dua lembaga legislatif itu selalu mendukung setiap keputusannya.
Dengan segala usahanya tersebut, Shah Pahlevi berhasil menggelar berbagai pembangunan di Iran. Ia memfokuskan pembangunannya di bidang infrastruktur terutama transportasi, telekomunikasi dan pertanian. Tak hanya itu, Iran juga mampu membangun 500mil rel kereta trans Iran yang menghubungkan Isfahan, Tabriz, Mashad, Selat Kaspia dan Teluk, membangun jalan raya 13.000 mil serta membangun jalan-jalan beraspal yang menghubungkan kota-kota besar dengan desa-desa. Iran pun mulai mengembangkan teknologi telekomunikasi dan informasi sehingga telekomunikasi sudah bisa menjangkau desa-desa. Dengan perkembangan berbagai infrastruktur tersebut, Shah Pahlevi dapat mencapai targetnya untuk memperbesar jalur distribusi dan memperbesar pengaruhnya langsung ke desa-desa daerah pelosok.[2]
Diantara berbagai targetnya dalam pembangunan, Diluar itu, ia juga mengusahakan pembangunan dengan memperbesar belanja pembangunan, ia mengalokasikan US$ 2,5 miliar untuk pengembangan industri dengan ambisi dapat memproduksi sendiri kebutuhan konsumsi, seperti pakaian, makanan, minuman, alat elektronik, motor dan lain-lain. Pertumbuhan industri dasar dan menengah juga dikembangkan olehnya, khususnya minyak dan gas, baja, petrokimia, alumunium dan barang permesinan. Kemudian terjadilah revolusi industri skala kecil di Iran.
Kota Teheran menjadi pusat pembangunan Iran, Shah Pahlevi berhasil menyulap kota itu dengan tumbuhnya pusat-pusat bisnis, proyek konstruksi, gedung-gedung pencakar langit dan perumahan-perumahan. Tak berhenti disitu, Shah Pahlevi juga membelanjakan US$ 1,9 miliar untuk mengembangkan sumber daya manusia. Ia membangun berbagai fasilitas pendidikan, mendirikan sekolah-sekolah dan universitas serta pusat-pusat penelitian dan pengembangan IPTEK. Membangun fasilitas kesehatan, rumah sakit, klinik-klinik, sekolah perawat dan dokter. Pembangunan industri, fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan inilah yang banyak mendorong masyarakat berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke Teheran, akibatnya terjadi ledakan penduduk di Teheran. Ledakan penduduk menyebabkan timbulnya kelas-kelas sosial, kelas pekerja menengah ke bawah dan kelas tenaga ahli terdidik baik dari luar negeri (Eropa dan Amerika) maupun dari Iran sendiri.

2. Penyimpangan pemerintahan Shah Pahlavi


Meskipun telah melakukan berbagai modernisasi ekonomi, Shah Pahlevi tidak pernah sekalipun membuka kebebasan politik di Iran. Ia hanya fokus memperkuat 3 pilar penyangga kekuasaannya, yaitu angkatan militer, jaringan kroni dan birokrasi. Pada tahun 1977, Iran berhasil memiliki angkatan laut terbesar di Teluk Persia, angkatan udara terbaru di Timur Tengah dan angkatan bersenjata terbesar kelima di dunia.[3]
Selain itu, Shah Pahlevi juga memperlebar jaringan kroni-kroninya dan birokrasi. Ia memberikan perhatian utama bagi orang-orang yang bersedia membaktikan diri demi kelangsungan pemerintahan monarkinya. Ia menawarkan gaji yang tinggi, fasilitas mewah, tunjangan melimpah, dan pekerjaan nyaman bagi mereka. Birokrasi pada masa itu tumbuh dari 150.000 pegawai negeri menjadi 304.000 pegawai negeri. Pertumbuhan ini memungkinkan negara dengan leluasa masuk dan mengatur semua sendi-sendi kehidupan masyarakat Iran.
Shah Pahlevi mampu melakukan semua itu berkat kekayaannya yang bersumber dari korupsinya dan korupsi para kroni setianya. Pada awal tahun 1970 keluarga Shah Pahlevi merupakan keluarga terkaya di Iran. Mereka menguasai beberapa perusahan mesin, pabrik mobil, perusahaan tambang, tekstil, semen, konstruksi, dan asuransi. Sumber kekayaan keluarga Pahlevi masuk dalam yayasan Pahlevi Foundation yang setiap tahunnya menerima subsidi US$ 40 juta, sehingga perusahaan-perusahaannya bebas dari pajak.[4]
Walaupun pembangunan yang dilakukan Shah Pahlevi bisa dikatakan berhasil, namun pembangunan ini justru lebih memperkaya golongan kaya, dan sebaliknya menyengsarakan golongan miskin dan menengah ke bawah. Pada tahun 1976 terjadi peningkatan harga minyak dunia yang tentu saja menambah pemasukan negara. Akan tetapi, keuntungan itu hanya bisa dinikmati oleh golongan kaya, terjadi kesenjangan yang sangat lebar antara golongan kaya dengan golongan miskin. Masyarakat mulai mencium adanya ketidakadilan di tubuh pemerintahan Shah Pahlevi. Dan memang kenyataannya pucak korupsi terjadi pada tahun 1977, dimana korupsi birokrasi diperkirakan sedikitnya 1 miliar dolar. Maka terjadilah krisis ekonomi di Iran.[5]
            Ketika 1962, tepatnya ketika shah juga mengumumkan sebuah undang undang peralihan bagi rakyat iran sebagai pengganti Al Quran, seseorang dari Qum  bangkit dari duduknya, orang itu adalah Ayatullah Khoemini yang memerintah pemogokan kerja masal, dan kegiatan di kota Qum dan Teheran pun berhenti, sebagai protes yang menghina islam dan penyimpangan shah Pahlevi.[6]

B.     Pecahnya Revolusi Islam Iran

 

Ketika ekonomi mulai mengalami kekacauan, kalangan menengah terpelajar mulai menyerukan kebencian mereka terhadap monarki Pahlvi. Mereka membanding-bandingan Iran dengan negara-negara di Eropa dan Amerika Utara yang mampu memberikan posisi bagi kaum menengah, sedangkan Iran justru menghilangkan peran kaum menengah. Pada Juni 1978 protes keras atas Shah Pahlavi mulai bergejolak di universitas, bazar, dan dari kalangan menengah. Masyarakat miskin perkotaan, khususnya buruh konstruksi dan pekerja pabrik, ikut melancarkan aksi protes dengan demonstrasi di jalan-jalan.[7]
Berbagai upaya mereka lakukan untuk memangkas kekuasaan Shah Pahlavi, akan tetapi segala upaya mereka terhalang oleh kekuatan militer yang sepenuhnya dibawah kendali Shah Pahlavi. Dalam upaya-upaya ini mucullah Ayatullah Ruhullah Khomeini sebagai satu-satunya ulama yang mampu memposisikan diri sebagai pemimpin golongan oposisi dari berbagai pihak.
Awalnya, Ayatullah Ruhullah Khomeini hanyalah seorang cendekiawan muslim yang tak terlalu terkenal dari Kota Qom. Sejak tahun 1963, ia sudah mulai memimpin pemberontakan melawan berbagai modernisasi yang dilakukan oleh Shah Pahlavi di Iran, yang dianggapnya bertentangan dengan agama Islam. Ia menganggap Shah Pahlavi sebagai boneka Amerika.[8] Kebijakan Shah Pahlavi yang kuat untuk melakukan modernisasi dan kedekatan dengan kekuatan barat (Amerika Serikat) berbenturan dengan identitas Muslim Syi'ah Iran. Shah Pahlavi, merupakan orang yang sekuler, berbeda dengan cara pandang rakyat Iran pada umumnya yang sangat menghormati agama (Islam Syiah) dalam kehidupan mereka sehari-hari. Semua hal tersebut membangkitkan nasionalisme Iran, baik dari pihak religius dan sekuler. menganggap Shah sebagai boneka barat yang harus diperangi.[9]
Khomeini menginginkan sebuah pemerintahan yang berdasar pada Al-Quran dan sesuai dengan model masyarakat Islam di era Nabi Muhammad SAW. Gagasan ini sudah pasti bertentangan dengan modernisasi yang dirintis oleh Shah Pahlavi, akibatnya Khomeini harus menglami pengasingan selama 15 tahun sejak November 1964. Sebelum pengasingannya, ia sempat menguraikan visinya tentang pemerintahan Islam dalam serangkaian ceramah bertajuk Velayate Faqih. Hasil ceramahnya itu beredar dibawah tanah menjelang revolusi pada tahun 1978-1979 sebagai “manual revolusi”. Di situ, ia menjabarkan tentang reorganisasi masyarakat, panduan praktis mendirikan sebuah Negara berdasarkan Al-Quran, dan konsep seputar posisi sentral seorang ulama dalam kehidupan masyarakat.
Walaupun diasingkan selama 15 tahun di Paris, tetapi jutaan rakyat Iran hampir setiap hari mendengar pesan-pesan Khomeini melalui jaringan pendukungnya dari kalangan ulama, yang aktif menyebarkan pamflet dan kaset ceramah Khomeini. Selain dari kalangan ulama, kehadiran Khomeini juga didukung oleh kelompok terdidik, terutama di kampus.[10]
Penyebaran poster, pamflet, kaset, ceramah keagamaan dan makin seringnya kehadiran kaum ulama diberbagai tempat semakin membuka mata banyak warga Iran. Orang-orang mulai ramai menceritakan tentang kenyamanan hidup Shah Pahlavi diatas penderitaan rakyatnya mengais penghidupan. Beredar pula kabar bahwa Shah Pahlavi telah berganti agama menjadi agama Yahudi. Sebelumnya, saudara tua Shah Pahlavi, Putri Shams telah berganti agama menjadi Katolik, sehingga sebagian kalangan menganggap ini sebagai penghinaan keluarga Shah terhadap Islam. Namun, Shah Pahlavi tidak terlalu mempedulikan masalah ini, ia merasa masih punya kekuatan besar atas media, radio dan televisi serta kekuatan militer.
Demonstrasi masih terus berlanjut di berbagai daerah di Iran. Di Teheran, ratusan ribu mahasiswa terus melanjutkan demonstrasi mengecam Shah Pahlavi dan mengagungkan sosok Khomeini sebagai pemimpin alternatif. Golongan buruh dari berbagai sektor ikut menyuarakan dukungannya. Pemogokan mulai mewabah hingga produksi minyak Iran berhenti sama sekali. Kemudian disusul pemogokan karyawan perusahaan listrik yang membuat kota gelap gulita. Sementara pemogokan hampir melumpuhkan seluruh  perekonomian Iran, semakin hari kesehatan Shah Pahlevi semakin memburuk. Ditambah lagi orang-orang yang dulunya dia andalkan kini hanya tersisa segelintir.
Pada 7 September 1978, sekitar setengah juta penduduk Teheran turun ke jalan menyuaraka aspirasinya dengan meneriakkan umpatan pada Shah Pahlavi. Ini adalah demonstrasi terbesar yang pernah terjadi di Iran. Shah meresepon demonstrasi itu dengan mengerahkan semua kekuatan militernya. Protes ini menelan korban hingga ribuan orang, walaupun begitu tetap tidak menyurutkan keinginan rakyat untuk melengserkan monarki Shah Pahlevi.
Demonstrasi mencapai puncaknya pada Desember 1978, dua juta lebih penduduk Iran turun ke jalan memprotes Shah Pahlevi, dan meneriakkan “Khomeini”. Shah Pahlevi beserta istrinya yang semakin terdesak melarikan diri ke Mesir pada 16 Januari 1979. Kekuatan militer terbesar kelima di dunia itu pun memilih bersikap netral. Kemudian kekuasaan monarki Shah Pahlevi berakhir sekitar dua pekan setelah ia meninggalkan Iran. Bersamaan dengan itu, Khomeini kembali dari pengasingannya ke Teheran. Seluruh warga menyambut kedatanagn Khomeini dengan penuh suka cita.[11]
Di bandara, Khomeini menyampaikan sebuah pidato singkat, ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh masyarakat Iran yang membaktikan diri untuk tercapainya revolusi. Ia juga berpesan, walaupun Shah telah pergi dariIran, namun sisa-sisa pendukungnya masih ada di Iran, sehingga masyarakat perlu untuk tetap bersatu demi mencapai kesuksesan revolusi. Ini  pertama bagi jutaan penduduk Iran melihat Ruhullah Khomeini secara langsung setelah 15 tahun pengasingan. Ini pertama kali pula mereka mendengar langsung janji Khomeini bahwa Revolusi Islam Iran akan mengangkat kesejahteraan rakyat dan mempertebal keyakinan mereka akan perubahan masyarakat Iran ke arah yang lebih baik.









 



BAB III

PENUTUP

Kesimpulan


Shah Mohammad Reza Pahlavi menjalankan pemerintahan yang brutal, korup dan boros. Kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah yang terlalu amnbisius menyebabkan inflasi tinggi, kelangkaan dan perekonomian yang tidak efisien. Kebijakan Shah yang kuat untuk melakukan westernisasi dan kedekatan dengan kekuatan barat “Amerika Serikat” berbenturan dengan identitas Muslim Syi’ah Iran, hal ini termasuk pengangkatannya oleh kekuatan sekutu dan bantuan dari CIA pada 1953 untuk mengembalikannya ke kekuasaan, menggunakan banyak penasihat dan teknisi militer dari Militer Amerika Serikat dan pemberian kekabalan diplomatik kepada mereka.
Keberhasilan revolusi Islam Iran pada tahun 1979 sangat ditentukan oleh kesadaran rakyat Iran bahwa untuk keluar dari cengkeraman kekuatan monarkhi Shah Iran yang bersekutu dengan Amerika Serikat dengan cara menyatukan kekuatan rakyat itu sendiri. Di bawah kepemimpinan Ayatullah Ruhullah Khomaini yang selalu mengobarkan spirit perlawanan terhadap ketidakadilan Shah Iran dari negeri pengasingan mempu mengusir Shah Reza Pahlevi dari negeri para Mullah tersebut dan selanjutnya menyerahkan sistem pemerintahan ditentukan oleh rakyat melalui referendum. Akhirnya Iran berubah dari sistem monarkhi kepada sistem republik Islam setelah berada di bawah kungkungan sistem kerajaan selama  beberapa decade.

DAFTAR PUSTAKA


Labib, Muhsin., dkk, 2006, Ahmadinejad David di Tengah Angkara Goliath Dunia, Jakarta: Hikmah
Naji, Kesra, 2009, Ahmadinejad: Kisah Rahasia Sang Pemimpin Radikal Iran, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
DR. Ibnu Burdah, MA, Konflik Timur Tengah Aktor, Isu, dan Dimensi Konflik, ( Yogyakarta; Tiara Wacana, 2006).

Yusliani Noor, Sejarah Timur Tengah (Asia Barat Daya), (Yogyakarta, Ombak(Anggota IKAPI), 2014.
Al Husaini M Daud dan Nurdan, Kebangkitan Revolusi Islam Iran,(Stain Malikussaleh, Lhoukseumawe, 2013, PDF.

Revolusi Islam Iran ; Suatu Kajian Tentang Peran Ulama dalam Mengakhiri Kekuasaan Mohammad Reza Fahlevi, (Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia, Skripsi)



[1] Mearsheimer, John J dan Walt, Steven M. Dahsyatnya Lobi Israel, Bagaimana Suatu Kelompok Kepentingan AS Menciptakan Kekacauan di Timur Tengah, Merusak Israel Itu Sendiri, dan Mengancam Perdamaian Dunia, terj. Alex Tri Kantjono Widodo, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), Hlm 353.
[2] Revolusi Islam Iran ; Suatu Kajian Tentang Peran Ulama dalam Mengakhiri Kekuasaan Mohammad Reza Fahlevi, (Bandung, Universitas Pendidikan Indonesia, Skripsi) Hlm 1.
[3] DR. Ibnu Burdah, MA, Konflik Timur Tengah Aktor, Isu, dan Dimensi Konflik, ( Yogyakarta; Tiara Wacana, 2006), Hlm 66.
[4]  Yusliani Noor, Sejarah Timur Tengah (Asia Barat Daya), (Yogyakarta, Ombak(Anggota IKAPI), 2014, Hal, 312.
[5] Ibid, Hlm, 312.
[6] Ibid, Hlm, 313.
[7]  Ibid, Hlm, 313.
[8] DR. Ibnu Burdah, MA, Konflik Timur Tengah Aktor, Isu, dan Dimensi Konflik, ( Yogyakarta; Tiara Wacana, 2006), Hlm, 67.
[9]  Yusliani Noor, Sejarah Timur Tengah (Asia Barat Daya), (Yogyakarta, Ombak(Anggota IKAPI), 2014, Hlm, 312.
[10] Ibid, Hlm, 316.
[11] Ibid, Hlm, 316.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Lisan, Teka Teki di Indonesia dan contohnya

PEMBAHARUAN SHER SHAH SURI

Harmoni di Ufuk Timur Kediri