PERADABAN CHINA



PERADABAN CHINA
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sejarah Dunia


Dosen:
Drs. H. Jahdan Ibnu Humam Saleh, M.S.
NIP. 19540212 198103 1 008



Description: Untitled

Kelompok 2
Kelas A SKI

Disusun oleh:

Muhammad Bayu Habibie
NIM. 16120003

Raisatul Mufahamah
NIM. 16120004


JURUSAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN ISLAM
FAKULTAS ADAB DAN ILMU BUDAYA
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2017


PENGANTAR

 

 

Bismillahirrahmanirrahim
       
            Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang senantiasa mencurahkan kasih dan sayang-Nya sehingga makalah Peradaban China dapat terselesaikan dengan lancar.
            Shalawat serta salam semoga tetap dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabatnya, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
             Materi dalam makalah ini disusun berdasarkan studi pustaka serta referensi-referensi yang sesuai berkenaan dengan Peradaban China.
            Namun demikian, disadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna baik dari segi isi dan penulisan. Saran dan kritik yang kritis, solutif serta konstruktif dari pembaca, khususnya Drs. H. Jahdan Ibnu Humam Saleh, M.S., sebagai dosen mata kuliah Sejarah Dunia akan disambut dengan senang hati.
       
        Wabillahi taufik wa al-hidayah
        Wassalam’alaikuum warahmatullahi wabarakatuh








Yogyakarta, 8 Maret 2017


Penulis


DAFTAR ISI




 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Peradaban China merupakan peradaban yang tertua di dunia selain Mesir, Babilon, Aztec, dan Yunani. Peradaban-peradaban lainnya hancur dan lenyap. Berbeda dengan peradaban China kuno yang  bertahan sampai sekarang sehingga bisa dikatakan peradaban China menjadi peradaban yang besar dan abadi sepanjang sejarah manusia. Seperti Peradaban bangsa-bangsa lain, peradaban China memiliki karakteristik tertentu. Ibadah leluhur, mandat surga, dan banyak ide-ide filosofis, terutama Konfusius, telah dipraktekkan atau digunakan selama ribuan tahun sampai sekarang. China adalah satu-satunya peradaban di mana pemikirannya tidak dipengaruhi oleh bangsa manapun. Oleh karena itu, peradaban China berkembang secara independen.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana awal mula peradaban di China?
2.      Bagaimana kekuasaan dan wewenang di China?
3.      Bagaimana kelas sosial peradaban di China?
4.      Bagaimana sistem kepercayaan di China?
5.      Bagaimana sistem teknologi dan pengetahuan di China?
6.      Bagaimana sistem penulisan awal di China?

C.    Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui awal mula peradaban di China.
2.      Untuk mengetahui kekuasaan dan wewenang di China.
3.      Untuk mengetahui kelas sosial peradaban di China.
4.      Untuk mengetahui kepercayaan di China
5.      Untuk mengetahui teknologi dan pengetahuan di China.
6.      Untuk mengetahui penulisan awal di China.

 



BAB II

PEMBAHASAN

A.    Awal mula peradaban di China

Sungai Huang He (Hwahng Huh), atau Sungai Kuning melintasi China sepanjang 2.900 mil (4.666 km). Nama tersebut diambil dari kandungan sungai berupa tanah kuning yang terbawa dari Mongolia ke Samudera Pasifik. Seperti sungai di Mesopotamia, Sungai Huang He juga sering meluap dan membanjiri tanah. Banjir ini memberikan keuntungan sekaligus kerugian bagi orang China. Ketika sungai meluap, banyak orang tenggelam serta banyak rumah rusak. Itu sebabnya orang China menyebut Sungai Huang He sebagai “ Kesedihan China”. Bagaimanapun, Sungai ini juga membawa keuntungan, ketika banjir surut, tertinggal humus tanah di lembah sungai. Akibatnya, lembah sungai menjadi subur. Petani mendapatkan panen yang banyak dari lahan pertanian yang kecil.
China juga mempunyai sungai besar yang lain, yang disebut sungai Chang Jiang (Chahng Jyahng) atau sungai Yangtze River. Sungai Chang Jiang lebih panjang dari sungai Huang he. Panjangya mencapai 3.400 mil (5.471 km) yang membelah China di sebelah timur yang bermuara di Laut Kuning. seperti lembah Huang He, lembah sungai Chang Jiang juga subur untuk pertanian.
Meskipun China mempunyai lembah sungai yang subur, hanya 1/10 tanah yang dapat ditanami. Sisanya berupa pegunungan dan gurun yang terhampar.  Pegunungan Himalaya menjulang di barat daya China. Pegunungan  Kunlun Shan dan Tian Shan di perbatasan barat China. Gurun Gobi, merupakan daerah gurun luas dan berbatu, ynag menyebar timur dari pegunungan tersebut. Peguungan dan gurun inilah yang banyak membentuk sejarah China. Pegunungan dan gurun ini seperti dinding yang mengelilingi orang China, memisahkan mereka dari kebanyakan orang lain.
Tidak banyak diketahui tentang bagaimana peradaban China bermula. Arkeolog menemukan gerabah di lembah sungai Huang He. Ini membuktikan bahwa lembah Sungai Huang He merupakan pusat pertama peradaban China. Arkeolog mengemukakan bahwa orang-orang tinggal di lembah sungai bekerja menjadi petani karena lembah sungainya subur. Ketika populasi mereka bertambah, mereka mendirikan kota, dari ditulah pertama kali peradaban China dimulai.

B.     Kekuasaan dan Wewenang di China

Fosil yang menunjukkan adanya nenek moyang bangsa China ditemukan di barat daya China sekitar 1.7 juta tahun yang lalu. Di bagian utara China dekat Beijing ditemukan rangka tubuh Homo Erectus atau manusia peking. Ini membuktikan bahwa orang-orang telah tinggal di lembah sungai sekitar 500.000 tahun yang lalu.

            Dinasti pertama China dibangun oleh penduduk yang menetap di sekitar sungai Huang He. Sekitar 2000 SM, sebagian dari mereka sudah menetap dan mendirikan kota pertama di China. Menurut legenda, Dinasti pertama Cinta, Xia (shyah), berdiri pada waktu tersebut. Pemimpin dinasti ini merupakan seorang insyinyur sekaligus matematikawan bernama Yu. Proyek irigasi dan penanggulangan  banjir ini mampu melawan ganasnya sungai Huang He pada saat itu, sehingga pemukiman bisa tumbuh dan berkembang. Legenda Yu mencerminkan tingkat suatu teknologi masyarakat dalam peradaban.

            Shang muncul dan menguasai bagian utara China. Dinasti Shang berdiri dari 1.700 SM- 1027 SM. Shang inilah yang pertama kali meninggalkan tulisan. Raja Shang mendirikan istana-istana dan makam-makam yang ditemukan oleh arkeolog. Artefak inilah yang mengungkap tentang Dinasi Shang.

            Diantara kota tertua yang penting pada masa Dinasti Shang adalah kota Anyang. Anyang menjadi ibukota Dinasti Shang. Anyang didirikan dari kayu, tidak seperti peradaban India yang dari lembah. Kota ini merupakan bekas dari pembukaan hutan. Orang kelas atas hidup di rumah berbingkai kayu dengan dinding terbuat dari tanah liat dan jerami. Rumah-rumah ini berada di dalam kota. Sedangkan, para petani dan pengrajin hidup di pondokan luar kota.

            Sekitar tahun 1027 SM, sebuah mayarakat yang menaamai diri mereka sebagai Zhou (Joh) menaklukkan Shang dan mendirikan dinasti mereka. Zhou banyak mengadopsi kebudayaan Shang. Zhou memberikan angin segar berupa ide-ide bagi kelangsungan peradaban China.

 Mandat surga adalah taktik untuk memebenarkan penaklukkan Sinasti Shang. Pemimpin Zhou mendeklarasikan bahwa raja terakhir dinasti Shang sudah melemah dan Tuhan memberikan pesan kepada Dinasti Zhou untuk mengambil alih kekuasaan. Pembenaran ini berkembang dari waktu ke waktu menjadi pandangan yang lebih luas bahwa otoritas kerjaan datang dari surga. Hanya penguasa yang ditunjuk oleh ilahi yang pantas menjadi pemimpin, inilah yang disebut dengan Mandate of Heaven. Jadi, raja yang kejam dan bodoh bisa saja kehilangan mandat dari surga untuk memerintah.

            Mandat surga menjadi cara pandang kekuasaan di China. Banjir, kerusuhan, dan bencana lain menjadi sebuah pertanda bahwa arwah nenek moyang tidak senang atas suatu kekuasaan raja. Mandat surga kemudia berpindah dari satu keluarga bangsawan ke keluarga bangsawan yang lain. Inilah yang menjadi penyebab adanya pemberontakan, perang sipil, dan muncul dinasti baru. Dari situ, sejarawan menyimpulkan bahwa pergantian dinasti memiliki pola yang sama, yakni : muncul, tumbang, dan digantikan. Inilah yang dikenal dengan Dynasty Cycle atau perputaran dinasti.

            Dinasti Zhou mengontrol tanah yang terbentang dari Huang He di sebelah utara sampai dengan Chang Jiang di barat. Untuk memudahkankan pemerintahan di area yang luas ini, mereka memberikan kesempatan bagi anggota keluarga kerajaan atau bangsawan yang terpercaya untuk mengontrolnya. Sistem inilah yang disebut Feodalisme. Feodalisme adalah sistem politik di mana bangsawan atau pejabat dibenarkan untuk menggunakan lahan yang secara resmi dimiliki oleh raja. Imbalannya, mereka berutang budi baik itu berupa kesetiaan atau militer kepada raja dan perlindungan terhadap masyarakat di daerah tersebut. Sistem serupa inilah yang nantinya muncul pada abad-abad selanjutnya baik di Jepang maupun Eropa.

            Pada awalnya, pejabat setempat tinggal di kota-kota kecil dan harus tunduk pada kekuatan dan kekuasaan Dinasti Zhou. Secara bertahap, para pejabat semakin kuat ditandai dengan kota yang mulai tumbuh menjadi kota dan memperluas wilayah di sekitarnya. Masyarakat yang pada awalnya memusuhi pejabat tersebut lama-kelamaan dapat menerima. Para pejabat mengadopsi gaya Dinasti Zhou dalam ekspansi wilayah. Akibatnya, pejabat setempat menjadi semakin kurang bergantung pada raja. Mereka berjuang dengan sendirinya untuk memperolah kekayaan dan wilayah.

C.    Kelas Sosial di China

            Masyarakat China awal memiliki tiga kelas sosial utama, yakni: bangsawan pemilik tanah, petani, dan pedagang. Pemilik tanah merupakan keluarga bangsawan China yang memiliki perkebunan besar di China. Mereka tinggal di rumah besar dengan atap genteng, halaman, dan taman. Perabotan dan sutra menjadi  hiasan di kamar mereka. Rumah-rumah mereka dikelilingi oleh dinding untuk mencegah perampok. Keluarga bangsawan tidak sepenuhnya memiliki perkebunan. Setiap bangsawan membagi tanah di antara anak-anaknya. sebagai hasilnya, anak dan cucu memiliki properti lebih banyak dari ayah dan kakek.
            Bangsawan mengandalkan petani untuk menanam tanaman untuk membuat mereka kaya. Sekitar sembilan dari sepuluh orang China adalah petani. mereka tinggal di rumah sederhana di dalam desa. Bangsawan memiliki lahan di luar desa. Petani di China utara menanam gandum dan biji-bijian. Di selatan,  di mana iklimnya yang lebih hangat dan basah, mereka mampu menanam padi. Untuk membayar penggunaan tanah, petani memberikan sebagian dari hasil panen mereka ke pemilik tanah.
            Kebanyakan petani juga dimiliki sepetak kecil tanah di mana mereka mananam makanan untuk keluarga mereka sendiri. Petani harus membayar pajak dan bekerja satu bulan dalam setahun untuk pembangunan jalan dan membantu pada proyek-proyek pemerintah besar lainnya. Di masa perang, para petani juga menjadi seorang tentara.
            Dalam masyarakat China, kelas sosial petani lebih tinggi dari pedagang. Pedagang adalah kelas sosial terendah, pedagang di sini termasuk pemilik toko, pedagang, dan bankir. pedagang hidup di kota dan menyediakan barang dan jasa kepada pemilik tanah atau bangsawan. Banyak pedagang menjadi orang kaya, tapi pemilik tanah dan petani masih memandang rendah mereka. Pemimpin China percaya bahwa pejabat pemerintah tidak boleh berurusan dengan uang. Akibatnya, pedagang tidak diizinkan menjadi pejabat pemerintahan.

D.    Perkembangan Teknologi dan Perdagangan di China

Dinasti Zhou memproduksi banyak inovasi:

1.      Membangun jalan dan kanal untuk merangsang perdagangan dan pertanian

2.      Memproduksi uang yang selanjutnya meningkatkan perdagangan

3.      Tanur besi yang mengolah biji besi.

Dinasti Zhou menggunakan biji besi menjadi senjata, khususnya belati dan pedang. Mereka juga membuat alat pertanian dari besi tersebut.  Alat-alat besi menjadikan bertani menjadi lebih mudah dan produktif. Kemampuan untuk menghasilkan banyak makanan membantu para petani untuk mengembangkan kota.

Dinasti Zhou memerintah sekitar tahun 1027- 256 SM. Imperium Zhou pada umumnya damai dan stabil. Secara bertahap, dinasti Zhou semakin melemah. Pada tahun 771 SM, nomaden dari utara dan barat menjarah ibukota dinasti Zhou dan membunuh monarki Zhou. Hanya sedikit keluarga kerajaan melarikan diri dan membangun ibukota baru di Luoyang.

Raja Zhou di Luoyang hampir tidak berkuasa dan mereka sudah tidak bisa mengatur keluarga bangsawan. Pejabat setempat mencari setiap kesempatan untuk berkelahi dengan pejabat tetangga. Ketika kekuatan mereka mulai bertumbuh, pangliam perang mulai mengklaim menjadi raja di wilayah mereka sendiri. Akibatnya, betahun-tahun kemudian Dinasti Zhou kerap disebut sebagai The Time of  The Warring States atau saat negara-negara berperang.

            Di tengah pertumpahan darah, nilai-nilai tradisional China runtuh. Jantung peradaban China seperti cinta, ketertiban, keharmonisan, rasa hormat telah terganti dengan kekacauan dan arogansi

E.     Sistem kepercayaan di China

Diansti Zhou yang berdiri setidaknya 8 abad, yang berkuasa kira-kira tahun 1027-256 SM. 300 tahun pertama dari rezim panjangnya, Zhou dapat dikatakan berhasil mengontrol imperium besar, meliputi bagian timur sampi bagian barat. Pejabat daerah masih melapor pada raja, yang mana mempunyai kekuasaan tertinggi. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya, pejabat daerah mulai berpikir untuk menjadi raja yang tidak tergantung pada wilayah mereka sendiri. Konflik merek inilah yang dikenal dengan “Periode Perang Negara-Negara” yang berujung dengan jatuhnya dinasti Zhou.
Menjelang berakhirnya dinasti Zhou, China mulai bergerak menjauh dari nilai-nilai kuno seperti tata tertib sosial, keharmonisan, penghormatan terhadap otoritas. Sehinga bermunculan beberapa filosof China yang berusaha mengembalikan nilai-nilai tersebut.
Filosof paling berpengaruh di China adalah Konfusius. Ia lahir pada 551 SM, Konfusius hidup ketika dinasti Zhou sedang terpuruk. Dia merupakan seorang guru besar dalam kehidupan, pembelajaran, sejarah, music, dan karakter moral.
Konfusius lahir bersamaan dengan krisis dan kekrasan yang sedang merajalela di China. Ia berhasrat ingin mengembalikkan nilai-nilai  kehidupan awal pada masyarakatnya. Konfius percaya bahwa tata tertib sosial, harmoni, pemerintahan baik bisa kembali jika masyarakat mengatur 5 pilar hubungan, yakni:
1.      Atasan dan bawahan
2.      Orang tua dan anak
3.      Suami dan istri
4.      Kakak dan adik
5.      Teman dengan teman
Konfusianisme bukanlah sebuah agama, akan tetapi merupakan sistem etika, yang bersumber dari prinsip baik dan buruk. Konfusianisme menjadi fondasi bagi pemerintahan China dan tertib sosial. Selain itu, ide konfusius menyebar dan mempengaruhi perdaban di Asia Timur.
Keluarga di China tidak bisa dilepaskan dengan kepercayaan. Orang China percaya bahwa arwah nenek moyang mempunyai kekuatan untuk memberikan keberuntungan atau bencana bagi anggota keluarga. Orang China tidak menganggap kekuatan ini sebagai dewa-dewa. Kekuatan ini lebih sebagai tetangga yang dituntut untuk diperhatikan dan dihormati. Setiap keluarga harus menghormati arwah leluhur dan melakukan persembahan untuk menghormati mereka.
            Melalui arwah nenek moyang, Shang berkonsultasi dengan Tuhan. Shang percaya Tuhan teringgi. Raja Shang berkonsultasi dengan Tuhan melalui”Oracle Bones” atau Tulang Oracle. Tulang ini biasanya berasal dari hewan atau tempurung kura-kura yang telah diukir dengan pertanyaan untuk Tuhan.

 

F.     Sistem penulisan awal di China

Metode penulisan di China itu unik. Karena setiap karakter pada umumnya mewakili satu suku kata. Ada perbedaan antara penulisan dan pengucapan bahasa dalam China. Seseorang yang bisa membaca karakter China belum tentu mampuu mengucapkan bahasa tulisan tersebut.
Sistem penulisan China mempunyai keuntungan yang utama. Orang-orang seantero China dapat belajar sistem penulisan yang sama, meskipun bahsa lisan atau pengucapan sangat berbeda. Inilah yang kemudian menyatukan seluruh daerah yang berbeda di China dan mempermudah mengontrol.
Kekurangannya, Sistem penulisan China ini mempunyai banyak sekali karakter yang harus dihapal untuk satu kata. Seorang harus mengetahui sekitar 1500 karakter lebih untuk bisa membaca. Berbeda dengan seorang cendekia yang harus mengetahui setidaknya 10.000 karakter China.
Di China, sistem tulisan ini dikenal dengan nama piktograf. Piktograf adalah suatu bentuk tulisan yang mewakili suatu objek. Kemudian dikenal lagi dengan idiograf. Perbedaanya terletak pada objek yang diwakili, piktograf biasanya mewakili objek yang konkret, sedangkan idiograf mewakili objek yang abstrak.

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Awal peradaban China dimulai dari lembah sungai Huang He dan sungai Chang Jiang. Kedua sungai tersebut ditempati oleh orang China karena subur sehingga mereka bisa bercocok tanam. Kehidupan di lembah memberikan anugerah sekaligus bencana secara bergantian. Kemampuan mereka yang maju dalam mengolah tanah membuat hasil panen mereka menjadi swasembada. Ini berakibat kota menjadi berkembang sebagai pusat peradaban.
Kekuasaan dan wewenang di China berbentuk kerajaan yang mana melahirkan konsep desentralisasi dan feodalisme yang kemudian berpengaruh sampai saat ini.
Kelas sosial yang ada di China terbagi menjadi tiga, raja atau bngsawan sebagai urutan pertama, kemudian petani diurutan kedua, dan yang terakhir adalah pedagang.
Sistem teknologi dan pengetahuan di China, dapat dikatakan maju. Mereka sudah bisa menanggulangi banjir sungai Huang He yang tidak dapat diprediksi dan membangun irigasi bagi pertanian. Selain itu mereka juga menbangun jalan dan kanal untuk mempermudah proses perdagangan dan pendistribusian pertanian. Mereka juga mampu memproduksi mata uang dan mengolah biji besi menjadi alat-alat yang bermanfaat bagi perang atau pertanian
Sistem kepercayaan di China menganut politeisme. Konfusianisme merupakan filosof yang mengemukakan bahwa unit individu unsur terpenting. Konfusius berhsrat untuk mengembalikan nilai-nilai kearifan China kuno yang telah terdegradasi oleh krisis di segala bidang kehidupan.
Sistem penulisan awal di China bermula dari penemuan arkeolog pada Oracle Bones. Tulisan ini ada yang disebut piktograf dan ideograf.  Perbedaanya terletak pada objek yang diwakili, piktograf biasanya mewakili objek yang konkret, sedangkan idiograf mewakili objek yang abstrak.

B.     Saran

Peradaban China merupakan peradaban yang besar sekaligus rumit. Oleh karena itu diperlukan kesungguhan dan ketelitian untuk menulis peradaban ini. Meskipun begitu, sebaiknya peradaban China bisa disajikan dalam bentuk yang konprehensif dan mudah dipahami. Karena belajar dari China merupakan sepertiga dari belajar dunia.


DAFTAR PUSTAKA


 

 

Marsha E. Ackermann. (2008). Encyclopedia of World History. New York: Infobase.
Spielvogel, J. J. (2004). World History: Journey Across Time, The Early Ages, Student Edition . New York: Mc-Graw Hill.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Lisan, Teka Teki di Indonesia dan contohnya

PEMBAHARUAN SHER SHAH SURI

Harmoni di Ufuk Timur Kediri