ISLAM MASA AURANGZEB


1.      Biografi Aurangzeb
Abul Muzaffar Muhiu'd-Din Muhammad atau yang dikenal sebagai Aurangzeb atau gelar kekaisarannya Alamghir yang artinya penakluk jagad. Beliau merupakan anak ke-3 dari Shah Jahan dan Mumtaz Mahal. Ia lahir di Dohad, perbatasan Gujarat dan Rajputana pada Oktober 1618.[1].Ia memiliki saudara yang bernama Dara, Shuja dan Murad.
Aurangzeb terbukti memiliki jiwa pemberani sejak usia muda. Ia ditunjuk sebagai wakil raja di Deccan pada tahun 1636 dan diperintahkan oleh ayahnya untuk mencaplok kerajaan Rajput kecil Baglana. Aurangzeb menyelesaikan tugas tersebut dengan mudah. Terkesan dengan keberanian putranya, Shah Jahan menunjuknya sebagai gubernur Gujarat, dan kemudian menjadi gubernur Multan dan Sindh.
Sebelum Aurangzeb menduduki tahta kerajaan, ia bersekongkol dengan saudara kandungnya, Murad. Ia melancarkan aksi itu untuk merebut tahta kerajaan dari ayahnya sendiri, Shah Jahan. Aurangzeb dan Murad berusaha untuk mengalahkan saudara-saudara kandungnya yang lain. Ia khawatir jika tidak disingkirkan, saudara-saudaranya itu bisa menduduki kursi tahta sebagai raja.[2]
Aurangzeb dikabarkan sudah menikah beberapa kali. Istri pertamanya adalah Dilras Banu Begum. Kemudian Begum Nawab Bai, Aurangabadi Mahal, Udaipuri Mahal, dan Zainabadi Mahal. Dia menjadi ayah banyak anak termasuk Zebun Nisa, Zenatun Nisa, Muhammad Azam Shah, Mehrun Nisa, Sultan Muhammad Akbar, Sultan Muhammad, Bahadur Syah I, dan Badrun Nisa. Aurangzeb hidup lama dan hidup lebih tua dari sebagian besar anak-anaknya. Dia meninggal karena sakit pada tanggal 20 Februari 1707 M diumur 88 tahun.[3]
2.      Kebijakan-kebijakan pada Masa Aurangzeb
Ketika Shah Jahan jatuh sakit pada 1658, ia menunjuk putra pertamanya Dara sebagai pewaris tahta ketika nanti ia tidak ada.[4] Tetapi tiga saudara lainnya tidak setuju sehingga terjadilah peperangan antar saudara. Dari keempat anak Shah Jahan itu, Aurangzeb memenangkan perkelahian antara saudara-saudaranya. Pemerintahan Aurangzeb dibagi menjadi dua periode. Periode pertama pada tahun 1658-1681 di India Utara (Delhi dan Agra) sedangkan periode kedua pada tahun 1682-1707 di Deccan.
Pada masa ini, Aurangzeb memperlihatkan sejumlah perubahan besar berkenaan dengan struktur kebangsawanan Mughal. Ia juga merebut Bengal Timur, menetramkan daerah perbatasan di Barat Laut, mengambil kekuasaan langsung atas Rajhastan dan memperluas kekuasaan imperium ke Deccan.[5]
Pemerintahan Aurangzeb termasuk dalam sistem klasik dalam imperium Mughal. Aurangzeb merupakan penguasa Mughal pertama yang mengakhiri kebijakan konsiliasi Hindu yang digantikan dengan kebijakan supremasi Islam. Pada tahun 1659, ia mengharamkan minuman keras, perjudian, prostitusi, penggunaan narkotik dan yang lainnya. Pada tahun 1664 ia pun melarang Sati; praktik pengorbanan Hindu atas para janda, menghapuskan berbagai pajak yang dipandang tidak sesuai dengan prinsip hukum Islam. Kemudian, pada 1668, ia melarang musik diputar di lingkungan istana, memberlakukan pajak kepala terhadap warga non-muslim, memerintahkan menghacurkan patung-patung Hindu yang memprakarsai kodifikasi hukum yang disebut fatawa-I Alangiri. Ia juga membangun perguruan tinggi Islam yang menggiatkan ilmu-ilmu Syari’ah. Suasana keagamaan yang di bangun Aurangzeb pada masa ini yang selaras dengan kepentingan Muslim reformis justru menjadi alasan kebencian warga Hindu.[6] Aurangzeb berpendapat bahwa perlakuan kejamnya adalah karena cinta kepada agama-Nya.[7]
Pokok-pokok kebijakan Aurangzeb yaitu:
a.       Pengangkatan Muhtasib dan Pembaharuan Kalender
Pengangkatan Muhtasib adalah awal dari kebijakan keagaaman Aurangzeb pada tahun 1658 M. Ia mengangkat Muhtasib guna menegakkan kehidupan religius di masyarakat. Namun peran Muhtasib sendiri ternyata belum maksimal, terdapat perjudian, minuman keras yang dilakukan dirumah para bangsawan. Kemudian ia menghapuskan kalender berdasarkan matahari (syamsiah) yang diganti dengan kalender bulan. Ia juga menghapus Kalima (penggalan syahadat yang ditulis di sisi mata uang) agar menghindari penyalahgunaan orang yang tidak menyukai Islam.
b.      Larangan Musik
Sejak 1668 M, musik tidak lagi pernah terdengar di istana Aurangzeb. Seluruh musisi dan penyanyi di pensiunkan meski nenek moyangnya (Babur dan Humayun) sangat menyukai musik hingga mereka sendiri yang menulis bait-bait lagunya.
c.       Penghancuran Kuil
Sejak 10 Maret 1659, Aurangzeb melarang berdirinya kuil baru dan menghancurkan kuil-kuil yang ada. Sejak berkuasa di Deccan sebagai gubernur, ia juga merobohkan kuil Khande Rao di perbukitan bagian Selatan Aurangbad. Puncaknya terjadi saat ia menjabat sebagai raja; para gubernur di seluruh provinsi diperintahkan untuk merobohkan sekolah-seklah serta menghentikan pengajaran Hindu pada April 1669 M. Tempat yang dianggap suci pun menjadi sasaran penghancuran. Terhitung sudah 66 kuil diruntuhkan di Amber, 239 kuil di Udaipur dan Chitor selama perang dengan orang-orang Rajput.
d.      Pajak (Jizyah)
Pada April 1679, Aurangzeb memerintahkan agar jizyah kembali diberlakukan kepada non-muslim. Jizyah dapat dibayar sesuai dengan strata sosial dan jumlah pendapatan. Untuk yang dianggap kaya,  jizyah ditetapkan sejumlah 48 dirham, golongan menengah sebesar 24 dirham dan golongan miskin 12 dirham.
Untuk rakyat miskin, membayar jizyah diwajibkan jika kebutuhan pokok mereka sudah terpenuhi. Wanita, anak-anak dibawah 14 tahun dan pengemis di bebaskan dari jizyah.
Jizyah kembali diterapkan setelah 17 tahun kepemimpinan Aurangzeb karena sejak penghapusan pajak yang tidak sesuai dengan aturan Islam, pendapatan Negara menjadi kosong. Selain itu, pada masa itu orang-orang Rajput telah memperkuat posisi menentang Dinasti Mughal. Karena hal ini pula Aurangzeb menerapkan jizyah pada kalangan Hindu sebagai bukti tunduk pada penguasa. Tujuan utama diberlakukan kembali jizyah pada masa Aurangzeb ini adalah dengan maksud ekonomi-politik dengan harapan umat Hindu menghindari pajak sehingga memilih memeluk Islam.
e.       Larangan Tika, Dharsan dan Nauruz
Kebijakan agama selanjutnya yaitu pelarangan Tika (menempeli dahi dengan semacam pasta) juga melarang Dharsan yaitu raja yang menampakkan diri di balkon setiap pagi. Di balkon itu biasanya raja melihat-lihat rakyatnya dan terkadang mengadakan perlombaan khususnya pertandingan gajah. Tradisi pertemuan antara raja dan rakyat ini dihapuskan karena dianggap sebagai pemujaan terhadap raja. Ia juga menghapuskan Nauruz; perayaan tahun para ala pagan Persia. Secara bertahap, upacara perayaan ulangtahun dan pemahkotaan raja juga dihapuskan pada 1677 M.[8]
Aurangzeb meninggal pada tahun 1707 dan Dinasti Mughal sendiri mulai mengalami kemunduran. Pada tahun 1750, orang-orang Hindu dari Dinasti Maratha menguasai bagian utara India dan menyisakan kekuasaan Mughal hanya di sekitar daerah Delhi. Pada 1785 orang-orang Hindu itu menaklukkan Delhi tapi tidak lama keudian sekitar tahun 1800-an, Inggris datang dan mengambil alih seluruh kota. Dinasti Mughal pun jatuh menjadi wilayah dibawah kuasa Inggris.[9]

3.      Respon Masyarakat Non-Muslim atas Kebijakan Aurangzeb
a.       Jat, Satnami dan Bundela
Pemberontakan pertama yang muncul atas kebijakan-kebijakan Aurangzeb dilakukan oleh masyarakat Jat. Mereka memberontak dibawah pimpinan Gokla, zamindar Tilpat dengan membunuh Kepala Tentara istana. Pemberontakan ini dipatahkan oleh Hasan Ali Khan, kepala tentara yang baru. Gokla dihukum mati dan keluarganya kemudian memeluk Islam. Sepeninggal Gokla, masyarakat Jat masih memberontak dibawah pimpinan Raja Ram dari Sinsani.
Selain masyarakat Jat, pemberontakan Chatrasal dari Bundela juga hadir. Hal tersebut disebabkan oleh kematian ayahnya; Champat Rai. Sebenarnya keluarga Chatrasal sudah lama mengabdi pada Aurangzeb tapi kondisi tersebut berubah sejak ayahnya mulai membangkang. Konflik tersebut menimbulkan kemarahan Aurangzeb sehingga memutuskan menghukum Champat Rai. Akhirnya, Champat Rai memilih bunuh diri dan mati di tangan Aurangzeb. Pada 1705, Firuz Jang dapat membujuk Chatrasal untuk berdamai kepada Mughal dan ia membawahi 4000 tentara wilayah Deccan. Tetapi setelah kematian Aurangzeb, ia menjadi penguasa independen kota.
Maret 1672, kelompok Satnami melakukan revolusi atas kebijakan Aurangzeb. Mereka adalah sekte hindu yang berpusat di Narnol. Pemberontakan mereka dipicu oleh terbunuhnya salah seorang dari mereka oleh tentara Mughal. Tapi mereka dapat dihentikan atas perintah Aurangzeb kepada Radanda Khan.[10]

b.      Maratha
Maratha adalah oposisi lain yang juga gencar melakukan perlawanan kepada Aurangzeb. Mereka tinggal di sepanjang pengunungan Ghat dan terdiri dari masyarakat kasta rendah dan Sudra namun mengabdi pada penguasa Golkunda dan Bijapur pada abad ke-16 M. pada abad ke-17 mereka mulai menduduki jabatan penting. Salah satunya adalah Shivaji Bonsle. Ayah Shivaji; Shahji Bonsle memberontak pada masa pemerintahan Shah Jahan.
Pertempuran Maratha dengan Mughal dimulai pada tahun 1657 M dengan menyerbu Ahmadnagar dan Cunar. Maratha memperoleh kemenangan karena pada saat itu Aurangzeb disibukkan dengan penaklukan ke Bijapur. Aurangzeb menangguhkan penyerangan terhadap Maratha karena pada saat itu mendengar kabar sakitnya Shah Jahan. Kesempatan tersebut digunakan Shivaji merebut Kalyan, Bhiwandi dan Mahuli hingga ke Mahad dan berusaha merebut daerah kekuasaan Mughal secara terus-menerus.
Januari 1664, Shivaji menduduki pelabuhan surat dan merampok kapal-kapal haji. Aurangzeb akhirnya membuat perjanjian damai dengan Shivaji setelah mendengar kabar ini. Shivaji diizinkan menyandang gelar raja di Berar selama tiga tahun. Tapi kemudian, Shivaji kembali memimpin pemberontakan pada Juni 1664 dan mengangkat dirinya menjadi Chatrapati (raja dari seluruh raja). Shivaji berhasil memperluas wilayahnya jauh ke Selatan.
Ketika Shivaji meninggal pada 1680 M ia mewariskan kerajaan dengan administrasi yang baik. Ia digantikan putranya; Shambuji. Meski Shambuji ditangka[ pada 1689, kekuatan Maratha tidak dapat ditumpas hingga meninggalnya Aurangzeb.[11]


A.    PENUTUP
1.      Kesimpulan
Aurangzeb atau dikenal dengan gelar kekaisarannya Aurangzeb Alamghir yang bernama asli Abul Muzaffar Muhiu'd-Din Muhammad merupakan anak ke-3 dari Shah Jahan dan Mumtaz Mahal. Ia lahir di Dohad, perbatasan Gujarat dan Rajputana pada Oktober 1618 dan memiliki 3 saudara yang bernama Dara, Shuja dan Murad. Aurangzeb terbukti memiliki jiwa pemberani sejak usia muda. Ia ditunjuk sebagai wakil raja di Deccan pada tahun 1636 dan sebagai gubernur Gujarat kemudian menjadi gubernur Multan dan Sindh. Aurangzeb dikabarkan sudah menikah beberapa kali dan memiliki 8 anak. Ia meninggal karena sakit pada tanggal 20 Februari 1707 M diumur 88 tahun.
Aurangzeb merupakan penguasa Mughal pertama yang mengakhiri kebijakan konsiliasi Hindu yang digantikan dengan kebijakan supremasi Islam. Ia terkenal keras menerapkan peraturan Islam. Kebijakan-kebijakan yang ia jalankan pada masanya yaitu:
a.       Pengangkatan Muhtasib dan Pembaharuan Kalender
b.      Larangan Musik
c.       Penghancuran Kuil
d.      Pajak (Jizyah), dan
e.       Larangan Tika, Dharsan dan Nauruz
Respon kalangan Hindu terhadap kebijakan-kebijakan yang diterapkan Aurangzeb tidak jauh dari pemberontakan. Pemberontakan yang dilakukan pun berbeda-beda motifnya. Motif agama, balas dendam dan sebagainya. Seperti orang-orang Jat yang memberontak karena agama, Chatrasal dari Bundela yang membalaskan dendam ayahnya terbunuh dan orang-orang Satnami yang melakukan pemberontakan karena salahsatu anggota mereka terbunuh oleh tentara Mongol.

DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Esposito, J. L. (2004). The Islamic World Past And Present. New York: Oxford University Press.
Fuhaidah, U. (2004). Kebijakan Keagamaan Sultan Aurangzeb di India (1658-1707 M). Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
Hamka. (1981). Sejarah Umat Islam III. Jakarta: Bulan Bintang.
Lapidus, I. M. (1999). Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sarkar, J. (1912). History of Aurangzeb. Calcutta, India: M.C. Sarkar and Son.
Siti Maryam, d. (2012). Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: Lesfi.
SKRIPSI
Fuhaidah, U. 2004. "Kebijakan Keagamaan Sultan Aurangzeb di India (1658-1707 M)". Skripsi. FAIB, Sejarah dan Peradaban Islam. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

INTERNET

Eklavya, The Times of Emperor Aurangzeb (Reign: 1658-1707), diakses dari https://www.eklavya.in/pdfs/Books/SSTP/social_studies_8/history/ pada 11 Desember 2017 pukul 15.07




[1] Ulya Fuhaidah, Skripsi: Kebijakan Keagamaan Sultan Aurangzeb di India (1658-1707 M), (Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, 2004), hlm 33
[2] Ibid, hlm. 34
[4] Eklavya, The Times of Emperor Aurangzeb (Reign: 1658-1707), diakses dari https://www.eklavya.in/pdfs/Books/SSTP/social_studies_8/history/ pada 11 Desember 2017 pukul 15.07
[5] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm 712
[6] Ibid, hlm 711
[7] Hamka, Sejarah Ummat Islam Vol. III, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), hlm 157
[8] Ulya Fuhaidah, Skripsi: Kebijakan Keagamaan Sultan Aurangzeb di India (1658-1707 M), (Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, 2004), hlm 35-57
[9] John L. Esposito, The Islamic World Past and Present Vol. II, (New York: Oxford University Press, 2004), hlm. 172
[10] Ulya Fuhaidah, Skripsi: Kebijakan Keagamaan Sultan Aurangzeb di India (1658-1707 M), (Yogyakarta, UIN Sunan Kalijaga, 2004), 58-60
[11] Ibid, hlm 61-69

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Lisan, Teka Teki di Indonesia dan contohnya

PEMBAHARUAN SHER SHAH SURI

Harmoni di Ufuk Timur Kediri