Tempat bersejarah di dataran tinggi gayo
bab 1
Tempat
bersejarah di dataran tinggi gayo
1.
Sejarah gayo
Sejarah
dan kebudayaan Suku Gayo Aceh, Suku Gayo adalah salah satu etnis suku bangsa yang mendiami
dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh bagian tengah. Bagian wilayah suku Gayo
meliputi kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues, Masyarakat suku
Gayo beragama islam dan dikenal taat dalam beragama.
Suku Gayo suku
tergolong ke dalam Proto Melayu. Kedatangan bangsa ini diperkirakan datang ke
Indonesia sekitar 2000 tahun sebelum masehi. Suku Gayo terdiri dari tiga
kelompok yaitu Masyarakat Gayo laut yang mendiami daerah Aceh Tengah dan Bener
Meriah, Gayo Lues yang mendiami daerah Gayo Lues serta Gayo Blang yang mendiami
sebagian kecamatan di Aceh Tamiang ( kuta cane ).
Kata Gayo berasal dari
kata Pegayon yang berarti tempat mata air jernih dimana terdapat ikan suci
(bersih) dan kepiting. Konon, dahulu serombongan pendatang suku Batak Karo ke
datang ke Blangkejeren dengan melintasi sebuah desa bernama Porang. Di
perjalanan mereka menjumpai sebuah perkampungan yang terdapat sebuah telaga
yang dihuni seekor kepiting besar, kemudian mereka melihat binatang tersebut
dan berteriak Gayo Gayo. Dari sinilah daerah tersebut dinamai dengan Gayo.
Banyak tempat tempat
bersejarah di gayo mulai dari peninggalan kekeraraan hingga tempat tempat di
mana fosil nenek moyang suku gayo di temukan di sekitaran dataran tinggi gayo.1
Bab 2
Peninggalan
kerajaan linge
Kerajaan linge adalah sebuah kerajaan kuno di aceh, kerajaan ini
terbentuk pada tahun 1025 M (416 H)dengan raja pertama yaitu adi genali ( kik
betul ). Banyak pendapat tentang muncul atau berdirinya kerajaan linge ini.[2]
Daerah Gayo cuma pernah disebut dalam Hikayat Raja-raja yang
ditulis pada abad ke-14 yang menyebutkan tentang sekelompok masyarakat di
negeri Pasai yang menolak masuk Islam
dan kemudian pindah ke hulu sungai Peusangan. Setelah
itu cerita tentang wilayah ini kembali muncul dalam “Hikayat Aceh” yang ditulis
pada abad ke-17 ada satu bagian yang menceritakan tentang suatu daerah yang
memiliki laut berair tawar yang sudah masuk dalam wilayah kekuasaan Sultan
Iskandar Muda yang di namakan dengan danau lut tawar (pada sekarang ini).
jika kita ingin menelusuri sejarah kerajaan linge ini kita bias
melihat atau meneliti sisa sisa dari peninggalan kerajaan tersebut seperti
benda benda artefak yang di tinggalkan oleh kerajaan linge tersebut. Ada sebuah
artefak yang sangat mendukung bukti bahwa peperangan kerajaan perlak dengan
kerajaan sriwijaya yang di simpan di daerah linge sendiri dan benda ini pun
juga di sebut sebagai tikon raja linge.
Dari hasil pengamatan atau penelitian sendiri, daerah kerajaan
linge pada saat ini di sana banyak terdapat peninggalan peninggalan kerajaan
linge da nada lagi satu hal yang di percaya sebagai peninggalan kerajaan
tersebut, kejaraan linge atau keratin kerajaan linge tersebut masih ada sampai
sekarang keratin itu pada saat ini masihlah utuh tanpa ada di perbaharui
keratin kerajaan linge tersebut bernama ( umah pitu ruang ), dan sampai saat
ini keraton tersebut berdiri kokoh, di depan umah pitu ruang tersebut terdapat
kuburan, yang belum bias di pastikan bahwa kuburan itu adalah kuburan siapa,
tapi yang jelas kuburan di depan umah pitu ruang tersebut bukanlah kuburan raja
linge tersebut melainkan kuburan dari anak anak raja tersebut, dan di samping
umah pitu ruang terdapat sumur, sumur ini bias di pastikan bahwa ini adalah
peninggalan kerajaan linge, sumur tersebut mempunyai kedalaman kurang lebih
satu sampai dua meter dan air tersebut sangat jernih dan tidak mau kering.
Bab 3
Loyang mendale
Di Takengon ( Dataran Tinggi Gayo ) berasal dari bahasa aceh
yang mengandung arti tikungan dan di anugrahi bentangan alam yang indah dengan
jarak berkelok kelok menuju perbukitan yang terjal serta pepohonan yang lebat
di sepanjang jalan, takengon juga memiliki danau yang mempesona.
Di luyang mendale di temukannya fosil fosil dan tulang belulang
manusia serta terdapat juga benda benda artefak lainya yang mengandung segudang
misteri, sejak 2010 lalu para peneliti mulai menemukan fosil fosil serta benda
benda artefak lainnya di luyang mendale tersebut, fosil tersebut di perkirakan
adalah penduduk asli gayo yang bias di katakan berasal dari kerajaan linge, dan
fosil tersebut di perkirakan sudah berusia 7000 tahun, di duga sebagai nenek
moyang suku gayo.[3]
Terdapat di pesisir danau lut tawar yaitu mendale yang tidak
jauh dari pusat kota takengon, selain penemuan fosil fosil di luyang mendale
juga di temukan kendi kendi atau gerabah di di luyang mendale tersebut, adat
dari masyarakat gayo adalah kerrawang gayo kerrawang gayo ini sudah ada pada
saat jaman nenek moyang suku gayo ada, dari penemuan kendi kendi atau gerabah
tersebut di sisi-sisi gerabah itu terdapat ukiran kerawang gayo tersebut, jadi
dari semenjak di temukannya kerawang gayo pada sisi-sisigerabah tersebut
masyarak gayo percaya bahwa fosil fosil itu berupa nenek moyang dari suku gayo
tersebut.
Bab 4
Goa loyang koro
Masih terletak di takengon ( dataran tinggi gayo ) goa luyang
koro bersejarah pada masyarakat gayo. dalam bahasa Gayo Loyang = Goa dan Koro = Kerbau Gua
Loyang Koro adalah sebuah gua yang terletak di tepi danau laut tawar
kecamatan kebayakan ibu kota Takengon dengan jarak tempuh lebih
kurang 5 km arah timur ibu kota takengon, legenda dari gua ini memiliki
dua versi yang pertama bahwa dulunya gua ini adalah perlintasan masyarakat gayo
takengon menuju desa isaq yang memiliki jarak tempuh sekitar 35 km, melalui gua
ini para pengebala kerbau membawa ternaknya, jadi gua ini merupakan jalan
pintas untuk menuju ke Isak atau ke Kota Takengon untuk berdagang, jika
mareka membawa ternak melewati jalan raya sangat jauh dan membutuhkan waktu
yang sangat lama, maka gua ini di namai sebagai gua luyang koro.[4]
Kemudian versi yang kedua menyebutkan
bahwa goa ini dulunya adalah tempat bersembunyinya Sultan Aceh dari kejaran
tentara Belanda dan portugis. Saat belanda dan portugis menyerang aceh, sultan
aceh dulu di kejar kejar bahkan menjadi buronan keti bangsa belanda dan
portugis menjajah Indonesia khususnya di daerah aceh, lalu sultan aceh tersebut
menemukan tempat persembunyian di tepi danau lut tawar tepatnya di goa luyang
koro tersebut.
Bab 5 penutup
Kesimpulan :
Gayo adalah masyarakat suku yang menempati daerah aceh tengah di daerah gayo banyak sejarah
di gayo yang tidak di ketahui oleh banyak orang, seperti tulisan di atas bahwa
sejarah gayo berupa peningalan kerajaan bahkan sampai ke fosil fosil manusia di
gayo, memilik dan bayak lagi tempat tempat di gayo yang mempunyai sejarah.
Serta gayo juga mempunyai kerajaan tersendi yang berasal dari kerajaan peurlak.
Saran :
Sejarah haruslah di ketahu banyak orang bahka sejarah tersendiri
mempunyai makna bagi kehidupan masa kini, jadi janganlah kita melupakan sejarah
sejarah yang berada pada daerah kita( lokal ), sejarah lokal juga perlu di
sebar luaskan kepada masyarakt masyarakat yang belum mengetahuinya bahkan juga
perlu di jadikan sebagai wisata agar di ketahui oleh banyak orang yang belum
mengetahuinya.
Komentar
Posting Komentar