Sejarah Islam dan Perdagangan di Barus


Sejarah Perdagangan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumuatera Utara


Pembahasan  
A.    Perdagangan di Barus
Barus menjadi salah satu pusat perdagangan tersibuk di Asia Tenggara, Barus sudah mulai memainkan perdagangan jauh sebelum nabi Muhammad lahir, pada masa kerajaan clopatra di mesir orang orang mesir sudah sampai di barus untuk perdagangan, Kisah Kota Barus pun punya dampak yang sangat berarti bagi negeri ini. Kala itu, banyak pedagang-pedagang dari berbagai bangsa terutama pedagang Arab yang beragama Islam menyandarkan kapalnya di Pelabuhan Baru demi berdagang dan memburu komoditi mahal pohon kapur barus. Imbasnya, perdagangan itu pun membawa akulturasi budaya dan agama yang kompleks.[1]
Dari budaya material yang dominan, dari prasasti tamil tahun 1088yang membuktikan kehadiran anggota anggota perkumpulan pedagang, serta penerapan dari sejumlah teknik, dan dapat di simpulkan bahwa Lobu Tua mereupakan sebuah tempat perdagangan yang di kunjungi.[2]
Daya tarik bangsa bangsa untuk datang ke barus adalah mereka ingin memburu kamper, sjarah kuno kamper rumit karena istilah “kapur” telah merujuk kepada bahan bahan yang berasal dari berbagai macam tumbuhan[3]
Diyakini bahwa kisah perdagangan di Kota Barus adalah gerbang masuknya Islam di Indonesia. Melalui Kota Barus inilah Islam terus menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Orang orang pribumi di barus adalah orang orang yang bersal dari Aceh, toba dan Sumatera Barat., Pada tahun 44 SM bangsa Arab sudah mengenalkan agama Islam di Barus  lewat perdagangan serta tak terlepas dari pengaruh besar dari wali Allah yaitu Syaikh Mahmud Barus, syaikh Mahmud barus juga di yakini sebagai salah satu pengislamisaian masyarakat pribumi.
Sebagai mana kita ketahui bahwa Barus adalah salah satu kota perdagangan tersibuk di karenakan barus adalaha penghasil wewagian yang berkualitas yang memiliki komoditi yang sangat mahal di timur tengah, selain itu juga barus adalah penghasil Emas, Sutra, Lilin, Madu, Kemenyan dan Kamper,maka dari situlah orang orang dari berbagai penjuru dunia berlomba lomba datang ke Barus dan tidak lain misa mereka adalah Perdagangan di barus. Di karenakan orang orang dari berbagai penjuru dunia datang ke barus maka marus menjadi pusat perniagaan dan perdaganan dunia yang menghubungkan dunia timur dan barat.

B.     Islamisasi di Barus
Katalog artefak menunjukan dengan jelas bahwa temuan berasal dari berbagai kawasan, termasuk kawasan yang jauh sekali dari kotanya, pluralime kebudayaan yang di tonjolkan dari benda benda jelas mencerminkan keanekaragaman penduduk dari segi daerah asalnaya.[4]
Kedudukan masyarakat lokal tidak menonjol dalam hasil penelitian.[5] Pada umumnya masyarakat lokal yang berada di barus adalah masyarakat pendatang semuanya tetapi masyarakat pendatang tersebut hanya datang dari daerah daerah yang berdekatan dengan barus tersebut seperti Aceh, Minangkabau, Toba dan sekitarnya.
Seperti apa yang sudah di jelaskan sebelumnya dalam gambaran awal tentang barus, barus  merupakan salah satu daerah yang kaya akan hasil alamnya salah satu buktinya adalah banyaknya di temukannya kamper atau di sebut dengan kapus Barus, yang mana pada saat itu orang orang dari berbagai penjuru dunia datang ke barus untuk mengambil hasil hasil alam di barus yang memiliki nilai jual yang sangat tinggi di daerah daerah Asia Tengah, dampak dari perdagangan tersebut di barus adalah islam berkembang di barus serta alkulturasi kebudayaan sudah di lakukan di barus oleh orang orang dari Arab, Persia, Gujarat dan lain lain.[6]
Pada tahun 627 M, Bagsa Arab mulai mengenalkan ajaran ajaran islam di barus untuk pertamakalinya, bangsa arab yang berdagang di barus juga ikut serta dalam pengislamisasian di Barus,di tambah lagi adanya para ulama ulama yang langsung datang dari Arab maupun syaikh yang sudah banyak belajar agama di Arab, salah satu bukti bahwa islam pertama kalinya masuk ke Nusantara di barus adalah di temukannya makam Mahligai yang mana makam ini sudah ada saat awal abad ke 7 di batu nisan makan itu terdapat tulisan Arab yang neunjukan tempat asal mereka, dan di tambah lagi dengan di temukanya Makam Syaikh Mahmud Barus yang panjangnya pencapai 7 meter, yang memiliki peranan penting sebagai orang yang pertamakali mengislamisasikan masyarakat pribumi di barus serta berhasil mengislamisasikan raja di Pakat suatu wilayah kekuasaan termasuk Barus dan wilayah sekiratnya.

C.     Keterkaitan Perdagangan dan Islamisasi di Barus
Seperti yang sudah di jelaskan di awal, Barus adalah salah satu pusat perdagangan terpenting pada awal abad ke 7 serta Barus juga menjadi gerbang utama masuknya islam ke Nusantara, apakah benar bahwa barus adalah tempat yang pertama kalinya islam meminjakan danmenyebarkan ajarannya di Barus. Namun para sejarawan tidak sepakat bahwa islam masuk pertamakalinya di Barus (Sumatera Utara), tetapi para sejarawan menyepakati bahwa islam pertamakalinya masuk ke Nusantara di Aceh yaitu Peureulak.
Dapat di katakan bahwa pada zaman Lobu Tua, Barus muncul sebagai sebuah tempat perdagangan asing yang mungkin didirikan pada abad ke 9 M.[7], Datangnya bangsa Arab ke Nusantara selain berdagang mereka juga mengenalkan ajaran ajaran islam di Nusantara khususnya di Barus, pada umumnya islamisasi di barus hanya sekedar dakwah dengan berdangang karena kejujuran dari bangsa Arab tersebut berdampak pada masyarakat lokal untuk bisa bekerja sama dan berhubungan baik dengan masyarakat lokal.
Maka dari situlah perdagangan dan pengislamisasian masyarakat lokal terjadi, pedagang pedagang dari Arab meyakini (berdakwah) kepada masyarakat lokal dalam hal perdagangan, di tambah lagi dengan adanya para Syaikh Syaikh yang datang ke Barus salah satunya yang berpengaruh besar menyebarkan ajaran ajaran islam di barus adalah Syaikh Mahmud Barus, beliau sebagai wali Allah sangat berperan penting dalam penyebaran ajaran ajaran islam di barus. Maka dari situlah perdagangan dan islamisasi di barus di mulai dan perdagangan dan islamisasi pun terjadi karena faktor faktor banyaknya pedangang Arab yang menikah dengan masyarakat lokal di Barus, maka proses islamisasi pun terjadi di Nusantara khususnya di Barus.



Penutup
1.      Kesimpulan
Jauh sebelum Nabi Muhammad lahir, orang orang dari mesir sudah datang ke barus untuk perdagangan dan di awali abad ke 7 barus menjadi subuah pusat perdaganga tersibuk di Nusantara, dan barus bisa di katakan sebagai kota tertua di nusan tara yang pertamakalinya memainkan perdagangan di Asia Tenggara, daya Tarik bangsa bangsa arab untuk datang ke Barus adalah untuk mencari benda benda yang memiliki komoditi mahal untuk di jual di Arab, Persia, Gujarat dan lain lain.
Islamisasi di barus tidak bisa terlepas dari kata perdagangan, awal mula perdangangan di Barus merupakan salah satu proses untuk islamisasi di barus, dampak dari adanya perdagangan di barus adalah terjadinya pertukaran budaya bangsa arab yang mengajarkan ajaran ajaran islam di Barus di tambah lagi dengan adanya ulama yang sangat di percayai oleh masyarakat lokal.
Perdagangan merupakan salah satu proses untuk pengislamisasian masyarakat lokal di barus karena di suatu perdanagan yang jujur yang di bawakan oleh bangsa Arab menimbulkan efek adanya kemauan untuk menjadi muslim atau rasa suka dan cocok bagi kebudayaan baru bangi masyarakat lokal tanpa meninggalkan kebudayaan yang meraka anut sebelumnya.

Daftar Pustaka
Claude Guillot, Barus Seribu Tahun yang Lalu, (Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2008)
Daniel Perret & Heddy Surachman, Barus Negeri Kamper (Sejarah Abad ke 12 Sampai Pertengahan Abad ke 17), (Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2015)



[1]Daniel Perret & Heddy Surachman, Barus Negeri Kamper (Sejarah Abad ke 12 Sampai Pertengahan Abad ke 17), (Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2015) Hlm,, 536.
[2] Ibid, Hlm, 535.
[3] Claude Guillot, Barus Seribu Tahun yang Lalu, (Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2008), Hlm, 53.
[4] Claude Guillot, Barus Seribu Tahun yang Lalu, (Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2008), Hlm, 42.
[5] Ibid, Hlm, 46.
[6] Daniel Perret & Heddy Surachman, Barus Negeri Kamper (Sejarah Abad ke 12 Sampai Pertengahan Abad ke 17), (Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2015) Hlm, 536-536.
[7] Claude Guillot, Barus Seribu Tahun yang Lalu, (Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2008), Hlm, 63.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Lisan, Teka Teki di Indonesia dan contohnya

PEMBAHARUAN SHER SHAH SURI

Harmoni di Ufuk Timur Kediri