STRUKTUR SOSIAL POLITIK EKONOMI GAM DI ACEH


STRUKTUR SOSIAL POLITIK EKONOMI GAM DI ACEH TAHUN 1976-2005
Muhammad Bayu Habibie


A. Pendahuluan
Gerakan Aceh Merdeka (GAM) merupakan sebuah bagian dari sejarah bangsa Indonesia. Sebuah sejarah yang dapat ditulis dengan tinta darah, karena telah banyak menumbalkan sesama anak bangsa. Sebuah konflik yang ironisnya untuk memperjuangkan hal yang sama, namun dipersepsi dan diinterpretasikan secara berbeda oleh kedua belah pihak yang bertikai. Sebuah perbedaan dalam memaknai nasionalisme. Tulisan ini bermaksud menguraikan sejarah konflik social politik GAM yang berhadapan dengan pemerintah Republik Indonesia. Uraian ini tidak bermaksud menyudutkan yang satu dan mengunggulkan yang lain, penulis hanya berminat untuk memaparkan yang terjadi secara apa adanya, disertai analisis mengenai hal yang penulis hipotesiskan sebagai faktor utama  penyebab pertikaian yang berlarut-larut. Peristiwa sejarah tidak akan lepas dari tiga unsur utama yakni manusia, tempat dan waktu.[1]
Dalam beberapa dekade terkahir, rakyat Aceh harus mengalami kehidupan dalam suasana konflik yang disebabkan oleh gerakan politik separatis untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena adanya ketidaksamaan kepentingan atau pun kurangnya perhatian dari pemerintah. Suasana konflik yang ditimbulkan oleh gerakan separatis tersebut kemudian menarik perhatian dunia Internasional dan adanya desakan agar konflik tersebut dapat terselesaikan.
Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM adalah sebuah organisasi (yang dianggap separatis) yang memiliki tujuan supaya Aceh dapat merdeka, yang merupakan daerah yang sempat berganti nama menjadi Nanggroe Aceh Darussalam lepas dari Negara Republik Indonesia. GAM dipimpin oleh Hasan di tiro yang bermukim di Swedia dan berwarganegaran Swedia.[2] Tujuan utama GAM  adalah ingin NAD berpisah dengan NKRI.Di dalam situsi antara GAM dan pemerintah, masyarakat  NAD yang menjadi korban karena terjadi konflik antara GAM dan pemerintah Indonesia sehingga para anggota GAM sering melakukan penculikan dan penarikan pajak terhadap para masyarakat NAD bahkan juga terjadi perang.
Rumusan masalah
1.      Bagaimana sejarah dan tokoh GAM?
2.      Bagaimana respon masyarakat aceh adanya GAM?
3.      Bagaimana bentuk bentuk politik GAM?
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab Rumusan Masalah di atas secara rinci, padat dan jelas.

B.  Metodologi  Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan pendekatan yaitu pendekatan sejarah dan pendekatan sosial politik dan ekonomi, sejarah adalah mengenai apa saja yang di pikirkan, di katakan, di rasakan, dan di alami oleh manusia dalam bahasa metodologis bahwa lukisan sejarah itu merupkan pengungkapan fakta mengenai apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana sesuatu itu bisa terjadi.[3] Pendekatan sejarah di gunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan sisi kronologis dari awal sampai akhir terjadinya gerakan social politik GAM di Aceh, sisi kronologis yang akan di jelaskan adalah terbentuknya GAM di  Aceh dan bagaimana politiknya, yang mengiginkan keadilan dan kemerdekaan bagi provinsi Aceh.
Penelitian ini juga menggunakan pendekatan sosial politik untuk bisa mendeskripsikan mengenai sifat, dan pemikiran politik dari GAM, pendekatan politik di sini merupakan ilmu yang dapat menjadikan sebuah sumber dari adanya gejala politik dari GAM.
Dalam penelitian ini, gejala social, politik dan ekonomi menjadi titik berat dari timbulnya politik GAM, dengan bantuan ilmu dalam pendekatan penelitian yang di lakukan ini akan menunjukan bagaimana terjadinya proses kekuasaan pemerintah yang berujung pada munculnya GAM dan Gerakan social poliik yang di lakukan oleh GAM.

Konsep
Dalam sutu penelitian tentunya peneliti harus memiliki suatu konsep untuk menjadikan suatu acuan dari setiap apa yang ingin di teliti, dalam penelitian ini saya mengabil judul “ Gerakan Sosial Politik GAM di Aceh Tahun 1976-2005” dari dalam judul penelitiann ini, konsep yang hurus di jelaskan adalah kata “ Social, Politik, Ekonomi” dan “GAM”.
Kata sosial berasal dari bahasa latin yaitu ’socius’ yang berarti segala sesuatu yang lahir, tumbuh, dan berkembang dalam kehidupan bersama, Politik adalah sebuah tahapan dimana untuk membentuk atau membangun posisi-posisi kekuasaan didalam masyarakat yang berguna sebagai pengambil keputusan-keputusan yang terkait dengan kondisi masyarakat, secara ilmiah Politik adalah seperangkat pengetahuan tentang hakikat dan tujuan system politik, hubungan structural dan fungsional dalam system tersebut. Ekonomi adalah suatu studi mengenai individi individu dan masyarakat membuat pilihan, denagan atau tanpa menggunakan uang, dengan mengunakan sumber sumber daya yang terbatas tetapi dapat juga di gunakan dalam berbagai cara untuk menghasilkann berbagai jenis barang dan jasa dan mendistribusikannya untuk kebutuhan konsumsi sekarang dan di masa yang akan datang.[4] Dan GAM adalah sebuah Organisasi (yang dianggap separatis) yang memiliki tujuan untuk memisahkan Aceh menjadi Negara sendiri yang masih melekat pada Negara Indonesia karena negara Indonesia di anggap sebagai penjajah dan pemeras kekayaan di alam Aceh.
Landasan Teori
Teori politik dapat digunakan untuk menjelaskan kecenderungan integrasi dan disintegrasi yang dialami oleh Sosial GAM termasuk dalam penelitian ini. Teori Sosial, Politik dan Ekonomi mengasumsikan bahwa masyarakat terdiri dari beberapa kelompok yang memiliki kepentingan satu sama lain. Mereka bersaing untuk mewujudkan hasrat dan kepentingan mereka yang seringkali bermuara Terbentuknya GAM di Aceh.
pada akhirnya diberilah otonomi khusus untuk Aceh dan berujungnya perdamaian antara GAM dengan RI. Maka terjadilah perubahan social politik dan ekonomi di Aceh, dari daerahnya yang dulu mencekam menjadi daerah yang kondusif dan damai, dari keterpurukan ekonomi dan politik menjadi maju dan terus berkembang dari keterpurukan dan Masyarakat juga sudah bisa hidup bebas tanpa merasa tertindas lagi .[5]
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode penelitian sejarah yang meliputi empat tahap yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.
Adapun maksud dari empat tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1.      Heuristik atau tahap pengumpulan data yang berhubungan dengan topik penelitian. Dalam tahap ini dilakukan pengumpulan sumber dari berbagai buku dan metode wawancara terkait dengan pengumpulan data tersebut.
2.      Kritik atau verifikasi merupakan tahap untuk menguji dan menganalisa data secara kritis untuk mendapatkan data yang otentik.
3.      Interpretasi atau penafsiran dilakukan untuk merangkai fakta dan data dalam urutan yang kronologis.
4.      Historiografi atau penelitian sejarah dilakukan dalam bentuk penulisan deskriptif analisis.

C. Representasi  (Pembahasan)

1.      Sejarah Terbentuknya GAM
Secara umum GAM dilahirkan pada 4 Desember 1976. Sebenarnya GAM sendiri sebagai wahana pergerakan baru didirikan pada 20 Mei 1977. Namun Hasan Tiro sendiri memilih hari lahir GAM adalah pada tanggal 4 Desember 1976, disesuaikan dengan proklamasi kemerdekaan Aceh Sumatera. Proklamasi ini dilangsungkan di Bukit Cokan, pedalaman Kecamatan Tiro, Pidie. Prosesi ini dilakukan secara sederhana, dilakukan di suatu tempat yang tersembunyi, menandakan bahwa awal-awalnya, gerakan ini adalah gerakan bawah tanah yang dilakukan secara diam-diam.[6]
Bersamaan dengan proklamasi kemerdekaan, Hasan Tiro juga mengumumkan struktur pemerintahan Negara Aceh Sumatera. Akan tetapi, kabinet tersebut belum berfungsi hingga pertengahan 1977, persoalannya adalah karena para anggota kabinet pada umumnya masih berbaur dengan masyarakat luas untuk kampanye dan persiapan perang gerilya. Kabinet Negara Aceh Sumatera baru dapat melaksanakan sidang pertamanya pada 15 Agustus 1977. Sedangkan upacara pelantikan dan pengumpulan anggota kabinet dilaksanakan pada 30 Oktober 1977 di camp Lhok Nilam pedalaman Tiro, Pidie. Kabinetnya sendiri pada waktu itu, hanyalah terdiri dari beberapa orang saja, yaitu: Presiden (Hasan Muhammad Tiro), Perdana Menteri (Dr.Muchtar Hasbi), Wakil Perdana Menteri (Teungku Ilyas Leube), Menteri Keuangan (Muhammad Usman), Menteri Pekerjaan Umum (Ir.Asnawi Ali), Menteri Perhubungan (Amir Ishak BA), Menteri Sosial (Dr.Zubir Mahmud) dan Menteri Penerangan (M. Tahir Husin).[7]
Pertama, bahwa GAM merupakan lanjutan perjuangan—atau setidaknya terkait—Darul Islam (DI) Aceh yang sebelumnya pernah meletus pada 1950-an. Tesis ini, didukung oleh Isa Sulaiman yang menilai keterkaitan GAM dangan DI, karena persoalan DI tidak diselesaikan secara tuntas. Dukungan para tokoh DI pada awal lahirnya GAM memperkuat tesis bahwa ada yang belum selesai pada upaya integrasi yang dibangun oleh Sukarno untuk menyelesaikan pemberontakan DI/TII Daud Beureueh.[8] Namun, penulis menilai tesis ini lemah karena meski memiliki beberapa keterkaitan, tapi bukti bahwa GAM ternyata tidak melanjutkan ideologi Islam sebagai dasar perjuangan dan lebih memilih nasionalisme Aceh.[9]
Kedua, faktor ekonomi, yang berwujud ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi antara pusat dengan daerah. Pemerintahan sentralistik Orde Baru menimbulkan kekecewaan berat terutama di kalangan elite Aceh. Pada era Soeharto, Aceh menerima 1% dari anggaran pendapatan nasional, padahal Aceh memiliki kontribusi 14% dari GDP Nasional. Terlalu banyak pemotongan yang dilakukan pusat yang menggarap hasil produksi dari Aceh. Sebagian besar hasil kekayaan Aceh dilahap oleh penentu kebijakan di Jakarta. Meningkatnya tingkat produksi minyak bumi yang dihasilkan Aceh pada 1970-an dan 1980-an dengan nilai 1,3 miliar US Dolar tidak memperbaiki kehidupan sosial ekonomi masyarakat Aceh.[10]
faktor ekonomi memang berpengaruh terhadap lahirnya GAM. Tapi ia hanya merupakan salah satu dari sekian banyak kromosom yang dikandung sel sperma yang akan membuahi sel telur, hingga akhirnya melahirkan GAM. Kalau permasalahannya hanya faktor ekonomi, maka tuntutannya tidak akan kemerdekaan. Faktor ekonomi pasti akan diselesaikan dengan tuntutan yang bisa menghasilkan keuntungan ekonomi bagi pihak Aceh. Sel sperma yang sesungguhnya dalam kelahiran GAM adalah ketidakadilan yang dirasakan oleh pihak Aceh. Sel ketidakadilan ini berisi kromosom yang berupa ketidakadilan di bidang ekonomi, politik, dan berbagai ketidakadilan lainnya. Faktor ketidakadilan inilah yang merupakan faktor ketiga dari sebab kelahiran GAM.
Hasan Tiro meyakni bahwa Aceh merupakan identitas tersendiri, yang memiliki sejarah dan jati diri yang kuat. Oleh karenanya, kedaulatan Aceh yang sudah dimiliki ratusan tahun yang lalu harus dikembalikan. Telah nyata bahwa bangsa Aceh memiliki kebanggaan atas dirinya sebagai bangsa yang tidak mudah tunduk, atau mempunyai harga diri yang tinggi. Memiliki keyakinan bahwa bangsanya adalah bangsa pejuang, yang tidak boleh direndahkan oleh pihak luar. Bangsa yang memiliki pahlawan-pahlawan yang pantang menyerah dan siap berkorban untuk kepentingan negerinya. Bangsa yang memiliki cita-cita mati mulia dalam keadaan syahid. Semua gambaran atas dirinya yang bisa terrefleksikan dalam hikayat perang sabil.[11] Identitas ini semakin diperkuat dengan berbagai ketidakadilan yang ada dan sikap mengedepankan orang non Aceh, terutama orang Jawa, sebagai kolaborator penguasa Indonesia atas tanah Aceh.
Nasionalisme Aceh sangat terhubung dengan kekecewaan luar biasa atas Jakarta. Nasionalisme ini sendiri sebenarnya dimunculkan oleh kegagalan Indonesia dalam menguraikan konsepsi kebangsaannya. Ditambah dengan penguasaan atas sumber daya politik dan ekonomi Aceh, terlebih ketika diberlakukannya Daerah Operasi Militer (DOM) yang represif. Nasionalisme Aceh menguat menjadi satu pikiran sederhana: Indonesia adalah musuh bersama bagi rakyat Aceh.
Analisis tentang faktor kelahiran GAM yang disebabkan oleh munculnya Nasionalisme Aceh ini bisa dilihat dari kesaksian Hasan Saleh. Ia merupakan mantan Menteri Pertahanan atau Panglima Tentara Islam Indonesia era perlawanan DI/TII, namun menolak untuk berjuang dan mendukung GAM. Setelah terdengar desas-desus pemberontakan kembali terdengar, ia dibujuk oleh Jalil Amin untuk turut serta dalam gerakan ini. Demikianlah, maka lahir dan terbentuknya GAM di Aceh yang muncul dari nasionalisme bangsa Aceh.
A.    Tokoh Politik GAM

WALLAH BILLAH (demi Allah)… Aceh nanti akan saya beri hak untuk mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan Syari’at Islam, akan saya pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar benar dapat melaksanakan Syariat Islam.
Apakah kakak masih ragu?

a.      Teungku Abu Daud Beureueh
Daud Beureuh dan pasukannya Dalu Islam/Tentara Islam turut membantu Indonesia untuk lepas dari jajahan Belanda, dengan jaminan pemerintah mau memberikan otonomi politik dalam penyelenggaraan syariat Islam. Namun pemerintah tidak menepati janji yang sudah disepakati. Akhirnya Daud Beureuh memimpin pasukannya untuk melawan tentara Indonesia sebagai bentuk proses. Pemberontakan atau pun konflik tersebut dimulai dari tahun 1953 dan usai tahun 1959. Pemberontakan tersebut usai tanggal 26 Mei 1959 saat Aceh diberi status Daerah Istimewa dengan otonomi luas, utamanya dalam bidang adat, agama, dan pendidikan.[12]

b.   Teungku Hasan Muhammad Di Tiro

c.       Biografi
Hasan Tiro lahir di desa tanjung bungong, Pidie, pada tanggal 25 September 1925, Ayahnya adalah Teungku Muhammad adalah seorang ulama yang di segani di desa itu. Ibunya adalah Fatimah binti Teungku Mahyuddin adalah cucu besar ulama pidie teungku Cik Di Tiro (1826-1891), sekaligus pimpinan perlawanan kolonialpada masa perang Aceh ( 1885-1891), dia mendapatkan pendidikan sekolah di siak yang di pimpin teungku Abu Daud Beureueh dan islam normal schooldi beureueh. Masa revolusi kemerdekaan, di merantau ke Yogyakarta dan berkuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) pada tahun 1950.[13]
Lulus dari UII, ia kemudian mendapat beasiswa dari pemerintah Indoensia untuk melanjutkan pendidikanya ke Amerika Serikat. Ia mengambil jurusan Ilmu Hukum International di Universitas Columbia. Setelah menyelesaikan program doktor ia masih sempat bekerja di KBRI di Amerika.
Pada tahun 1953, Aceh diguncang pemberontakan Darul Islam, yang dipimpin langsung oleh Teungku Daud Beureueh, Aceh melawan Jakarta, karena Soekarno dianggap ingkar janji, Dan Pandangan politiknya mulai berbalik 180 derajat ketika pemerintah Indonesia di masa Perdana Menteri Ali Sastroamidjo (1953-1955) mengejar pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) hingga ke pedalaman Aceh. Menurut salah satu surat kabar di New York bahwa sekitar 92 warga sipil di Pulot, Cot Jeumpa Leupung, Aceh Besar, dibantai serdadu republik pada 26 Februari 1954. Ini ekses akibat ditembaknya belasan prajurit Indonesia oleh mujahidin DI/TII Aceh dua pekan sebelumnya.

d.      Perjuangan
Pada tahun 1980 Hasan Tiro dan sejumlah pemimpin GAM pindah ke Swedia untuk mempermudah gerak laju dari Gerakan Aceh Merdeka, tetapi konflik masih terus berlanjut. Suharto dalam masa pemerintahan Orde Baru kemudian menggelar operasi gabungan pada tahun 1989 yaitu di jadikannya Aceh sebagai Daerah operasi militer untuk menumpas GAM. Tetapi nama operasi yang di buat oleh soehato tersebut bernama operasi jarring merah.[14]
Di masa orde baru tidak ada toleransi bagi pemberontak, karena itu integrasi tidak memungkinkan pada aktu itu, pendekatan militer menyebabkan terjadinya kekerasan pada periode DOM di Aceh, dan pada saat itu juga banyak terjadi pelanggaran Hak Asasi Manusia yang terjadi.[15] Seperti kasus teuku Bantakia di beutoung, Aceh Barat.
Kelompok GAM di masa DOM melakukan eksodus keluar dan melakukan perjuangan dari luar aceh, melalui Malaysia, Lybia, dan Jenewa, pendekatan pendekatan selanjutnya yang di tempuh oleh pemerintah selanjutnya adalah memalui nota kesepahaman yaitu perjanjian MoU Hensinki.

2.      Respon Masyarakat
Pada awal terbentuknya gam di aceh, masyarakat aceh yang awal mulanya sangat mendukung gam untuk merdeka dari sini kita dapat melihat kaitan social antara masyarakat aceh dan gam. Dalam hal ini kita bisa melihat gambaran Social Politik dan Ekonomi yang sangat dekat yang terjadi pada masyarakat di Aceh. Kita bisa melakukan perbandingan antara sebelum dan setelah ada dan terbentuknya GAM di Aceh yang dilakukan oleh masyarakat Aceh yang ingin mendukung GAM dan memberontak dengan Pemerintah pusat di Jakarta. Tujuannya adalah tiada lain yaitu menuntut kesejahteraan dan perhatian dari Pusat, karena saat itu Aceh adalah daerah modal namun tidak diberi perhatian yang baik sebagai daerah modal.
Daerah Aceh diekploitasi hasil alamnya dan kejahteraan masyarakatnya tidak diperhatikan, dan kesempatan untuk menikmati hasil alam sendiri pun tidak dapat dirasakan. Kemudian diawali dengan kesadarannya sudah tertindas oleh pemerintah Pusat, sebahagian besar masyarakat  Aceh menuntut dan memberontak dan berujung konflik.
Inilah yang membuat sebagian masyaraka aceh ingin mendukung Gam dan mengiginkan Aceh merdeka, setelah di berlakukannya DOM di Aceh. Masyarakat di Aceh banyak yang menjadi korban dan kekerasan konflik GAM dengan TNI. Ini salah satu ha dan respon masyarakat setelah terjadinya DOM di Aceh yang meyebabkakan mereka idak lagi mendukung GAM merekaka beranggapan bahwa “ dari pada konfik ini bersangsung lama dan bannyak memakan korban lebih baik konflik ini di selesaikan”.
Puncaknya, tepat tanggal 8 November 1999, sekitar 2 juta masyarakat Aceh dari berbagai wilayah di Aceh berkumpul di halaman Mesjid Raya Banda Aceh dan mengikrarkan diri siap berjuang sampai darah penghabisan untuk perjuangan referendum penentuan nasib sendiri bagi rakyat Aceh. Sebelumnya, di setiap wilayah sudah digelar konvoi dan aksi massa perjuangan referendum yang diikuti ratusan ribu masyarakat Aceh.

3.      Bentuk bentuk Politik GAM
Perjuangan dan peluang politik kelompok GAM ikut meningkatkan tuntutan mereka terhadap bidang sosial ekonomi Dengan kata lain benuk politik GAM memberikan berkah akses bidang sosial ekonomi yang lebih luas. Bentuk politik gam di aceh merupakan salah satu akses atau jalan yang di tempuh oleh gam suoaya dapat menuju aceh merdeka.
Salah satu politik gam tersebuat adalah menempatkan anggota anggota gam di setiap daerah yang berada di wilayah aceh sendiri dan pusat dari gam sendiri ialah di setiap daerah daerah yang sudah di jadikan markas supaya mereka bisa berpindah pindah dari empa satu ke tempa yang lain guna unuk melindungi diri serta unuk menyerang musuh dengan mudah.
Hasan Tiro secara frontal memperjuangkan pemisahan Aceh dari Jakarta. Bagi Hasan Tiro, Aceh tak memiliki hubungan apapun dengan Indonesia. Menurutnya, Aceh hanya memiliki permasalahan dengan Belanda. Karena itu ada tuntutan agar Belanda mencabut maklumat perang dan memulihkan kedaulatan Aceh seperti sedia kala.
Konflik Aceh pun dimulai. Di satu sisi, Pemerintah sudah mengekalkan bahwa Aceh adalah bagian tak terpisahkan dari Negara Kesatuan Indonesia. Apapun akan dilakukan jika demi mempertahankan sejengkal tanah NKRI ini. Klaim Indonesia terhadap Aceh sudah final: Aceh merupakan bagian dari Indonesia yang harus dipertahankan.[16]
Politik lainnya adalah GAM mengkampanyekan kemerdekaan untuk Aceh. Pada mulanya kampanye lebih diarahkan pada penyadaran ideologis rakyat Aceh sebagai bangsa yang memiliki kedaulatan. Meski pada awalnya sangat sedikit masyarakat Aceh yang terpengaruh pada kampanye GAM ini. Di mana gerakan ini hanya popular di tiga wilayah saja yaitu Pidie, Aceh Utara dan Timur.
Pada awalnya Pemerintah di Jakarta tak begitu merespon gerakan ini. Namun, karena ancaman terhadap keutuhan NKRI betul-betul telah nampak di depan mata, apalagi aktivis GAM di luar negeri sudah kembali ke Aceh dan memicu perang terbuka dengan serdadu republic di Aceh. Mau tak mau memaksa pemerintah menggunakan kekuatan bersenjata. Akibatnya sudah dapat ditebak, banyak rakyat Aceh yang tak terkait apa-apa dengan gerakan ini ikut menjadi korban.
Puncaknya pada tahun 1989 secara illegal pemerintah memberlakukan status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, di mana sebelumnya dikenal dengan Operasi Jaring Merah. Aceh dipaksa masuk dalam pusara konflik. Ribuan serdadu dikirim ke Aceh untuk menumpas 120 anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
Padahal munculnya gerakan ini juga tak terlepas dari kebijakan salah yang diterapkan pemerintah terhadap Aceh. Hasil alam Aceh yang sangat kaya raya dikeruk sedemikian rupa tetapi masyarakat Aceh hidup dalam kemiskinan. Rakyat Aceh menjadi penonton terhadap proyek-proyek besar pemerintah di Aceh. Hasil alam Aceh diekploitasi tanpa henti, sementara rakyat Aceh dijadikan sebagai sapi perahan dan budak di negeri sendiri. Tak hanya itu perlakuan refresif pemerintah juga membuat masyarakat Aceh semakin jauh dengan pemerintah di Jakarta.
tuntutan pencabutan DOM di Aceh menjadi salah satu isu yang menggelinding di kalangan mahasiswa Aceh. Sepertinya, mayoritas masyarakat menghendaki pencabutan status DOM di Aceh. Karena DOM tak lebih sebagai kebijakan legalitas memusnahkan masyarakat Aceh. Terbukti kemudian begitu DOM dicabut, ribuan masyarakat Aceh ikut menjadi korban keganasan serdadu pemerintah.
Perlakuan seperti ini di antaranya yang memaksa mahasiswa Aceh merumuskan ulang posisi Aceh di dalam Indonesia. Melalui Kongres Mahasiswa dan Pemuda Aceh Serantau Tahun 1999, masyarakat Aceh mengirimkan pesan khusus terhadap Jakarta: Aceh sudah muak terus menerus menjadi bagian dari Indonesia; Aceh ingin merdeka. Sejak itulah lembaga perjuangan masyarakat sipil Aceh, Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) dilahirkan sebagai lembaga yang memperjuangkan referendum penentuan nasib sendiri untuk rakyat Aceh di bawah pengawasan internasional. Tak tanggung-tanggung, mereka mengusung dua opsi radikal untuk Aceh: Bergabung dengan Indonesia atau pisah (Merdeka).

Penutup
1.      Kesimpulan
GAM dilahirkan pada 4 Desember 1976. Sebenarnya GAM sendiri sebagai wahana pergerakan baru didirikan pada 20 Mei 1977. Namun Hasan Tiro sendiri memilih hari lahir GAM adalah pada tanggal 4 Desember 1976, disesuaikan dengan proklamasi kemerdekaan Aceh Sumatera. GAM lahir karena adanya Ketidakadilan pemerintah dam segi Sosial, Politik dan Ekonomi.
kehadirann DOM di Aceh sebagai sebuah peristiwa kejahatan politik nasional yang terpenting mempunyai arti yang begitu mendalam bagi masyarakat Aceh. Inilah salah satu konflik terbesar antara GAM dan RI sampai pada tahun 2004 datangnya bencana Tsunami di Aceh menimbulkan sebuah perdamaian antara GAM dan RI pada tahun 2005 melalui perjanjian MoU Helsinki.
Bentuk bentuk politik gam sangantal sederhana tetapi meyakinkan perama mereka membua empa empa aau basecamp di aceh unuk memudahkan mereka melindungi diri maupun menyerang musuh dan mengkampanyekan kemerdekaan di aceh sehingga masyarakat aceh terpengaru dengan politik gam itu yang menimbulkan referendum di aceh.



DAFTAR PUSTAKA
N. Daldjoeni, Geografi Kesejarahan I, Peradaban Dunia, (Bandung: Penerbit Alumni, 1987).

  Moch. Nurhasim, Konflik dan Integrasi Politik Gerakan Aceh Merdeka: Kajian tentang Konsensus Normatif antara RI-GAM dalam Perundingan Helsinki (Jakarta: P2P-LIPI dan Pustaka Pelajar: 2008).

Dududung Abdurahman, “Pengantar Sejarah dan Peradaban Islam”, Dalam Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta; LESFI, 2009).

Sadono Sukirno, Mikroekonomi Teori Pengantar (Edisi Ketiga), (Jakarta; PT Rajagrafindo Persada, 2015).

Wirawan, Konflik dan Manajemen Konflik, Teori, Aplikasi, dan Penelitian, (Jakarta; Salemba Humanika, 2009).

Nazaruddin Sjamsiddin, REVOLUSI DI SERAMBI MEKAH (Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh  1945-1949, (Jakarta; UI Press, 1998).

Harry Kawilarang, Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki (Banda Aceh: Bandar Publishing, 2008).

Ibramih Alfian, Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912 (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987).

Al Chaidar, dkk, ACEH BERSIMBAH DARAH ( Mengunggkap Penerapan Status DOM di Aceh 1989-1998, (Jakarta; Pustaka Al-Kautsar, 1998).

Neza Patria, Hasan Tiro Nasionalisme  Aceh dan Nasionalisme Negara, Edisi 08, (Jakarta; Yayasan Mitra Buana, 2002).
Hasbi Amiruddin, Perjuangan Ulama Aceh di Tengah Konflik, (Yogyakarta; Ceninnets, 2004).


[1] N. Daldjoeni, Geografi Kesejarahan I, Peradaban Dunia, (Bandung: Penerbit Alumni, 1987), Hlm, 5.

[2]  Moch. Nurhasim, Konflik dan Integrasi Politik Gerakan Aceh Merdeka: Kajian tentang Konsensus Normatif antara RI-GAM dalam Perundingan Helsinki (Jakarta: P2P-LIPI dan Pustaka Pelajar: 2008), Hlm, 64-66.
[3] Dududung Abdurahman, “Pengantar Sejarah dan Peradaban Islam”, Dalam Siti Maryam dkk, Sejarah Peradaban Islam Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta; LESFI, 2009), Hlm, 5.
[4] Sadono Sukirno, Mikroekonomi Teori Pengantar (Edisi Ketiga), (Jakarta; PT Rajagrafindo Persada, 2015), Hlm, 8.
[5] Nazaruddin Sjamsiddin, REVOLUSI DI SERAMBI MEKAH (Perjuangan Kemerdekaan dan Pertarungan Politik di Aceh  1945-1949, (Jakarta; UI Press, 1998), Hlm, 246-247.
[6] Moch. Nurhasim, Konflik dan Integrasi Politik Gerakan Aceh Merdeka: Kajian tentang Konsensus Normatif antara RI-GAM dalam Perundingan Helsinki, (Jakarta: P2P-LIPI dan Pustaka Pelajar: 2008), Hlm, 64-66.
[7] Ibid, Hlm, 66.
[8] Ibid, Hlm, 63.
[9] Journal, Edward Aspinal, Sejarah Konflik Aceh, Hlm, 1, 2008.
[10] Harry Kawilarang, Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki (Banda Aceh: Bandar Publishing, 2008), Hlm, 156.
[11] Ibramih Alfian, Perang di Jalan Allah: Perang Aceh 1873-1912 (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987), Hlm. 142.
[12] Lusia, Henny. 2010. Keberhasilan CMI Dalam  Mediasi Konflik Internal  di Aceh.
[13] Neza Patria, Hasan Tiro Nasionalisme  Aceh dan Nasionalisme Negara, Edisi 08, (Jakarta; Yayasan Mitra Buana, 2002), Hlm. 46.
[14] Hasbi Amiruddin, Perjuangan Ulama Aceh di Tengah Konflik, (Yogyakarta; Ceninnets, 2004), Hlm.70.
[15] Ibid, Hlm.70.
[16] Hasbi Amiruddin, Perjuangan Ulama Aceh di Tengah Konflik, (Yogyakarta; Ceninnets, 2004), Hlm.70

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Lisan, Teka Teki di Indonesia dan contohnya

PEMBAHARUAN SHER SHAH SURI

Harmoni di Ufuk Timur Kediri