DINASTI MUGHAL DI INDIA (1525-1707)
1.1
Sejarah dan
Perkembangan Dinasti Mughal
Dinasti Mughal di India didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482-1530
M), seorang keturunan Timur Lenk.[1]
Ayahnya adalah penguasa Ferghana yang bernama Umar Mirza. Sejak muda, nampak
keberanian dan semangatnya untuk menaklukkan negeri-negeri di sekitarnya. Ia
mengawali ambisinya dengan melakukan penyerangan ke daerah-daerah Transoxiana.
Langkahnya terhalang oleh penguasa Bukhara, sehingga ia beralih ke Afghanistan.
Pada tahun 1204 M, Kabul dan Kandahar jatuh ke tangannya. Dengan ditaklukannya
Afghanistan, Babur mengarahkan padangannya ke India.
Kala itu keadaan India sedang kacau. Ibrahim Lodi terlibat sengketa
dengan pamannya, Alam Khan. Alam Khan lari ke Kabul dan meminta perlindungan
pada Babur. Pada tahun 1525 M Babur berhasil menaklukkan Punjab dengan 13.000
tentara. Akhirnya, pasukan Babur berhadapan dengan pasukan Ibrahim Lodi. Babur
mencapai kemenangan dalam Pertempuran Panipat yang terjadi pada tanggal 21
April 1526 M/8 Rajab 932 H. Wilayah kekuasaan Badur membentang dari Pegunungan
Himalaya sampai Gwalior, dan dari Punjab hingga ke Bengal.
Sepeninggal Babur, kepemimpinan jatuh ke pundak putra sulungnya,
Nashiruddin Humayun. Setelah Mahmud Lodi dikalahkan dalam Pertempuran Lucknow
(1629), Humayun mengatasi pemberontakan Bahadur Syah di Gujarat. Pada tahun
1540 M, Humayun mengalami kekalahan saat bertempur melawan Sher Khan di Kanauj.[2]
Ia menyingkir ke Persia dan menyusun kekuatan di sana. Dengan bantuan Penguasa
Persia, Tahmasp, akhirnya Sher Khan dapat dikalahkan.
Humayun meninggal dunia pada 1556 M sehingga putranya, Akbar
menggantikannya. Dengan didampingi Bairam Khan, Akbar menumpas sisa-sisa
kekuatan pendukung Sher Khan di Punjab. Agra dan Gwalior dapat dikuasai penuh
ketika ia merebut kemenangan dalam Pertempuran Panipat II melawan Himu. Pada
tahun 1561 M giliran Bairam Khan yang dihabisi oleh Akbar, mengingat
pengaruhnya yang terlampau besar dalam istana. Selanjutnya, Akbar melakukan
serangkaian ekspedisi untuk menaklukkan Chundar, Ghond, Chitor, Ranthabar,
Kalinjar, Gujarat, Surat, Bihar, Bengal, Kashmir, Orissa, Decan, Gawilgargh,
Narhala, Ahmadnagar, dan Asirgah.[3]
Pada masa Akbar inilah Dinasti Mughal mencapai puncak kejayaannya. Ia
meletakkan landasan pemerintahan yang kuat bagi Dinasti Mughal.
Akbar digantikan oleh putranya, Jahangir (1605-1628 M). Ia tidak
menjalankan kebijakan Sulh-e-Kul yang dibuat oleh Akbar. Pada tahun 1613 ia
mengirimkan bala tentara untuk mengusir Portugis yang telah menahan kapal
berisi sejumlah besar uang dan jamaah haji. Konflik dengan Portugis berlanjut
pada masa pemerintahan penerusnya. Pada penghujung pemerintahannya, ia berhadapan
dengan Kurram, putranya sendiri. Dengan bantuan Muhabbat Khan, Kurram menangkap
dan menyekap Jahangir. Akhirnya setelah Jahangir meninggal Kurram naik tahta
dan bergelar Abu Muzaffar Shahabuddin Muhammad Shah Jahan Padshah Ghazi. [4]
Shah Jahan (1628-1658 M) memerintah selama 30 tahun. Pemerintahannya
diwarnai berbagai pemberontakan. Pada tahun pertama pemerintahannya terjadi dua
pemberontakan, yaitu pemberontakan Raja Jhujar Singh Bundela dan Afghan Pir
Lodi yang bergelar Khan Jahan. Namun, keduanya dapat dipadamkan oleh Aurangzeb,
putra ketiganya. Aurangzeb. Daerah-daerah seperti Hyderabad, Maratha, dan kerajaan Hindu
lainnya masuk ke dalam kekuasaan Mughal
berkat jasanya[5].
Setelah memenjarakan ayahnya dan membunuh kedua saudaranya, Murad
dan Dara, Aurangzeb (1658-1707 M) resmi bertahta. Ia menaklukkan dua kerajaan
Islam yang masih berdiri, Golkond dan Bijapur pada 1658 M. Pada tahun 1660 M
Asam dapat dikuasai, sedangkan Arakan tunduk enam tahun kemudian. Wilayah
kekuasaan Aurangzeb membentang dari Kabul sampai ke Arakan dan dari Pegunungan
Himalaya sampai ke Karnat. Aurangzeb dikenal dengan kebijakan-kebijakan yang
berseberangan dengan para pendahulunya. Ia membalik kebijakan konsiliasi dengan
penganut Hindu. Namun, Ram Puniyani berpendapat, bahwa Aurangzeb bukanlah
seorang yang anti-Hindu. Kebijakan-kebijakan yang ditempuhnya berubah sesuai
kondisi. Pada masa Aurangzeb, praktik Sati[6]
dilarang jika yang bersangkutan tidak mau melakukannya. Kas negara
mengalami peningkatan pemasukan.
Sepeninggal Aurangzeb, beberapa wilayah Dinasti Mughal terlepas
dari Delhi. Yang pertama adalah Hyderabad Deccan, diikuti pula oleh Benggala,
Aud, serta wilayah-wilayah lain yang ditempati oleh kaum Sikh dan Maratha.
1.2
Kemajuan
Dinasti Mughal
Kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Mughal merupakan sumbangan
yang berarti dalam membangun peradaban Islam di India. Kemajuan Dinasti Mughal
dapat dilihat dari berbagai segi kehidupan, antara lain sebagai berikut:
1.2.1
Politik dan
Pemerintahan
a.
Pembagian
Wilayah dan Kekuasaan
Kerajaan
Mughal memiliki pemerintahan pusat yang beribukota di Delhi, sedangkan
wilayah-wilayah di bawahnya terbagi dalam beberapa provinsi dengan raja muda
yang mengepalainya. Pemerintahan Mughal tidak semata-mata dijalankan oleh raja,
melainkan dibantu oleh para menteri dan panglima. Pada masa Akbar, India dibagi
dalam 18 provinsi. Terdapat jabatan Perdana Menteri yang mengepalai kementerian
lainnya, kecuali Menteri Kehakiman yang bergelar Ash Sadr dan Menteri
Penyelenggara Istana.[7]
b.
Hubungan
dengan Penguasa Lain
Para
penguasa Dinasti Mughal terus berupaya memerangi penguasa lain yang tidak
mengakui otoritas mereka. Namun, kadangkala kebijakan selain perang ditempuh,
contohnya adalah pernikahan politik antara Mughal dan Rajput. Kontak Dinasti Mughal
dengan Rajput pertama kali terjadi pada masa Babur, saat gabungan pasukan Hindu
bersatu di bawah komando Rana Sanga dalam melawan kekuatan Mughal.[8]
Setelah Rajput berhasil ditundukkan, Akbar memasukkan putri-putri Rajput ke
dalam harem miliknya, sehingga terbentuk ikatan kekeluargaan antara keduanya.[9]
Pada masa Jahangir, terjalin perdamaian antara Mughal dan Syafawiyah yang
diperintah oleh Abbas melalui pertukaran hadiah (1623), Namun, pada tahun 1626 M
Jahangir berkorespondesi dengan Murad IV dari Turki Usmani untuk melawan
Syafawiyah.
c.
Politik
Sulh-e-Kul
Sistem
yang menonjol adalah politik Sulh-e-Kul atau toleransi universal. Kebijakan ini
diterapkan pada masa pemerintahan Akbar. Pokok-pokok kebijakan ini antara lain
menghapuskan jizyah bagi non-muslim, membangun tempat peribadatan dan
mendorong perkawinan antar pemeluk agama.
1.2.2
Ekonomi dan
Sosial
a.
Usaha-usaha
Perekonomian
Letak
geografis India yang dialiri sungai-sungai mendukung pertanian sebagai mata
pencaharian utama rakyat Dinasti Mughal. Hasil pertanian Dinasti Mughal yang
terpenting pada masa itu adalah biji-bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran,
rempah-rempah, tembakau, kapas, nila,dan bahan-bahan celupan. Di samping itu, pemerintah
juga berupaya memajukan industri tenun. Hasil dari industri tersebut banyak
yang di ekspor ke luar negeri seperti Eropa, Arab, Asia Tenggara dan lain-lain.
Pada masa Jahangir, investor asing banyak berkontribusi dalam perekonomian India.
Ia mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) untuk mendirikan pabrik
pengolahan hasil pertanian di Surath.[10]
b.
Pajak
dan Denda
Dinasti
Mughal mendapatkan pemasukan kas melalui pemberlakuan pajak dan denda. Pajak
terbagi menjadi dua, yaitu pajak pusat dan lokal. Pajak pusat diambil dari sewa
tanah dan hadiah-hadiah. [11]
Penguasa lokal, selain mendapatkan gaji dan subsidi dari pusat, juga menjatuhkan
pajak pada para pedagang yang melintas di daerahnya. Pajak terhadap non-muslim
(jizyah) dicabut pada masa pemerintahan Akbar namun diberlakukan kembali
pada masa Aurangzeb. Di wilayah kekuasaan Mughal, denda lebih sering diterapkan
terhadap pelaku pelanggaran daripada hukuman fisik.
c.
Kehidupan
Keagamaan
Dinasti
Mughal dikenang dalam sejarah sebagai kerajaan yang membawahi berbagai
kepercayaan, termasuk Hindu, Budha, Jaina, Kristen, Sikh, di samping Islam.
Sebelum mangkat, Babur menuliskan wasiat kepada penerusnya, Humayun, agar
memperhatikan umat Hindu dengan melarang penyembelihan sapi dan memelihara
tempat peribadatan. Selain itu, setiap bentuk perselisihan antara Syiah dan
Sunni harus didamaikan sebelum menjadi masalah bagi kerajaan.[12]
Sementara itu pada masa pemerintahan Akbar, terdapat upaya untuk merangkul seluruh
umat beragama dalam Din-e-Ilahi.[13]
1.2.3
Seni dan Budaya
a.
Karya
Sastra
Babur
dikenal sebagai penggemar syair Omar Khayyam. Ia sendiri menciptakan sejumlah
syair yang dibukukan dengan nama Babur Nama.[14]
Pada masa Raja Akbar, riwayat dan pemikirannya ditulis oleh filsuf Abul Fazl
dengan judul A’ini Akbari dan Akbar Nama. Jahangir juga
meninggalkan karya sastra dengan menulis riwayat hidupnya dalam kitab Tzuk-i-Jahangiri.
Abdul Hamid Lahori, seorang sejarawan pada masa Shah Jahan menulis riwayat
hidup raja tersebut dalam kitab Padchah Nama. Semasa kejayaan Dinasti
Mughal di India, karya sastra Hindu juga mendapatkan perhatian. Akbar
mengintruksikan penerjemahan berbagai karya sastra berbahasa Sanskrit ke dalam
bahasa Persia, termasuk Mahabharata
dan Atharva Veda.[15]
b.
Arsitektur
Pada
abad pertama masuknya agama Islam di
India, terlihat upaya untuk menonjolkan corak kearaban. Pada masa selanjutnya,
seni bangunan Islam di India mulai diwarnai oleh pengaruh kesenian Persia,
Hindu dan Mongol. Ketiga corak tersebut berpadu dengan corak Arab, menghasilkan
bangunan istana-istana dan masjid-masjid yang menakjubkan.[16]
Para penguasa Dinasti Mughal meninggalkan banyak bangunan yang kemegahannya dapat
disaksikan hingga sekarang, antara lain Makam Humayun, Benteng Lahore, Fatehpur
Sikri, Makam Jahangir, Benteng Merah, dan Taj Mahal. Arsitek dari
berbagai daerah didatangkan, contohnya pada masa Shah Jahan terdapat dua
arsitek dari Turki Usmani bernama Isa Muhammad Effendi dan Ismail Effendi.
1.3
Faktor-faktor Kemajuan Dinasti
Mughal
Berikut
merupakan faktor-faktor kemajuan Dinasti
Mughal[17]
:
a.
Dinasti
Mughal periode 1525-1707 diperintah oleh raja-raja yang kuat sehingga dapat
membentuk landasan pemerintahan yang kokoh pula. Toleransi yang besar yang
diterapkan para penguasa Mughal terhadap penganut agama lain, terutama Hindu
dapat meminimalisir perpecahan sosial.
b.
Program
ekonomi yang diluncurkan pemerintah cukup akomodatif dan memperhatikan hak-hak
penguasa lokal.
c.
Prajurit
Mughal dikenal tangguh dan piawai dalam berperang. Pembaruan militer terus
dilakukan sehingga Mughal dapat bersaing dengan kekuatan-kekuatan lain,
termasuk Syafawiyah di Persia dan Bangsa Eropa.
d.
Ilmu
pengetahuan memberikan kontribusi terhadap kejayaan Dinasti Mughal. Maraknya
kegiatan ilmiah menyebabkan Mughal terbuka atas perkembangan dunia. Pembangunan
terus dilakukan, meninggalkan jejak kejayaan Mughal yang dapat kita saksikan
hingga sekarang.
2
Penutup
2.1
Kesimpulan
Dinasti Mughal periode 1525-1707 diperintah oleh enam penguasa,
yaitu Babur, Humayun, Akbar, Jahangir, Shah Jahan, dan Aurangzeb. Dinasti ini
dimulai sejak Babur melakukan kampanye militer ke wilayah Afghanistan dan
India. Penerusnya, Humayun, berhasil mengamankan daerah Gujarat dan Kanauj.
Kejayaan dinasti ini terjadi pada masa pemerintahan Akbar, yang kekuasaannya
membentang dari Kabul, Benggala, hingga Surath. Akbar mencetuskan suatu
kebijakan politik yang meniadakan diskriminasi karena perbedaan etnis dan agama
di antara penduduk Mughal, yang disebut Sulh-e-Kul. Namun, kebijakan tersebut
tidak dilanjutkan oleh penerusnya, Jahangir. Shah Jahan dan Aurangzeb mengatasi
berbagai pemberontakan yang timbul dalam negeri. Pada masa Aurangzeb, wilayah
Dinasti Mughal terbentang dari dari Kabul sampai ke Arakan dan dari Pegunungan
Himalaya sampai ke Karnat.
Kemajuan yang dicapai Dinasti Mughal terlihat dalam penerapan
kebijakan dan pengaruhnya dalam berbagai bidang kehidupan. Mughal menerapkan
praktik otonomi daerah dengan pengawasan pusat. Hubungan terhadap penguasa lain
dibina, namun Mughal bereaksi keras terhadap pergerakan yang mengancam keutuhan
wilayahnya. Usaha-usaha perekonomian Mughal, termasuk pertanian, industri tenun
dan perdagangan mendapatkan tempat dalam dunia internasional. Pemerintah
memperoleh pemasukan melalui pajak dan pembayaran denda. Mughal mengembangkan
seni arsitektur yang merupakan perpaduan dari corak Arab, India, Persia, dan
Asia Tengah. Para penguasa Mughal dan pembesar kerajaan dekat dengan tradisi
menulis dan syair.
Kemajuan-kemajuan di atas dapat dicapai karena Mughal mampu
membentuk landasan pemerintahan yang kuat dan toleran terhadap para
penduduknya. Dukungan dari para penguasa lokal memperkuat posisi Mughal. Kekuatan
militer sangat berpengaruh pada periode awal berdirinya dinasti ini, dengan
memberantas berbagai ancaman yang datang dari dalam maupun luar wilayah
kekuasaan Mughal. Namun demikian, perhatian terhadap ilmu pengetahuan merupakan
faktor yang menjamin keberlangsungan dinasti ini.
2.2
Saran-saran
a.
Dalam
mempelajari Sejarah dan Perkembangan Dinasti
Mughal periode 1525-1707, tidak cukup berpedoman dengan satu referensi saja.
Penulis menyarankan kepada pembaca untuk menelaah referensi-referensi lain agar
mendapatkan wawasan yang lebih luas.
b.
Sejarah
menjadi bermnfaat jika kita mampu mengambil pelajaaran darinya.
c.
Penulis
mengharapkan kritik dan saran konstruktif untuk perbaikan makalah ini ke
depannya.
DAFTAR PUSTAKA
Faris, Afdol. Politik
Sulh-e-Kul Sultan Akbar Pada Masa Dinasti Mughal di India Tahun 1560-1605.
Yogyakarta: Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, 2015.
HAMKA. Sejarah Ummat Islam. Vol. III.
Jakarta: Penerbit Bulan Bintang, 1975.
Hasan, Masudul. History of Islam (Classical
Period 1206-1900 C.E.). Vol. II. Delhi: Adam Publishers&
Distributers, 1995.
Jaffar, S. M. The Mughal Empire: From Babar
to Aurangzeb. Peshawar: Kissa Khani, 1936.
Junaidi. “Islam di bawah Kendali Mughal di
India.” Tajdid , vol. XI, no. 1 (2012).
Kusdiana, Ading. Sejarah dan Kebudayaan Islam
Periode Pertengahan. Yogyakarta: Pustaka Setia, 2013.
Maryam, Siti. Sejarah Peradaban Islam.
Yogyakarta: Lesfi, 2012.
Moreland, W. H. “The Mughal Empire to the Death
of Aurangzeb.” Dalam First Encyclopedia of Islam. Leiden: E.J. Brill,
1987.
—. The Mughal Empire: From Babar to
Aurangzeb. Delhi: Low Price Publications, 1994.
Mujib, M. The Indian Muslim. London:
George Alen, 1967.
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam.
Depok: RajaGrafindo Persada, 2013.
Yunus, Abd. Rahim. Sejarah Islam Pertengahan.
Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013.
[1] Badri Yatim, Sejarah
Peradaban Islam, (Depok: RajaGrafindo Persada , 2013), hlm. 147.
[4] Siti Maryam, dkk,Sejarah
Peradaban Islam, (Yogyakarta: Lesfi, 2012), hlm. 185.
[5] Ibid., hlm.
186.
[6] Sati adalah
praktik pemakaman religius dimana janda yang ditinggal mati suaminya membakar
dirinya di atas tumpukan kayu bersamaan dengan upacara kremasi suaminya.
[7] HAMKA, Sejarah
Ummat ..., hlm. 151.
[8] Masudul Hasan,
History of Islam (Classical Period 1206-1900 C.E.) II, (Delhi: Adam
Publishers& Distributers, 1995), hlm. 332.
[9] S. M. Jaffar, The
Mughal Empire: From Babar to Aurangzeb, (Peshawar: Kissa Khani, 1936), hlm.
87.
[10] W.H. Moreland,
The Mughal Empire to The Death of Aurangzeb, dalam First Encyclopedia
of Islam, (Leiden: E.J. Brill, 1987), hlm. 630.
[11] W. H.
Moreland, From Akbar to Aurangzeb: A Study in Indian Economic History,
(Delhi: Low Price Publications, 1994), hlm. 268.
[12] S. M. Jaffar, The
Mughal ..., hlm 24.
[13] Din-e-Ilahi
merupakan salah satu lembaga dari produk politik Sulh-e-Kul (toleransi
universal). Politik ini mengandung ajaran bahwa semua rakyat di India memiliki
kedudukan yang sama, terlepas dari etnis maupun agama. Akbar berpendapat bahwa
inti semua ajaran agama adalah sama, yakni mencapai kebenaran, sehingga dapat
disatukan dalam Din-e-Ilahi. Lihat Afdol Faris, Politik Sulh-e-Kul Sultan
Akbar Pada Masa Dinasti Mughal di India Tahun 1560-1605, (Skripsi: Fakultas
Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2015), hlm. 3-4.
[14] HAMKA, Sejarah
Ummat ..., hlm. 143.
[15] Ading
Kusdiana, Sejarah dan Kebudayaan Islam Periode Pertengahan, (Bandung:
Pustaka Setia, 2013), hlm. 243.
[17] Junaidi, Islam
di bawah Kendali Mughal di India, (Jurnal: Tajdid, Vol. XI, No. I, 2012),
hlm. 72.
Komentar
Posting Komentar