SEJARAH KERAJAAN SINGOSARI



 NAMA : MUHAMMAD BAYU HABIBIE
KELAS : SKI A
NIM : 16120003
PTN : UIN SUNAN KALIJAGA

BAB  1
.    LATAR BELAKANG
Berbicara atau berdiskusi tentang terbentuknya sampai runtuhnya salah sata kerajaan hindu yang ada di pulau jawa yaitu khususnya kerajaan singasari, memang berbicara tentang kerajaan singasari sangatlah menarik, banyak hal yang hinga sekarang belum dapat di pecahkan atau di pahami sepenuhnya, sebab musabab terjadinya terjadinya suatu peristiwa sejarah tidak di peroleh, NEGARAKRETAGAMA yang menguraikan sejarah kerajaan singasari secara singkat sekali.
 Kerajaan Singhasari, adalah sebuah kerajaan di Jawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang. Kerajaan Singasari (1222-1293) adalah salah satu kerajaan besar di Nusantara yang didirikan oleh Ken Arok. Sejarah Kerajaan Singasari berawal dari daerah Tumapel, yang di kuasai oleh seorang akuwu (bupati). Letaknya di daerah pegunungan yang subur di wilayah Malang dengan pelabuhan bernama Pasuruan. Kerajaan Singasari mencapai puncak kejayaan ketika dipimpin oleh Raja Kertanegara (1268-1292) yang bergelar Maharajadhiraja Kertanegara Wikrama Dharmottunggadewa. Ken Arok merebut daerah Tumapel, salah satu wilayah Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Tunggul Ametung, pada 1222. Ken Arok pada mulanya adalah anak buah Tunggul Ametung, namun ia membunuh Tunggul Ametung karena jatuh cinta pada istrinya, Ken Dedes. Ken Arok kemudian mengawini Ken Dedes. Pada saat dikawini Ken Arok, Ken Dedes telah mempunyai anak bernama Anusapati yang kemudian menjadi raja Singasari (1227-1248). Raja terakhir Kerajaan Singasari adalah Kertanegara.
A.    Rumusan Masalah
1.      Bagaimana awal berdirinya Kerajaan Singasari
2.      Bagaimana perkembangan Kerajaan Singasari
3.      Kebijakan luar negeri Kerajaan Singasari
B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui awal berdirinya Kerajaan singasari
2.      Untuk mengetahui perkembangan kerajaan Singasari
3.      Dan untuk menambah wawasan tentang terbentuk sampai runtuhnya kerajaan singasari
BAB 2
A.    Awal Berdirinya Kerajaan Singasari
Kerajaan singasari terletak di sebelah timur Gunung Kawi di hulu sungai Brantas di daerah jawa timur. Pada abad ke 13, kerajaan singasarihanya merupakan desa kecilyang tidak berarti apa apa, hanya seperti desa biasa yang terletak di tempat yg strategis, keadaan iti lambat laun berubah bertepatan dengan munculnya seorang pemuda yang kuat serta berani yaitu adalah Ken Arok, dari desa pangkur yang Berjaya meruntuhkann kerajaan Kediri dan merebut kekuasaan raja kertajaya pada tahun 1222. Sejak saat itu , ia mendirikan kerajaan yang berpusat di desa kutaraja dan mengambil nama ABHISEKA rajasa sang amurwabhumi, baru pada tahun 1254 nama kutaraja dinganti oleh nama singasari oleh cucunya yang bergelar jaya wisnuwardhana, dan singasari menguasai timur dari tahun 1222 sampai 1292.[1]

  1. Ken Arok (1222–1227 M)
Pendiri Kerajaan Singasari adalah Ken Arok yang sekaligus juga menjadi Raja Singasari yang pertama dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai raja pertama Singasari menandai munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra (Girindrawangsa). Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222–1227 M). Pada tahun 1227 M, Ken Arok dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken Arok). Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa–Buddha.
Ken Arok tumbuh menjadi pencuri dan berandalan pula. Ia gemar berjudi dan menghabiskan harta orang tuanya dan kemudian diusir. Singkat cerita, suatu hari di daerah Kerajaan Kadiri ia bertemu dengan Lohgawe, seorang brahmana dari India. Maksud kedatangan Lohgawe adalah mencari titisan Wisnu dan ia meyakini bahwa Ken Arok adalah sosok yang dicarinya.

Lohgawe kemudian membawa Ken Arok menemui Tunggul Ametung, seorang akuwu (penguasa seperti camat) Tumapel. Ken Arok kemudian diangkat menjadi pengawal kepercayaan Tunggul Ametung.[2]
Ken Dedes dan Tunggul Ametung
Pada suatu hari Tunggul Ametung singgah ke Desa Panawijen dan di sanalah ia bertemu dengan Ken Dedes. Parasnya yang ayu dan tubuhnya yang molek membuat Tunggul Ametung terpesona. Keinginannya untuk memperistri Ken Dedes begitu kuat. Ketika menyatakan keinginannya untuk membawa pulang Ken Dedes, wanita itu keberatan lantaran ayahnya belum pulang dari bertapa. Ken Dedes adalah putri satu-satunya seorang pendeta Buddha aliran Mahayana, Mpu Purwa.
Akan tetapi Tunggul Ametung tak kuasa untuk bersabar. Dibawanya paksa Ken Dedes kembali ke Tumapel untuk dinikahi. Ketika Mpu Purwa pulang dan mendapati putri satu-satunya diculik, ia marah besar. Sang pendeta lalu mengutuk bahwa siapa pun yang telah menculik Ken Dedes akan mati terbunuh dengan keris dan tidak akan merasakan kenikmatan hidup.
Pertemuan Ken Dedes dan Ken Arok
Tunggul Ametung kembali ke pendopo dan memperkenalkan Ken Dedes sebagai istrinya kepada seluruh penghuni pendopo, termasuk Ken Arok. Kecantikan Ken Dedes juga menarik perhatian Ken Arok, tetapi bukan itu alasan Ken Arok kelak merebut dan memperistri Ken Dedes.
Pada suatu hari ketika Ken Arok membantu Ken Dedes turun dari kereta, kain wanita itu tersingkap. Ken Arok terkesiap melihat pangkal paha Ken Dedes yang bercahaya. Ia lalu bertanya kepada Lohgawe apa arti dari kejadian tersebut. Menurut sang pendeta, memperistri wanita dengan ciri-ciri seperti itu akan menjadi penguasa dan memberikan keturunan raja-raja Jawa. Atas dasar itulah kemudian timbul niat jahat Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung.
Menikahi Ken Dedes
Ken Arok menikahi Ken Dedes setelah membunuh Tunggul Ametung dengan keris sakti yang dipesannya pada Mpu Gandring. Malam itu, Ken Dedes menyaksikan sendiri bagaimana suaminya dibunuh oleh sang pengawal kepercayaan. Namun entah karena bujuk rayu Ken Arok atau karena sedari awal Ken Dedes juga memiliki perasaan kepada Ken Arok, wanita itu mengiyakan saat Ken Arok memintanya menjadi istri.
Kisah Ken Arok dan Ken Dedes memang memiliki daya tarik tersendiri. Dan seperti yang diramalkan, Ken Dedes memang melahirkan keturunan yang menjadi raja-raja di Jawa, mulai dari Anusapati, Ranggawuni, dan Kertanegara yang merupakan pembesar di Kerajaan Singosari. Selain itu, keturunan Ken Dedes juga sampai hingga pada Raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit dan Hayam Wuruk.[3]
2.      Anusapati (1227–1248 M)
Dengan meninggalnya Ken Arok maka takhta Kerajaan Singasari jatuh ke tangan Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahaannya yang lama, Anusapati tidak banyak melakukan pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan kesenangannya menyabung ayam. Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai juga ke Tohjoyo (putra Ken Arok dengan Ken Umang). Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung ayam sehingga diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa (tempat kediamanan Tohjoyo) untuk mengadakan pesta sabung ayam. Pada saat Anusapati asyik menyaksikan aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo menyabut keris buatan Empu Gandring yang dibawanya dan langsung menusuk Anusapati.wafat anusapati bertarikh tahun saka 1171 atau tahun masehi 1249, setahun saja ia memerintah kerajaan tumapel (singasari), dan selanjutnya pemerintahan kota di lanjutkan oleh tohjoyo, Dengan demikian, meninggallah Anusapati yang didharmakan di Candi Kidal.[4]


  1. Tohjoyo (1248 M)
Dengan meninggalnya Anusapati maka tahta Kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjoyo. Namun, Tohjoyo memerintah Kerajaan Singasari tidak lama sebab anak Anusapati yang bernama Ranggawuni berusaha membalas kematian ayahnya. Dengan bantuan Mahesa Cempaka dan para pengikutnya, Ranggawuni berhasil menggulingkan Tohjoyo dan kemudian menduduki singgasana, saat tohjoyo menjadi pengganti anusapati hidupnya diliputi penuh ketakutan, curiga terhadap siapapun, terutama kepada rangga wuni putera anusapati, dan kepada mehesa cempaka putera mehesa wonga teleng.[5]
  1. Ranggawuni (1248–1268 M)
Ranggawuni naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248 M dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi kedudukan sebagai raja angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Pemerintahan Ranggawuni membawa ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari. Pada tahun 1254 M  Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuwaraja (raja muda) dengan maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di Kerajaan Singasari, Pada tahun 1268 Wisnuwardanameninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai Siwa.[6]
  1. Kertanegara (1268-1292 M)
Kertanegara adalah Raja Singasari terakhir dan terbesar karena mempunyai cita-cita untuk menyatukan seluruh Nusantara. Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga orang mahamentri, yaitu mahamentri i hino, mahamentri i halu, dan mahamenteri i sirikan. Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja. Setelah Jawa dapat diselesaikan, kemudian perhatian ditujukan ke daerah lain. Kertanegara mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu 1275 yang berhasil menguasai Kerajaan Melayu. Hal ini ditandai dengan pengirimkan Arca Amoghapasa ke Dharmasraya atas perintah Raja Kertanegara. Selain menguasai Melayu, Singasari juga menaklukan Pahang, Sunda, Bali, Bakulapura (Kalimantan Barat), dan Gurun (Maluku). Kertanegara juga menjalin hubungan persahabatan dengan raja Champa,dengan tujuan untuk menahan perluasaan kekuasaan Kubilai Khan dari Dinasti Mongol. Kubilai Khan menuntut raja-raja di daerah selatan termasuk Indonesia mengakuinya sebagai yang dipertuan. Kertanegara menolak dengan melukai muka utusannya yang bernama Mengki. Tindakan Kertanegara ini membuat Kubilai Khan marah besar dan bermaksud menghukumnya dengan mengirimkan pasukannya ke Jawa. Mengetahui sebagian besar pasukan Singasari dikirim untuk menghadapi serangan Mongol maka Jayakatwang (Kediri) menggunakan kesempatan untuk menyerangnya. Serangan dilancarakan dari dua arah, yakni dari arah utara merupakan pasukan pancingan dan dari arah selatan merupakan pasukan inti.
Pasukan Kediri dari arah selatan dipimpin langsung oleh Jayakatwang dan berhasil masuk istana dan menemukan Kertanagera berpesta pora dengan para pembesar istana. Kertanaga beserta pembesar-pembesar istana tewas dalam serangan tersebut. Ardharaja berbalik memihak kepada ayahnya (Jayakatwang), sedangkan Raden Wijaya berhasil menyelamatkan diri dan menuju Madura dengan maksud minta perlindungan dan bantuan kepada Aria Wiraraja. Atas bantuan Aria Wiraraja, Raden Wijaya mendapat pengampunan dan mengabdi kepada Jayakatwang. Raden Wijaya diberi sebidang tanah yang bernama Tanah Tarik oleh Jayakatwang untuk ditempati. Dengan gugurnya Kertanegara maka Kerajaan Singasari dikuasai oleh Jayakatwang. Ini berarti berakhirnya kekuasan Kerajaan Singasari. Sesuai dengan agama yang dianutnya, Kertanegara kemudian didharmakan sebagai Siwa––Buddha (Bairawa) di Candi Singasari. Arca perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog yang sekarang berada di Taman Simpang, Surabaya.[7]
Raja Kertanegara Raja Kertanegara (1268-1292 M) merupakan raja terkemuka dan raja terakhir dari Kerajaan Singasari. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Singasari mencapai masa kejayaannya. Stabilitas kerajaan yang diwujudkan pada masa pemerintahan Raja Wisnuwardhana disempurnakan lagi dengan tindakan-tindakan yang tegas dan berani. Setelah keadaaan Jawa Timur dianggap baik, Raja Kertanegara melangkah ke luar Jawa Timur untuk mewujudkan cita-cita persatuan seluruh Nusantara di bawah panji Kerajaan Singasari.

Upaya yang ditempuh Raja Kertanegara dapat dilihat dari pelaksanaan politik dalam dan luar negeri. Dalam rangka mewujudkan Stabilitas politik Kerajaan Singasari, Raja Kertanegara menempuh jalan sebagai berikut.

1.      Kebijakan dalam negeri 
a.       Pergantian pejabat kerajaan, bertujuan menggalang pemerintahan yang kompak.
b.      Memelihara keamanan dan melakukan politik perkawinan. Tujuannya menciptakan kerukunan dan politik yang stabil.

2.      Kebijakan Luar Negeri 
a.       Menggalang persatuan 'Nusantara' dengan mengutus ekspedisi tentara Pamalayu ke Kerajaan Melayu (Jambi). Mengutus pasukan ke Sunda, Bali, Pahang.
b.      Menggalang kerjasama dengan kerajaan lain. Contohnya menjalin persekutuan dengan kerajaan Campa.

Dari tindakan-tindakan politik Kertanegara tersebut, di satu sisi Kertanegara berhasil mencapai cita-citanya memperluas dan memperkuat Singasari, tetapi dari sisi yang lain muncul beberapa ancaman yang justru berakibat hancurnya Singasari. Ancaman yang muncul dari luar yaitu dari tentara Kubilai-Khan dari Cina Mongol karena

Kertanegara tidak mau mengakui kekuasaannya bahkan menghina utusan Kubilai-khan yaitu Meng-chi. Dari dalam adanya serangan dari Jayakatwang (Kadiri) tahun 1292 yang bekerja sama dengan Arya Wiraraja Bupati Sumenep yang tidak diduga sebelumnya. Kertanegara terbunuh, maka jatuhlah Singasari di bawah kekuasaan Jayakatwang dari Kediri. Setelah Kertanegara meninggal maka didharmakan/diberi penghargaan di candi Jawi sebagai Syiwa Budha, di candi Singasari sebagai Bhairawa. Di Sagala sebagai Jina (Wairocana) bersama permaisurinya Bajradewi. Untuk memperjelas pemahaman Anda, tentang candi Singosari tempat Kertanegari di muliakan,
Dalam kehidupan ekonomi, walaupun tidak ditemukan sumber secara jelas. Ada kemungkinan perekonomian ditekankan pada pertanian dan perdagangan karena Singosari merupakan daerah yang subur dan dapat memanfaatkan sungai Brantas dan Bengawan Solo sebagai sarana lalu lintas perdagangan dan pelayaran.

B.        RUNTUHNYA KERAJAAN SINGASARI

Sebagai sebuah kerajaan, perjalanan kerajaan Singasari bisa dikatakan berlangsung singkat. Hal ini terkait dengan adanya sengketa yang terjadi dilingkup istana kerajaan yang kental dengan nuansa perebutan kekuasaan.

Pada tahun 1289 utusan Khubilai Khan datang untuk meminta pengakuan tunduk dariraja Kertanegara, yaitu Meng-Ch’I ditolak dan dilukaimukanya. Penganiayaan terhadap utusan Khubilai Khan itu dianggap sebagai penghinaan besar dan merupakan pengumumanperang. Tidaklah mengherankan bahwa setelah Meng-Ch’I kembali menghadap Khubilai Khan, ia menjadi marah dan memutuskan untuk mengirim pasukan yang kuat untuk menggempur Jawa pada awal tahun 1292 berangkatlah tentara Mongol untuk menaklukkan Jawa dipimpin oleh tiga orang panglima perang, yaituShih-pi, Ileh mi-shih daan Kau Hsing.

Tetapi keruntuhan kertanegara datang dari arah lain. Disebutkan bahwa kerajaan Kadiri telah dikalahkan oleh Sri Rajasa, buyut Raja Kertanegara. Kediri  dihancuran, tetapi tetap diperintah oleh keturunan raja Kertajaya dengan mengakui kepemimpinan Singhasari. Sejak tahun 1271 Jayaketwang, salah seorang keturunan raja Kertajaya memerintahkan di Gelang-gelang. Raja Kertanagara telah mengambil langkah untuk menjaga hubungan poliyik yang baik dengan Jayakatwang, yaitu dengan jalan mangambil anak yang bernama Arddharaja sebagai menantunya, demikian pula saudara perempuan Raja Kertanagara yang bernama Turukbali menjadi istri raja Jayakatwang. Akan tetapi karena hasutan patihnya, Jayakatwang bertekad akan membalas dendam kematian leluhurnya oleh leluuhur raja Kertanagara, oleh sang patih ditunjukkan dharma seorang kesatrya yang harus menghapus aib diderita oleh leluhurnyaa itulah sebabnya Jayakatwang memberontak mengangkat senjata terhadap raja Kertanagara.

Kitab paraton menambah bahwa dalam usaha meruntuhkan Kerajaan Singhasari itu Jayakatwang mendapat bantuan dari Arya Wiraraja, Adipati Sungenep yang telah dijatuhkan dari keratin oleh raja kertanagara Wiraraja itulah yang memberitahukan kepada Jayakatwang kapan waktu yang tepat untuk menyerang Singhasari, yaitu pada waktu sebagian kekuatan tentara Singhasari sedang ada di Melayu.

Serangan Jayakatwang dilancarkan antara pertengahan Mei dan pertengahan bulan Juni 1292. Prasasti Kudadu yang beangka tahun Saka 1216 (11 eptember 1294) maupun kitab Pararaton membayangkan bahwa tentara Kadiri dibagi dua menyerang dari dua arah. Pasukan yang menyerang dari utara rupa-rupanya hanya sekedar untuk menarik pasukan Singhasari dibawah pimpinan Wijaya  dan Arddharaja menyerbu ke utara dan mengejar musuh yang selalu bergerak mundur maka pasukan Jayakatwang yang menyerang dari arah selatan menyerbu ke keratin dan dapat membunuh raja Kertanagara yang menurut Kitab Pararaton sedang bermabuk-mabukan. Sumber lain menyebutkan bahwwa raja Kertanagara meninggal bersama para Brahmana, jadi rupa-rupanya raja sedang melakukan upacara keagamaan dengan gugurnya raja Kerrtaanagara. Pada tahun 1292 seluruh kerajaan Sinhasari dikuasai oleh Jayakatwang. Jayakatwang menjadi raja dan membangun ibu kota baru di Kediri. Riwayat Kerajaan Tumapel-Singasari pun berakhir.[8]







BAB 3
Kesimpulan
Kerajaan singasari terletak di sebelah timur Gunung Kawi di hulu sungai Brantas di daerah jawa timur. Pada abad ke 13, kerajaan singasarihanya merupakan desa kecilyang tidak berarti apa apa, hanya seperti desa biasa yang terletak di tempat yg strategis, keadaan iti lambat laun berubah bertepatan dengan munculnya seorang pemuda yang kuat serta berani yaitu adalah Ken Arok, dari desa pangkur yang Berjaya meruntuhkann kerajaan Kediri dan merebut kekuasaan raja kertajaya pada tahun 1222. Sejak saat itu , ia mendirikan kerajaan yang berpusat di desa kutaraja dan mengambil nama ABHISEKA rajasa sang amurwabhumi, baru pada tahun 1254 nama kutaraja dinganti oleh nama singasari oleh cucunya yang bergelar jaya wisnuwardhana, dan singasari menguasai timur dari tahun 1222 sampai 1292.
Kerajaan singasari memiliki 5 raja yang berkuasa di kerajaan tersebut yaitu
1.   Ken arok (1222-1227 M)
2.   Anusapati (1227-1248 M)
3.   Tohjoyo (1248 M)
4.   Rangga wuni (1248-1268 M)
5.   Kertanegara (1268-1292 M)

Kitab paraton menambah bahwa dalam usaha meruntuhkan Kerajaan Singhasari itu Jayakatwang mendapat bantuan dari Arya Wiraraja, Adipati Sungenep yang telah dijatuhkan dari keratin oleh raja kertanagara Wiraraja itulah yang memberitahukan kepada Jayakatwang kapan waktu yang tepat untuk menyerang Singhasari, yaitu pada waktu sebagian kekuatan tentara Singhasari sedang ada di Melayu.
Dan jayakatwangpun berhasil menguasai kerajaan tumapel dan singasai dan akhirnya berakhirlah kerajaan singosari tersebut.





DAFTAR PUSTAKA

1.      Prof.Dr.Slamet Muljana, Menuju Puncak Kemegahan ( sejarah kerajaan majapahit), penerbit LKiS, Yogyakarta.
2.      Prof.Dr.Slamet Muljana, Tafsir Sejarah Nagara Kretagama, Penerbit LKiS, Yogyakarta.


[1] Tafsir Sejarah Nagara Kretagama, Hal 59
[2] Menuju Puncak Kemegahan (sejarah kerajaan majapahit), hal 122
[3] Menuju Puncak Kemegahan (sejarah kerajaan majapahit) Hal 129.
[4] Menuju Puncak Kemegahan (sejarah kerajaan majapahit Hal 136, Tafsir Sejarah Nagara Kretagama, hal 102.
[5] Menuju Puncak Kemegahan (sejarah Kerajaan Majapahit ), Hal 136.
[6] Menuju Puncak Kemegahan ( Sejarah Kerajaan Majapahit ), Hal 138,139
[7] Menuju Puncak Kemegahan (sejarah Kerajaan Majapahit), Hal 141,142,
 tafsir Sejarah Nagara Kretagama hal 110, 111

[8] Tafsir sejarah nagara Kretagama, Hal 144.
Menuju Puncak Kemegahan ( Sejarah Kerajaan Majapahit ) hal 178 – 182.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tradisi Lisan, Teka Teki di Indonesia dan contohnya

PEMBAHARUAN SHER SHAH SURI

Harmoni di Ufuk Timur Kediri