sarekat dagang islam
SAREKAT DAGANG ISLAM
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Disusun Oleh :
Muhammad
Bayu Habibie (16120003)
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
TAHUN AJARAN 2016/2017
BAB I
SAREKAT DAGANG ISLAM (SDI)
A. Latar Belakang
Masa Pergerakan Nasional yang dimulai dari tahun 1908 hingga
1942 merupakan awal mula pergerakan Indonesia. Mengapa demikian? Hal ini
dikarenakan timbulnya banyak Organisasi-organisasi yang sudah tersusun secara
struktural. Maksud dari Organisasi yang tersusun secara struktural yaitu
Organisasi yang ada tidaklah bersifat tradisional. Organisasi yang tradisional
dicirikan dengan peran pemimpin yang sangat dominan. Jika pemimpin tersebut
meninggal atau ditangkap maka organisasi tersebut akan lenyap. Selain dari
organisasi yang sudah tersusun secara struktural ciri dari masa ini yaitu
lingkup yang sudah menasional. Nasional di sini dimaksudkan bahwa organisasi
tersebut bukan hanya terpaku oleh daerah-daerah saja, tetapi juga sudah
melebarkan sayapnya hingga meraih anggota dan pengaruh ke daerah lain yang
lebih luas.
Salah satu organisasi pada masa pergerakan nasional adalah
Sarekat Islam. Sarekat Islam mula-mula dinamakan Sarekat Dagang Islam. Ketika
masih menjadi Sarekat Dagang Islam organisasi ini lebih berfokus kepada masalah
perekonomian, tetapi ketika sudah menjadi Sarekat Islam maka lebih berfokus
kepada masalah politik.
Sarekat Islam merupakan suatu organisasi yang banyak
memberikan konstribusi kepada pergerakan nasional. Kongres-kongres yang
dilakukan oleh Sarekat Islam banyak yang memberikan kritik kepada pemerintah
Belanda serta memberikan peluang kepada masyarakat pribumi. Walaupun karena
kritik tersebut Sarekat Islam pernah dibekukan.
Sarekat Islam merupakan organisasi yang memiliki banyak
pengikut. Oleh karena itulah banyak sekali pihak yang ingin menggunakannya demi
kepentingan politik tersendiri. Paham-paham dari luar yang banyak memberikan
pengaruh juga memberikan dampak yang cukup besar bagi Sarekat Islam itu
sendiri. Paham tersebut juga menjadi bumerang bagi Sarekat Islam. Selain itu
juga adanya pro dan kontra di dalam kubu anggota Sarekat Islam juga memberikan
dampak yang begitu besar bagi organisasi tersebut.
BAB II
A.
Sejarah Sarekat Islam
Organisasi
Sarekat Dagang Islam (SDI) pada awalnya merupakan perkumpulan pedagang-pedagang
Islam. Organisasi ini dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 16 Oktober
1905, dengan tujuan awal untuk menghimpun para pedagang pribumi Muslim
(khususnya pedagang batik) agar dapat bersaing dengan pedagang-pedagang besar
Tionghoa. Pada saat itu, pedagang-pedagang keturunan Tionghoa tersebut telah
lebih maju usahanya dan memiliki hak dan status yang lebih tinggi dari pada
penduduk Hindia Belanda lainnya. Kebijakan yang sengaja diciptakan oleh
pemerintah Hindia-Belanda tersebut kemudian menimbulkan perubahan sosial karena
timbulnya kesadaran di antara kaum pribumi yang biasa disebut sebagai
Inlanders.
SDI
merupakan organisasi ekonomi yang berdasarkan pada agama Islam dan perekonomian
rakyat sebagai dasar penggeraknya. Di bawah pimpinan H. Samanhudi, perkumpulan
ini berkembang pesat hingga menjadi perkumpulan yang berpengaruh. R.M.
Tirtoadisurjo pada tahun 1909 mendirikan Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia.
Pada tahun 1910, Tirtoadisuryo mendirikan lagi organisasi semacam itu di
Buitenzorg. Demikian pula, di Surabaya H.O.S.( haji omar said ) Tjokroaminoto
mendirikan organisasi serupa tahun 1912. Tjokroaminoto masuk SI bersama Hasan
Ali Surati, seorang keturunan India, yang kelak kemudian memegang keuangan
surat kabar SI, utusan Hindia. Tjokroaminoto kemudian dipilih menjadi pemimpin,
dan mengubah nama SDI menjadi Sarekat Islam (SI). Pada tahun 1912, oleh
pimpinannya yang baru Haji Oemar Said Tjokroaminoto, nama SDI diubah menjadi
Sarekat Islam (SI). Hal ini dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak
dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain seperti politik. Jika
ditinjau dari anggaran dasarnya, dapat disimpulkan tujuan SI adalah sebagai
berikut: Mengembangkan jiwa dagang.Membantu anggota-anggota yang mengalami
kesulitan dalam bidang usaha.Memajukan pengajaran dan semua usaha yang
mempercepat naiknya derajat rakyat.Memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru
mengenai agama Islam.Hidup menurut perintah agama.
B.
Berikut
Latar belakang ekonomi berdirinya Sarekat Islam
a. Perlawanan terhadap para pedagang perantara
(penyalur) oleh orang Cina.
b. Isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba
waktunya untuk menunjukkan kekuatannya
c. Membuat front melawan semua penghinaan
terhadap rakyat bumi putera.
Tjokroaminoto
masuk SI bersama Hasan Ali Surati, seorang keturunan India, yang kelak kemudian
memegang keuangan surat kabar SI, utusan Hindia.
Tjokroaminoto
kemudian dipilih menjadi pemimpin, dan mengubah nama SDI menjadi Sarekat Islam
(SI). Pemerintah Hindia Bela nda merasa khawatir terhadap perkembangan SI yang
begitu pesat. SI dianggap membahayakan kedudukan pemerintah Hindia Belanda,
karena mampu memobilisasikan massa. Namun Gubernur Jenderal Idenburg
(1906-1916) tidak menolak kehadiran Sarekat Islam. Keanggotaan Sarekat Islam
semakin luas. Perkumpulan ini semakin berkembang pesat ketika Tjokroaminoto
memegang tampuk pimpinan dan mengubah nama perkumpulan menjadi Sarekat Islam.
Jika ditinjau dari anggaran dasarnya, dapat disimpulkan tujuan SI adalah
sebagai berikut:
SI
tidak membatasi keanggotaannya hanya untuk golongan Priyayi (bangsawan)
masyarakat Jawa dan Madura saja sebagaimana organisasi Budi utomo. Tujuan SI
adalah membangun persaudaraan, persahabatan dan tolong-menolong di antara
muslim dan mengembangkan perekonomian rakyat. Keanggotaan SI terbuka untuk
semua lapisan masyarakat muslim. Artinya SI memiliki jumlah anggota yang banyak
sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda. Pada waktu SI mengajukan
diri sebagai Badan Hukum, awalnya Gubernur Jendral Idenburg menolak. Badan
Hukum hanya diberikan pada SI lokal. Walaupun dalam anggaran dasarnya tidak
terlihat adanya unsur politik, tapi dalam kegiatannya SI menaruh perhatian besar
terhadap unsur-unsur politik dan menentang ketidakadilan serta penindasan yang
dilakukan oleh pemerintah kolonial. Jika di telaah kebijakan pemerintah
penjajah dengan tidak memberi izin kepada Si pusat namun memberi izin badan
hokum SI local merupakan trik untuk memecah belah/mengkotak-kotak perjuangan
rakyat Indonesia. Keadaan hubungan yang tidak harmonis antara Jawa dan Cina
mendorong pedagang-pedagang Jawa untuk bersatu menghadapi pedagang-pedagang
Cina. Di samping itu agama Islam merupakan faktor pengikat dan penyatu kekuatan
pedagang-pedagang Islam.
Politik
Kanalisasi Idenburg cukup berhasil, karena Central Sarekat Islam baru diberi
pengakuan badan hukum pada bulan Maret 1916 dan keputusan ini diambil ketika ia
akan mengakhiri masa jabatannya. Idenburg digantikan oleh Gubernur Jenderal van
Limburg Stirum (1916-1921). Gubernur Jenderal baru itu bersikap agak simpatik
terhadap Sarekat Islam. Seiring dengan perubahan waktu, akhirnya SI pusat
diberi pengakuan sebagai Badan Hukum pada bulan Maret tahun 1916.
Namun
sebelum Kongres Sarekat Islam Kedua tahun 1917 yang diadakan di Jakarta muncul
aliran revolusionaer sosialistis yang dipimpin oleh Semaun. Pada saat itu ia
menduduki jabatan ketua pada SI lokal Semarang. Walaupun demikian, kongres
tetap memutuskan bahwa tujuan perjuangan Sarekat Islam adalah membentuk
pemerintah sendiri dan perjuangan melawan penjajah dari kapitalisme yang jahat.
Dalam Kongres itu diputuskan pula tentang keikutsertaan partai dalam Voklsraad.
HOS Tjokroaminoto (anggota yang diangkat) dan Abdul Muis (anggota yang dipilih)
mewakili Sarekat Islam dalam Dewan Rakyat (Volksraad).
Pada
Kongres Sarekat Islam Ketiga tahun 1918 di Surabaya, pengaruh Sarekat Islam
semakin meluas. Setelah pemerintah memperbolehkan berdirinya partai politik, SI
berubah menjadi partai politik dan mengirimkan wakilnya ke Volksraad tahun
1917, yaitu HOS Tjokroaminoto; sedangkan Abdoel Moeis yang juga tergabung dalam
CSI menjadi anggota volksraad atas namanya sendiri berdasarkan ketokohan, dan
bukan mewakili Central SI sebagaimana halnya HOS Tjokroaminoto yang menjadi
tokoh terdepan dalam Central Sarekat Islam. Tapi Tjokroaminoto tidak bertahan
lama di lembaga yang dibuat Pemerintah Hindia Belanda itu dan ia keluar dari
Volksraad (semacam Dewan Rakyat), karena volksraad dipandangnya sebagai
"Boneka Belanda" yang hanya mementingkan urusan penjajahan di Hindia
ini dan tetap mengabaikan hak-hak kaum pribumi. HOS Tjokroaminoto ketika itu
telah menyuarakan agar bangsa Hindia (Indonesia) diberi hak untuk mengatur
urusan dirinya sendiri, yang hal ini ditolak oleh pihak Belanda.
Pada
waktu SI mengajukan diri sebagai Badan Hukum, awalnya Gubernur Jendral Idenburg
menolak. Badan Hukum hanya diberikan pada SI lokal. Walaupun dalam anggaran
dasarnya tidak terlihat adanya unsur politik, tapi dalam kegiatannya SI menaruh
perhatian besar terhadap unsur-unsur politik dan menentang ketidakadilan serta
penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Artinya SI memiliki jumlah
anggota yang banyak sehingga menimbulkan kekhawatiran pemerintah Belanda.
BAB III
BUDI
UTOMO
A.
Latar
Belakang Lahirnya Organisasi Budi Utomo di Indonesia
Budi
Utomo merupakan sebuah organisasi pelajar yang didirikan oleh Dr.Sutomo dan
para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding voor Inlandsche Arsten) yaitu
Goenawan, Dr.Cipto Mangoenkeosoemo dan Soeraji serta R.T Ario Tirtokusumo, yang
didirikan di Jakarta pada 20 Mei 1908. Organisasi ini bersifat sosial, ekonomi,
kebudayaan serta tidak bersifat politik.
Berdirinya
Budi Utomo tak bisa lepas dari peran Dr. Wahidin Sudirohusodo. Walaupun bukan
pendiri Budi Utomo, namun beliaulah yang telah menginspirasi Dr.Sutomo dan
kawan-kawan untuk mendirikan organisasi pergerakan nasional ini. Dr.Wahidin
Sudirohusodo sendiri adalah seorang alumni STOVIA yang sering berkeliling di
kota-kota besar di Pulau Jawa untuk mengkampanyekan gagasannya mengenai bantuan
dana bagi pelajar-pelajar pribumi berprestasi yang tidak mampu melanjutkan
sekolah. Gagasan ini akhirnya beliau kemukakan kepada pelajar-pelajar STOVIA di
Jakarta, dan ternyata mereka menyambut baik gagasan mengenai organisasi
tersebut dan dari sinilah awal perkembangan menuju keharmonisan bagi orang Jawa
dan Madura.
B. Tujuan Berdirinya Organisasi Budi
Utomo di Indonesia
Budi
utomo sebagai organisasi pelajar yang baru muncul ini, secara samar-samar
merumuskan tujuannya untuk kemajuan Hindia, dimana yang jangkauan gerak
semulanya hanya terbatas pada Pulau Jawa dan Madura yang kemudian diperluas
untuk penduduk Hindia seluruhnya dengan tidak memperhatikan perbedaan
keturunan, jenis kelamin dan agama. Namun dalam perkembangannya terdapat
perdebatan mengenai tujuan Budi Utomo, dimana Dr.Cipto Mangunkusumo yang
bercorak politik dan radikal, Dr.Radjiman Wedyodiningrat yang cenderung kurang
memperhatikan keduniawian serta Tirtokusumo (Bupati Karanganyar) yang lebih
banyak memperhatikan reaksi dari pemerintah kolonial dari pada memperhatikan
reaksi dari penduduk pribumi.
Setelah
perdebatan yang panjang, maka diputuskan bahwa jangkauan gerak Budi Utomo hanya
terbatas pada penduduk Jawa dan Madura dan tidak akan melibatkan diri dalam
kegiatan politik. Bidang kegiatan yang dipilihnya pendidikan dan budaya.
Pengetahuan bahasa Belanda mendapat prioritas utama, karena tanpa bahasa itu
seseorang tidak dapat mengharapakan kedudukan yang layak dalam jenjang
kepegawaian kolonial. Dengan demikian Budi Utomo cenderung untuk memejukan
pendidikan bagi golongan priyayi dari pada bagi penduduk pribumi pada umumnya.
Sebelumnya Budi Utomo berubah dari perjuangan untuk mempertahnkan penghidupan
menjadi kemajuan secara serasi. Hal ini menunjukkan pengaruh golongan tua yang
moderat dan golongan priyayi yang lebih mengutamakan jabatannya. (Marwati
Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto : 1984 : 178)
C.
Perkembangan Organisasi Budi Utomo di
Indonesia
Pancaran
eksistensi Budi Utomo di Indonesia dibuktikan dengan diadakannya konggresnya
yang pertama di Yogyakarta pada tanggal 3-5 Oktober 1908. Dalam waktu singkat
Budi Utomo mengalami perubahan orientasi. Kalau semula orientasinya terbatas
pada kalangan priyayi maka menurut edaran yang dimuat dalam Bataviaasch
Nieuwsblad tanggal 23 Juli 1908, Budi Utomo cabang Jakarta menekankan cara baru
bagaimana memperbaiki kehidupan rakyat.
Di
dalam konggres tersebut menghasilkan beberapa keputusan,sebagai berikut :
1. Tidak mengadakan kegiatan politik
2. Bidang utama adalah pendidikan dan
kebudayaan
3. Terbatas wilayah Jawa dan Madura
4. Mengangkat Raden Adipati Tirtokusumo
(Bupati Karanganyar) sebagai ketua Budi Utomo.
Semenjak
dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru BU yang
bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota
muda yang memilih untuk menyingkir. Dibawah kepengurusan generasi tua, kegiatan
Budi Utomo yang awalnya terpusat di bidang pendidikan, sosial, dan budaya,
akhirnya mulai bergeser di bidang politik. Strategi perjuangan BU juga ikut
berubah dari yang awalnya sangat menonjolkan sifat protonasionalisme menjadi
lebih kooperatif dengan pemerintah kolonial belanda.
Perkembangan
selanjutnya merupakan periode yang paling lamban bagi Budi Utomo. Aktivitasnya
hanya terbatas pada penerbitan majalah bulanan Goeroe Desa dan beberapa petisi,
yang di buatnya kepada pemerintah berhubung dengan usaha meninggikan mutu
sekolah menengah pertama. Tatkala kepemimpinan pengurus pusat makin melemah,
maka cabang-cabang BU melakukan aktivitas sendiri yang tidak banyak hasilnya.
Pemerintah yang mengawasi perkembangan BU sejak berdirinya, dengan penuh
perhatian dan harapan akhirnya menarik kesimpulan bahwa pengaruh BU terhadap
penduduk pribumi tidak begitu besar.
Pada
tahun 1912 terjadi pergantian pemimpin dari Tirtokusumo ke tangan Pangeran Noto
Dirodjo yang berusaha dengan sepenuh tenaga mengejar ketinggalan. Dengan ketua
yang baru itu,perkembangan Budi Utomo tidak begitu pesat lagi. Hasil-hasil yang
pertama di capainya yaitu perbaikan pengajaran di daerah kesultanan dan
kasunanan. Budi utomo mendirikan organisasi darmoworo. Tetapi hasilnya tidak
begitu pesat. Dalam masa kepemimpinannya terdapat dua organisasi nasional
lainnya yaitu syarekat Islam dan Indische Partij. Kedua partai tersebut
merupakan unsur-unsur yang tidak puas terhadap Budi Utomo.
Kekuatan
Budi Utomo kembali bangkit sejak mulai pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914.
Berdasarkan adanya kemungkinan intervemsi kekuasaan asing maka Budi Utomo
melancarkan isu pentingnya pertahanan sendiri dan yang pertama mengajukam
gagasan wajib militer pribumi. Diskusi yang terjadi berturut-turut dalam
pertemuan-pertemuan setempat justru menggeser perhatian rakyat dari soal wajib
militer kearah soal perwakilan rakyat, sehingga dikirimlah ebuah misi kenegri
Belanda oleh komite” Indie Weerbaar “ untuk pertahanan India dalam tahun
1916-1917 yang merupakan pertanda masa yang amat berhasil bagi Budi Utomo.
Daftar Pustaka
1.
Ahmad
mansyur suryanegara 2001, Api sejarah
jilid 1
2.
Suhartoto
2001, Sejarah pergerakan nasional dari budi utomo sampai proklamasi 1908-1945
Komentar
Posting Komentar